Posted by : Pena Biru Sabtu, November 09, 2013


            Sejak aku dilahirkan, aku tidak pernah memilihnya. Ia juga tidak pernah memilihku. Aku dan dia berjalan di atas takdir yang sama. Kami melewati beberapa cerita bersama. Tawa dan air mata  sudah menjadi satuan perasaan yang biasa kami lalui. Kini, sembilan belas tahun sudah kami bersama dan aku menginginkan waktu yang lebih lama dari waktu dunia untuk terus bersamanya.

Masa Dulu
       Cerita dulu yang tertinggal diingatanku tentangnya tidak terlalu banyak. Namun, hal yang sering kulakukan ketika dulu masih kanak-kanak adalah pergi ke tempat kerjanya sepulang aku sekolah. Aku menunggunya di kantor ketika ia mengajar, duduk di kursi pojok paling depan, bermain sendiri. Ketika istirahat, aku biasanya diajak ke kantin sekolah, jajan soto atau yang paling aku suka adalah main ke perpustakaan, baca-baca buku eksklopedia tentang binatang dan hewan-hewan dunia. Namun yang tak kusuka adalah melewati depan laboratoriumnya karena ada sebuah tengkorak di dalam peti kaca yang sangat menakutkan untukku waktu itu. Kebetulan ada sekolah ini berdekatan dengan waduk Cengklik, jadi terkadang mampir ke sana untuk melihat air dan juga dekat dengan bandara, yang terkadang kami berdua menunggu di pinggiran pagar besi hanya untuk melihat pesawat yang take off.
Tidak hanya di sekolah, aku sering mengikuti studi tour murid-muridnya. Di bis, aku banyak teman. Anak-anak SMP menjadi kakak-kakak yang baik waktu itu. Mereka menawarkan makanan, mengajakku foto, dann lain sebagainya. Kalau tentang piknik, di album photo banyak sekali cepretan-cepretan ketika aku piknik bersamanya yang sebenarnya aku tak ingat waktu itu. Seperti foto di tawangmangu dan di Parangtritis, aku tersenyum di sampingnya.
Aku tak bisa lepas darinya. Aku selalu ingin ikut kemanapun ia pergi. Bahkan pernah sekali saat di suatu masjid, saat aku berumur delapan tahun, aku berada di barisan jamaah laki-laki, tanpa jilbab, tanpa mukena, kemudian ikut sholat. Lucu,banyak yang memandangku, aneh, akh peduli apa, saat itu aku merengek benar-benar ingin sholat di sampingnya. Haha.
Itu sedikit cerita tentang masa kanak-kanakku yang menyenangkan yang aku lewati bersamanya. Ya, ia yang selalu siap setiap pagi untuk membantuku persiapan sekolah. Ya, ia yang selalu hadir setiap malam di meja belajarku untuk mengajariku ini itu. Ya, ia yang selalu siap sedia untukku.
            Ketika memasuki sekolah menengah, jika aku pergi bersama teman-temanku, entah ke manapun itu, ia selalu saja menitipkan salam untuk teman-temanku meskipun ia belum mengenal mereka. Saat teman-temanku datang berkunjung ke rumah, ia akan selalu ramah menyambut mereka, mengajak mereka ngobrol, dan membuat teman-temanku mengatakan kepadaku, “Wah,bapakmu lucu Put.” Tidak hanya itu, ketika aku di sms olehnya tercetus komentar,”Wah,bapakmu gaul Put.” Ya, ia selalu menjawab smsku dengan bahasa anak2 gaul. “Wah, baik banget.” Kata seorang temanku ketika sebuah sate diantarkan di perkemahan untuk kelompokku padahal saat itu hujan deras melanda dan ia dengan gagahnya membawa sebungkus sate untuk kami yang tengah kelaparan. Haha, aku senang sekali mendengar komentar mereka tentangnya.
            Semakin hari, aku mulai sibuk ini itu. Mulai dari sekolah, les, sampai organisasi. Namun, ia tetap setia mengantarkanku, menungguku pulang, dan menjemputku. Tak peduli jarak sekolahnya yang berlawanan arah jauh dari sekolahku, tak peduli hujan deras, ia selalu memenuhi waktu untukku.
Masa Kini
          Masa kini, tentu masa kuliah. Pada awal pemilihan universitas dulu, ia sama sekali tidak mengizinkanku mengambil yang di luar kota. Awalnya aku menolak tapi akhirnya semakin hari aku semakin mengerti bahwa kehadirannya kini sangat sangat sangat membantuku di kuliah, menjadi pemantik semangatku kala aku lelah dengan segenap guyonannya dan cerita-ceritanya.
Ia sering singgah di kamarku ketika aku berhadapan dengan kertas-kertas HVS putih di meja belajar, ia menceritakan murid-muridnya, atau hal yang ia alami, ataupun hanya menggodaku dan bercanda sejenak. Sering juga ia membawakanku segelas teh ke kamarku sembari mengatakan, ”Minum dulu, ini teh kasih sayang.” Pertama kali mendengar itu, aku langsung tertawa. Wah, bahkan seharusnya aku yang membuatkan teh untuknya, oh God.
            Saat aku pulang malam ataupun pulang pagi, aku terkadang masih melihatnya di depan tivi. Dengan mata yang sudah hampir seperempat, alias sudah ngantuk berat, ia tetap saja menungguku pulang. Dan ia selalu mengucapkan “alhamdulillah” ketika aku sampai rumah. Oh God, ia adalah benar-benar anugerah terindah. 

For my best father
Membuka lembar demi lembar album kenangan masa kecilku,
Membuatku mampu merasakan kenangan yang tak kuingat itu,
Saat kau gendong tubuh lemah ini di atas bantal bercover hijau,
Saat kau dekap dengan hangat diri ini di malam yang gelap,
Saat kau mengajariku bergaya di atas kendaraan tua,
Saat kau menatapku sewaktu aku tengah tertawa,
Saat kau membiarkan diri ini beraksi merengek di depan pintu,
Saat kau duduk merangkul pinggulku sembari tersenyum simpul,
Saat kau mengambil gambarku dengan ibu yang tengah mesra mencium pipiku,
Saat kau mengabadikanku duduk di batu-batu Tawangmangu,
Saat kau berdiri di samping kuda cokelat yang katamu kutakuti itu,
Saat kau mengajakku berpose bersama murid-muridmu di pesisir pantai Yogja,
Saat kau mendekapku dengan seragam hitam-hitam dan topi toga,
Saat kau di sampingku, bersama ibu, dan adikku….
Tapi tidak hanya dulu yang membahagiakan melewati hari-hari itu…
Sekarang pun ketika aku mampu mengingat, semua menyenangkan…
Kan kuingat semua tentangmu, ayah…
Terimakasih selalu menjaga dan memberikan segenap perhatianmu untukku..
Terimakasih atas setiap guyonan yang kau sugukan di tengah keluarga..
Terimakasih telah dengan sabar memaafkan setiap kesalahanku..
Terimakasih didikanmu hingga menjadikanku pribadi seperti saat ini…
Doaku, semoga aku ditakdirkan tetap bersamamu di kehidupan setelah dunia..

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -