Total Pageviews

Entri Populer

Followers

My Little Story Life

Secuil cerita yang tertulis akan lebih berarti jika dibagi daripada hanya menyimpannya sendiri :)
Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Arafahku, Ismailku, dan Sabitku

 



--

Hari Arafah, Allah turun langsung, menyapa hamba-Nya yang tengah melangitkan doa…


Pantas saja, agar kehadiran Allah terasa sempurna, semua sandaran dunia fana ini ajaibnya dihilangkan. Hingga aku menatap langit dengan kekosongan dan kehilangan. Katanya, kekosongan dan kehilangan itu Allah akan gantikan dengan penuh lagi, penuh kedamaian yang hanya bersumber dari kesempurnaan-Nya. Sudah lama sekali rasanya, merasakan jatuh yang seperti ini, membuatku memang hanya merasa, tiada yang akan bertahan pada akhirnya karena perjalanan hidup ini hanya tentang cerita diantara aku dan Tuhanku, Allah.


Aku kehilangan sandaranku, aku menyebut sandaran itu sebagai safe place, manusia-manusia ternyaman yang biasa aku temui setiap harinya. Begitu menyenangkan hingga aku menghargai waktuku bersama mereka. Lalu pada suatu badai, perlahan terpaksa melepaskan tanganku dari genggaman mereka.  Terasa seperti musim dingin. Tidak ada matahari yang terlihat, meski tau ia masih ada dibalik lapisan atmosfer itu, hanya tidak bisa kutemui lagi di antara kepingan stellar dendrites, plates, dan needles yang jatuh membasah di lengan bajuku.


Arafahku, musim dinginku, disinilah aku akan belajar satu kali lagi, tentang melepaskan, bukankah melepaskan juga menjadi satu dari banyak cara-cara mencintai? Aku terdiam diakhir tanda tanya itu.


--

Satu hari setelah Arafah, Ismail pernah akan dikorbankan, kini semua tentang keikhlasan itu menjadi ujian pengorbanan setiap manusia dalam menjalani kehidupan


Pantas saja, bagiku -kenyamanan, jauh dari konflik, dan hanya ingin melewati hari-hari dengan versiku sendiri,- ternyata adalah ismailku, yang menjadi ujianku. Aku melangkahkan kakiku di atas salju yang menumpuk, aku tidak lupa bahwa aku sedang di musim dinginku. Aku masih berjalan, berproses, dan merasakan semuanya dalam satu waktu, satu helaan napas panjang, dan satu senyum dibalik hati yang mulai sedingin salju. Aku tidak melangitkan doa meminta sesuatu yang akan aku sesali jika dikabulkan. Maka, ijinkan aku hanya menunggu-Mu, Allah-ku, memberiku petunjuk.


Farighan, kosong, hampa, tidak ada yang tersisa, dan Al-Quran tidak menyebutnya kurang Ikhlas. Kekosongan bukan berarti berhenti merasa. Kehilangan bukan berarti tak ada rasa yang tersisa. Katanya, Allah tidak menyuruh manusia yang bersedih hatinya untuk segera baik-baik saja. Tidak perlu buru-buru untuk pulih, karena hati punya banyak lapis-lapisnya. Allah tau semua cinta berasal dari-Nya, dan kehilangan sesuatu, seseorang, atau apapun yang kita cintai, juga Allah akan tau betapa beratnya. Allah berkata “Kembalilah kepada-Ku, ditengah dukamu, dengan versimu apa adanya.”


Ismailku, semua bentuk kenyamanan, membuatku tersadar, semua itu bukan sesuatu yang menetap lama, manusia-manusia itu hanya teduh di kala hujan yang datang tiba-tiba saat terik.


--

Hari-hari berikutnya, aku melanjutkan malam dengan menatap bulan di langit, sabit tetap menjadi aku, apapun musimnya.


Aku tersenyum seperti sabit, meskipun langit siang menyembunyikan matahari, tapi langit malam tetap menampakkan bulannya di musim dingin yang terlalui. Tidak ada lagi pertanyaan, aku tidak akan bertanya kenapa semua ini harus terjadi. Aku hanya akan menjadi diriku, dengan segalaku, di sini, di malam di musim dingin. Sendiri, tanpa merasa kesepian. Tidak perlu memenangkan apapun, bertahan satu hari aja sudah luar biasa cukup untukku.


Aku tersenyum seperti sabit, meskipun hanya kecil melengkung dan sedikit cahayanya, tak sesempurna purnama, tapi ia tetap menakjubkan dengan versinya. Menjadi berbeda memang kadang dianggap tak sempurna, tapi bagiku itu tidak apa-apa. Menjadi berbeda memang tidak mudah, tapi bukan berarti menjadi seperti manusia lain adalah jawabannya. Aku akan menikmati rasa menjadi berbeda ini, di badai apapun yang terjadi.


Sabitku, semua bentuk ke-aku-anku, menjadi yang berbeda dan tidak sempurna, ia tetap kuanggap menakjubkan di malam musim dingin yang panjang yang tak berkesudahan.


--

Tag : ,

Fana Merah Jambu

 


Rasanya masih sama, fana merah jambu yang kelabu…

 

Pukul lima tiba, seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan harus segera kembali pulang, pun aku, kamu, dan kita. Semua berubah menjadi apa adanya, tidak ada keajaiban yang selamanya. Ia hanya sementara merembet lewat secuplik kisah tak terekam manusia lain selain kita.

Hujan tiba sesuai janjinya. Menderas bersama pancake yang kita nikmati berdua. Sebentar saja, setelah itu, punggungnya membasah karenaku. Ucapku, tidak ada lagi selain meninggalkan atau ditinggalkan. Pun kamu, melebur bersama waktu tanpa ucapan selamat tinggal.

Aku berlari ke arah matahari menenggelamkan diri. Bersama serangkaian kereta kata yang hanya melaju tanpa pemberhentian. Hei, doaku mengangkasa. Semoga bahagiamu tidak pernah padam. Sudah saatnya puing ini terselesaikan, begitu juga dengan tanya, tapi tidak pernah ada.

Langkah ini memantrai diri. Bahwa fana merah jambu tetap menjadi sama meski waktu telah menjadi lama. Pun meski lagu ini mengizinkanku memilih untuk tertawa dan berdansa, tapi aku sering lelah menyibukkan diri untuk memandangi langit kala itu yang penuh warna. Terimakasih, sudah pernah jatuh untuk senyumku.

Membuka Jendela Kurikulum Merdeka

 


“Menurut bapak ibu, apa itu kurikulum merdeka?”


Sebuah pertanyaan dari bapak narasumber menjadi pembuka perbincangan pagi ini. Beberapa guru mengangkat tangan, mengekspresikan jawabannya, inti jawaban mereka adalah kurikulum merdeka itu memerdekakan siswa, bukan guru, karena guru nanti tugasnya lebih banyak menyiapkan berbagai perangkat sehingga tidak bisa dikatakan merdeka untuk guru.


Bapak narasumber itu tersenyum, memberikan sebuah gambaran hamster yang berlari kencang diputaran kandangnya. Sama seperti guru yang tidak mau berubah, guru merasa berlari padahal tidak ke mana-mana. Kurikulum merdeka menjadi satu awalan baik agar guru bisa berlari kencang mencapai berbagai macam tujuan.


“Kurikulum 2013 itu seperti kurang bermakna karena judulnya 2013 terekam di mindset kita, sedangkan kurikulum merdeka nanti yang terekam adalah kata merdeka-nya dalam mindset kita.” Bapak narasumber mengingatkan kepada guru agar guru memberikan pembelajaran yang menyenangkan di kelas sekaligus bermakna. Bukan hanya haha hihi tapi siswa tidak tau apa-apa, tapi pembelajaran kreatif “learning by doing” yang bermakna.


Pengalaman bapak narasumber yang luar biasa ini mulai diurai dari awalan kurikulum merdeka yang menjadikan bapak KH Dewantoro sebagai panutan sesungguhnya. Beliau mengatakan bahwa ketika berkunjung ke Findlandia, negara yang populer dengan pendidikan nomer satunya, menjadikan pendidikan KH. Dewantoro sebagai salah satu dasarnya. Buku-buku KH.Dewantoro ada di perpus mereka. Sedangkan orang Indo sendiri bahkan belum mengimplementasikannya.


“Pada kurikulum merdeka ada 3 penilaian, yaitu assessment diagnostic, assessment sumatif, dan assessment formatif.” Bapak narasumber melanjutkan pembahasan kurikulum merdeka.


Assessment diagnostic dilakukan oleh guru BK untuk mengidentifikasi kebiasaan dan karakter anak selama belajar. Terdapat 3 contoh tes diagnostic, yaitu tes diagnostic kecerdasan majemuk, tes identifikasi otak kanan-kiri, hingga tes identfikasi gaya belajar. Hal ini urgen dilakukan sebelum memulai pembelajaran agar guru tidak malpraktek. Jika dalam satu kelas itu diajar dengan metode yang sama tanpa adanya identifikasi awal dari kemampuan siswa, maka pastilah itu tidak akan membuahkan hasil belajar yang maksimal.


Contohnya jika anak dalam satu kelas sudah diidentifikasi dengan tes gaya belajar, maka akan ada 3 kelompok yakni kelompok audio, visual, dan kinestetik. Jadi guru harus menerangkan satu materi dengan befokus untuk memfasilitasi ketiga kelompok tersebut, misalnya menjelaskan secara lisan untuk kelompok audio, kemudian menjelaskan dengan gambar atau video untuk kelompok visual, dan “by doing” untuk kelompok kinestetik.


Assessment sumatif dan formatif dilakukan oleh guru mapel untuk mengukur pengetauan dan ketrampilan siswa. Salah satunya adalah UH, jika satu kelas tadi ada 3 kelompok siswa based on gaya belajarnya maka UH yang dilakukan juga dibagi menjadi 3 berdasarkan kelompok tersebut. Contohnya soal bentuknya narasi untuk kelompok audio, soal bentuknya banyak gambarnya untuk kelompok visual, dan soal bentuknya prosedur untuk yang kinestetik.


“Kurikulum merdeka itu anak harus banyak melakukan project.” Bapak narasumber mulai mengenalkan berbagai macam project yang telah dilakukan di sekolahnya selama setahun kemarin.


Project mapel


Ini adalah project yang dilakukan guru mapel yang saling berkolaborasi. Bapak narasumber mencontohkan tentang kolaborasi project guru biologi, fisika, dan kimia dalam pembuatan aquascape. Jadi pembuatan aquascape ini membutuhkan konsep biologi dalam perawatan biota (ikan), kemudian membutuhkan konsep fisika untuk kelistrikannya, dan membutuhkan konsep kimia terkait pHnya. Project mapel ini minimal 2 guru dan maksimal 4 guru. Pada awal pembelajaran guru-guru diminta presentasi untuk rencana projectnya dan ingin berkolaborasi dengan guru mapel apa, nanti diskusi, jika cocok maka jadi.  Pameran project dilakukan 2x setahun.


Project profil pelajar Pancasila


Ini adalah project yang tidak berkaitan dengan mapel tertentu tapi bertema sesuai yang telah dicontohkan. Bapak narasumber mencontohkan tentang tema “gaya hidup berkelanjutan” dengan 2 pilihan project bagi siswa. Salah satu pilihan projectnya adalah menanam tanaman sayur, merawatnya, dan mengonsumsinya (dimasak ketika pameran). Pameran dilakukan 3x setahun.


Sekiranya begitulah intipan jendela kurikulum merdeka dari bapak narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi. Semoga guru-guru bisa memasuki rumah kurikulum merdeka dengan nyaman dengan segala bentuk perangkat yang ada didalamnya. Selamat mengajar guru-guru merdeka!

Bandungan : Negeri Zona Nyaman



“Berawal dari tatap, indah senyummu memikat, memikat hatiku yang lara, senyum membawa tawa, tawa membawa cerita, cerita kasih indah tentang kita.” Sebuah alunan nada-nada Yura Yunita menandaku pada sebuah soundtrack yang kini terputar setiap harinya. Mengiringi langkahmu dan langkahku diantara gerimis yang dibawa separuh awan di negeri zona nyaman Bandungan. Terkadang apa yang tak kita sangka boleh jadi adalah anugerah dari rahasia jalan takdir manusia di bumi-Nya. Meski tak melulu soal bahagia, setidaknya jalan satu-satunya manusia hanya menjalani segala ketetapan-Nya.
Tag : ,

MEMAKNAI ASMAUL HUSNA




Ustadz Hanan Attaki
and Shift
presents....

Pernah unfollow someone? ngedelcon dia? atau nggak baca WA lama banget dengan sengaja? ternyata ada juga dijaman nabi rasa sebel dirasain para sahabat nabi. Terus pertanyaannya gimana cara ngobatinnya rasa rasa nggak nyaman dihati? and berapa lama untuk recovery?

Hujan yang Sumbang



Aku mendengarnya, rintik-rintik dari luar jendela. Membasah latar rumah yang sebelumnya penuh dengan daun-daun kering. Hujan pertama, membuat mata-mata berbinar karena telah menantinya agar menghapuskan kemarau yang dingin. Atau mata-mata yang hanya meliriknya sebentar, lalu tidak menganggap istimewa, hujan datang, musim berganti, begitu sederhananya. Bagiku, hujanpun tidak sempurna, kadang merdu, banyak sumbang, mengiringi sempurna-Nya yang memandang ngeri aku yang berjalan di bumi.
Tag : ,

Musim Semi



Busan berwarna merah muda. Langit yang berawan memayungi langkah-langkah yang berjalan lambat diantara gedung-gedung yang mengangkasa. Lagu-lagu pengiring merekahnya bunga terputar di berbagai chanel musik, baik lagu ceria hingga Goodbye-nya Chen. April ini, kan kubagi sedikit cerita meski itu tidak menjadi perhatian bagi beberapa manusia. Aku hanya ingin menuliskannya, jika Anda tidak suka Korea, maka Anda punya pilihan untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini tapi bukankah yang namanya belajar boleh jadi didapat dari apa yang tidak kamu suka?

NITIJEN



Istilah nitijen pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Masyarakat digital ini memang suka komen di media sosial para tokoh publik. Kesannya pun jadi jelek, banyak komentar negative yang diutarakan nitijen di ruang yang membuat mereka bebas mengekspresikan apa saja, semau udelnya, tanpa ampun. Alih-alih mengkritik, banyak nitijen yang malah jadi bikin panas orang-orang yang hanya mampir untuk sebatas membaca, istilahnya kita jadi ikut kepercik api yang lagi membara.
Tag : ,

Narablog: Menginspirasi Pembaca Lewat Cerita


(sumber: dokumentasi pribadi)

Belajar itu tidak memandang besar atau kecilnya sesuatu. Kita bukan hanya belajar melalui guru, tapi kita bisa belajar dari koloni semut yang berjalan merayap di dinding, atau belajar dari metamorfosa ulat menjijikan yang berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Pun kita bisa belajar dari beragam tulisan yang kadang tidak sengaja muncul dari sebuah blog ketika kita menuliskan kata kunci pada mesin pencarian.
Tag : ,

Hidup



Hidupmu sama indahnya dengan orang lain. Hidupmu sama beratnya dengan orang lain. Jangan pernah membandingkan indah dan beratnya, itu sudah ada yang menakar, jadi sesuai dengan porsi kita, tidak akan membuat kita kelaparan atau kekenyangan, pas. Tapi membuat cara pikir kita bahwa segalanya sudah yang paling pas itu tidaklah mudah, butuh proses, butuh waktu. Hingga kita tau dan menerima bahwa inilah jatah pas hidup kita.
Tag : ,

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -