Total Pageviews
Entri Populer
-
Rasanya masih sama, fana merah jambu yang kelabu… Pukul lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera k...
-
Sebelas derajat Celcius. Jaket tebal. Sambutan hangat. Teriakan jargon. Tolak angin yang habis. Absedon Solo. Hujan lembut di siang ha...
-
Someone ask me, why does farewell occurs in our life? “Farewell do not need understanding, but accepting…”
Followers
My Little Story Life
About Me
Categories
- Biologi (6)
- Coretanku (28)
- Islamic Center (9)
- Jalan-Jalan (11)
- Special Thing (19)
- Tentang malam (10)
Pages
Arafahku, Ismailku, dan Sabitku
--
Hari Arafah, Allah turun
langsung, menyapa hamba-Nya yang tengah melangitkan doa…
Pantas saja, agar kehadiran Allah
terasa sempurna, semua sandaran dunia fana ini ajaibnya dihilangkan. Hingga aku
menatap langit dengan kekosongan dan kehilangan. Katanya, kekosongan dan
kehilangan itu Allah akan gantikan dengan penuh lagi, penuh kedamaian yang
hanya bersumber dari kesempurnaan-Nya. Sudah lama sekali rasanya, merasakan jatuh
yang seperti ini, membuatku memang hanya merasa, tiada yang akan bertahan pada
akhirnya karena perjalanan hidup ini hanya tentang cerita diantara aku dan
Tuhanku, Allah.
Aku kehilangan sandaranku, aku
menyebut sandaran itu sebagai safe place, manusia-manusia ternyaman yang
biasa aku temui setiap harinya. Begitu menyenangkan hingga aku menghargai
waktuku bersama mereka. Lalu pada suatu badai, perlahan terpaksa melepaskan
tanganku dari genggaman mereka. Terasa
seperti musim dingin. Tidak ada matahari yang terlihat, meski tau ia masih ada
dibalik lapisan atmosfer itu, hanya tidak bisa kutemui lagi di antara kepingan stellar
dendrites, plates, dan needles yang jatuh membasah di lengan bajuku.
Arafahku, musim dinginku, disinilah
aku akan belajar satu kali lagi, tentang melepaskan, bukankah melepaskan juga
menjadi satu dari banyak cara-cara mencintai? Aku terdiam diakhir tanda tanya
itu.
--
Satu hari setelah Arafah, Ismail
pernah akan dikorbankan, kini semua tentang keikhlasan itu menjadi ujian
pengorbanan setiap manusia dalam menjalani kehidupan
Pantas saja, bagiku -kenyamanan,
jauh dari konflik, dan hanya ingin melewati hari-hari dengan versiku sendiri,-
ternyata adalah ismailku, yang menjadi ujianku. Aku melangkahkan kakiku di atas
salju yang menumpuk, aku tidak lupa bahwa aku sedang di musim dinginku. Aku
masih berjalan, berproses, dan merasakan semuanya dalam satu waktu, satu helaan
napas panjang, dan satu senyum dibalik hati yang mulai sedingin salju. Aku
tidak melangitkan doa meminta sesuatu yang akan aku sesali jika dikabulkan.
Maka, ijinkan aku hanya menunggu-Mu, Allah-ku, memberiku petunjuk.
Farighan, kosong, hampa,
tidak ada yang tersisa, dan Al-Quran tidak menyebutnya kurang Ikhlas.
Kekosongan bukan berarti berhenti merasa. Kehilangan bukan berarti tak ada rasa
yang tersisa. Katanya, Allah tidak menyuruh manusia yang bersedih hatinya untuk
segera baik-baik saja. Tidak perlu buru-buru untuk pulih, karena hati punya
banyak lapis-lapisnya. Allah tau semua cinta berasal dari-Nya, dan kehilangan
sesuatu, seseorang, atau apapun yang kita cintai, juga Allah akan tau betapa
beratnya. Allah berkata “Kembalilah kepada-Ku, ditengah dukamu, dengan versimu
apa adanya.”
Ismailku, semua bentuk
kenyamanan, membuatku tersadar, semua itu bukan sesuatu yang menetap lama,
manusia-manusia itu hanya teduh di kala hujan yang datang tiba-tiba saat terik.
--
Hari-hari berikutnya, aku
melanjutkan malam dengan menatap bulan di langit, sabit tetap menjadi aku,
apapun musimnya.
Aku tersenyum seperti sabit,
meskipun langit siang menyembunyikan matahari, tapi langit malam tetap
menampakkan bulannya di musim dingin yang terlalui. Tidak ada lagi pertanyaan,
aku tidak akan bertanya kenapa semua ini harus terjadi. Aku hanya akan menjadi
diriku, dengan segalaku, di sini, di malam di musim dingin. Sendiri, tanpa
merasa kesepian. Tidak perlu memenangkan apapun, bertahan satu hari aja sudah
luar biasa cukup untukku.
Aku tersenyum seperti sabit,
meskipun hanya kecil melengkung dan sedikit cahayanya, tak sesempurna purnama,
tapi ia tetap menakjubkan dengan versinya. Menjadi berbeda memang kadang
dianggap tak sempurna, tapi bagiku itu tidak apa-apa. Menjadi berbeda memang
tidak mudah, tapi bukan berarti menjadi seperti manusia lain adalah jawabannya.
Aku akan menikmati rasa menjadi berbeda ini, di badai apapun yang terjadi.
Sabitku, semua bentuk
ke-aku-anku, menjadi yang berbeda dan tidak sempurna, ia tetap kuanggap menakjubkan
di malam musim dingin yang panjang yang tak berkesudahan.
--
Fana Merah Jambu
Rasanya masih
sama, fana merah jambu yang kelabu…
Pukul
lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera
kembali pulang, pun aku, kamu, dan kita. Semua berubah menjadi apa adanya,
tidak ada keajaiban yang selamanya. Ia hanya sementara merembet lewat secuplik
kisah tak terekam manusia lain selain kita.
Hujan
tiba sesuai janjinya. Menderas bersama pancake yang kita nikmati berdua. Sebentar saja, setelah itu, punggungnya membasah karenaku. Ucapku, tidak ada lagi
selain meninggalkan atau ditinggalkan. Pun
kamu, melebur bersama waktu tanpa ucapan selamat tinggal.
Aku
berlari ke arah matahari menenggelamkan diri. Bersama serangkaian kereta kata
yang hanya melaju tanpa pemberhentian. Hei, doaku mengangkasa. Semoga bahagiamu
tidak pernah padam. Sudah saatnya puing ini terselesaikan, begitu juga dengan
tanya, tapi tidak pernah ada.
Langkah
ini memantrai diri. Bahwa fana merah jambu tetap menjadi sama meski waktu telah
menjadi lama. Pun meski lagu ini mengizinkanku memilih untuk tertawa dan
berdansa, tapi aku sering lelah menyibukkan diri untuk memandangi langit kala itu yang penuh
warna. Terimakasih, sudah pernah jatuh untuk senyumku.
Membuka Jendela Kurikulum Merdeka
“Menurut
bapak ibu, apa itu kurikulum merdeka?”
Sebuah
pertanyaan dari bapak narasumber menjadi pembuka perbincangan pagi ini. Beberapa
guru mengangkat tangan, mengekspresikan jawabannya, inti jawaban mereka adalah kurikulum
merdeka itu memerdekakan siswa, bukan guru, karena guru nanti tugasnya lebih
banyak menyiapkan berbagai perangkat sehingga tidak bisa dikatakan merdeka
untuk guru.
Bapak
narasumber itu tersenyum, memberikan sebuah gambaran hamster yang berlari
kencang diputaran kandangnya. Sama seperti guru yang tidak mau berubah, guru
merasa berlari padahal tidak ke mana-mana. Kurikulum merdeka menjadi satu
awalan baik agar guru bisa berlari kencang mencapai berbagai macam tujuan.
“Kurikulum 2013
itu seperti kurang bermakna karena judulnya 2013 terekam di mindset kita,
sedangkan kurikulum merdeka nanti yang terekam adalah kata merdeka-nya dalam mindset
kita.” Bapak narasumber mengingatkan kepada guru agar guru memberikan pembelajaran
yang menyenangkan di kelas sekaligus bermakna. Bukan hanya haha hihi tapi siswa
tidak tau apa-apa, tapi pembelajaran kreatif “learning by doing” yang bermakna.
Pengalaman
bapak narasumber yang luar biasa ini mulai diurai dari awalan kurikulum merdeka
yang menjadikan bapak KH Dewantoro sebagai panutan sesungguhnya. Beliau mengatakan
bahwa ketika berkunjung ke Findlandia, negara yang populer dengan pendidikan
nomer satunya, menjadikan pendidikan KH. Dewantoro sebagai salah satu dasarnya.
Buku-buku KH.Dewantoro ada di perpus mereka. Sedangkan orang Indo sendiri
bahkan belum mengimplementasikannya.
“Pada
kurikulum merdeka ada 3 penilaian, yaitu assessment diagnostic, assessment sumatif,
dan assessment formatif.” Bapak narasumber melanjutkan pembahasan kurikulum
merdeka.
Assessment
diagnostic dilakukan oleh guru BK untuk mengidentifikasi kebiasaan dan karakter
anak selama belajar. Terdapat 3 contoh tes diagnostic, yaitu tes diagnostic kecerdasan
majemuk, tes identifikasi otak kanan-kiri, hingga tes identfikasi gaya belajar.
Hal ini urgen dilakukan sebelum memulai pembelajaran agar guru tidak
malpraktek. Jika dalam satu kelas itu diajar dengan metode yang sama tanpa
adanya identifikasi awal dari kemampuan siswa, maka pastilah itu tidak akan
membuahkan hasil belajar yang maksimal.
Contohnya
jika anak dalam satu kelas sudah diidentifikasi dengan tes gaya belajar, maka akan
ada 3 kelompok yakni kelompok audio, visual, dan kinestetik. Jadi guru harus
menerangkan satu materi dengan befokus untuk memfasilitasi ketiga kelompok tersebut,
misalnya menjelaskan secara lisan untuk kelompok audio, kemudian menjelaskan
dengan gambar atau video untuk kelompok visual, dan “by doing” untuk kelompok
kinestetik.
Assessment
sumatif dan formatif dilakukan oleh guru mapel untuk mengukur pengetauan dan
ketrampilan siswa. Salah satunya adalah UH, jika satu kelas tadi ada 3 kelompok
siswa based on gaya belajarnya maka UH yang dilakukan juga dibagi menjadi 3 berdasarkan
kelompok tersebut. Contohnya soal bentuknya narasi untuk kelompok audio, soal
bentuknya banyak gambarnya untuk kelompok visual, dan soal bentuknya prosedur
untuk yang kinestetik.
“Kurikulum
merdeka itu anak harus banyak melakukan project.” Bapak narasumber mulai mengenalkan
berbagai macam project yang telah dilakukan di sekolahnya selama setahun
kemarin.
Project mapel
Ini adalah project
yang dilakukan guru mapel yang saling berkolaborasi. Bapak narasumber mencontohkan
tentang kolaborasi project guru biologi, fisika, dan kimia dalam pembuatan aquascape.
Jadi pembuatan aquascape ini membutuhkan konsep biologi dalam perawatan biota
(ikan), kemudian membutuhkan konsep fisika untuk kelistrikannya, dan membutuhkan
konsep kimia terkait pHnya. Project mapel ini minimal 2 guru dan maksimal 4
guru. Pada awal pembelajaran guru-guru diminta presentasi untuk rencana
projectnya dan ingin berkolaborasi dengan guru mapel apa, nanti diskusi, jika
cocok maka jadi. Pameran project
dilakukan 2x setahun.
Project
profil pelajar Pancasila
Ini adalah
project yang tidak berkaitan dengan mapel tertentu tapi bertema sesuai yang
telah dicontohkan. Bapak narasumber mencontohkan tentang tema “gaya hidup
berkelanjutan” dengan 2 pilihan project bagi siswa. Salah satu pilihan
projectnya adalah menanam tanaman sayur, merawatnya, dan mengonsumsinya
(dimasak ketika pameran). Pameran dilakukan 3x setahun.
Sekiranya
begitulah intipan jendela kurikulum merdeka dari bapak narasumber yang sangat
menginspirasi dan memotivasi. Semoga guru-guru bisa memasuki rumah kurikulum
merdeka dengan nyaman dengan segala bentuk perangkat yang ada didalamnya.
Selamat mengajar guru-guru merdeka!












