Posted by : Pena Biru Senin, November 18, 2013



            Di antara rintik hujan yang mengguyur, aku turun dari kereta  dan segera  menuju pintu selatan Tugu.  Sebentar lagi malam minggu, aku ingin sejenak bersantai, meninggalkan rutinitas sementara, dan melepas rindu kepada adik sepupuku yang kuliah di Yogyakarta.
            Pukul 17.20 WIB, aku menjumpai Kharis, adik sepupuku yang sudah setengah jam lalu menungguku dan berdiri bersama penjemput penumpang lainnya tepat di depan pintu selatan stasiun Tugu. Di bawah naungan payung, kami berjalan meninggalkan Stasiun Tugu menuju jalanan panjang yang pastinya sudah sangat populer. Jalanan ini dipenuhi aneka macam cindera mata khas Yogyakarta. Di antara lorong-lorong sempit, banyak pedagang yang membuka lapak mereka dan menawarkan barang kepada siapa saja yang lewat. Mulai dari kaos oblong berlabel Yogjakarta, Sandal kayu khas Yogjakarta, pernak-pernik accecoris, aneka jajanan seperti bakpia dan kawan-kawannya, semua lengkap di sini, di sepanjang jalan yang dikenal dengan sebutan Malioboro. Ya, malioboro, sebuah tempat yang tak pernah sepi pengunjung, baik pengunjung lokal, pengunjung luar Daerah, sampai turis-turis asing.
            Terdengar adzan magrib menggema, segera kami memasuki gang kecil yang memuat papan penunjuk jalan bertulis Mushola. Di mushola kecil yang cukup mewah ini, tampak beberapa pengunjung dan pedagang berbaur untuk sholat bersama, cukup padat jamaah sholatnya. Aku teringat beberapa tahun lalu ternyata aku pernah juga singgah di mushola kecil ini. Ya, kira-kira dua atau tiga tahun lalu, dalam rintik yang sama, tetapi teman singgah yang berbeda, mushola kecil ini menjadi bagian dari kenanganku tentang Malioboro.
        Selesai sholat, langit masih berair, dan hawa dingin di sini cukup membuatku merapatkan erat jaketku. Malioboro kini tampak terang dan meriah dengan lampu-lampu jalanan yang menyala. Di setengah badan jalan yang berbatas, pengemudi Andhong masih dengan setia menunggu calon penumpang yang tertarik menggunakan jasa kuda yang bergerak menarik kereta tanpa mesin ini. Andhong menjadi alternatif pilihan untuk menikmati jalanan Malioboro yang selalu padat pengunjung tanpa harus lelah berdesak-desakan dan juga sekaligus merasakan pengalaman baru untuk naik transportasi kuno. Ditambah pengemudi Andhong yang biasa di sebut kusir itu memakai blankon dan beskap, lengkap sudah nuasa tradisional yang tercipta.

            Tak hanya Andhong, barisan becak juga terparkir berdekatan dengan Andhong. Kata pemilik becak yang berkoar-koar kepada setiap pengunjung, hanya dengan 5000 Rupiah, pengunjung akan dibawa menyusuri jalanan Malioboro. Tak perlu takut ketika hujan, becak menyediakan transportasi bebas air karena dilengkapi plastik yang menyelimuti badan becak,hhi. Beberapa pengunjung memang tertarik untuk naik becak tetapi lebih banyak yang memilih berjalan di trotoar, bercengkrama dengan sesama teman maupun keluarga sembari menikmati segala hal yang disuguhkan Malioboro.
            Tak mau kembali tanpa buah tangan, aku melirik kaos oblong di salah satu lapak pedagang. Kaos couple bertuliskan jogja akan menjadi kaos untukku dan adikku. Seusai membeli kaos, aku kembali melanjutkan jalan-jalan kali ini. Banyak sekali pilihan jika ingin membeli di sini. Tinggal disesuaikan saja dengan uang bawaan dan kemampuan untuk menawar.  Imitasi sepeda tua yang terbuat dari kayu adalah salah satu yang menarik perhatianku karena menurutku unik dan nyeni banget pokoknya.
            Satu yang tak bisa lepas dari Malioboro adalah batik. Batik yang menjadi warisan leluhur Indonesia dijual dari tingkat harga termurah sampai batk elite yang ratusan ribu rupiah. Di lapak-lapak pedagang ini baju batik dengan berbagai motif terpadupadankan dengan warna-warna yang cerah dan apik. Tak ketinggalan, tas-tas berbatik dan wadah laptop yang menggunakan kain batik juga sudah tak sulit lagi di dapatkan di sini.
            Bakpia bakpia.... Aku suka bakpia, bukan yang rasa kacang hijau, tapi rasa keju. Paduan rasa tradisional dan rasa modern bercampur menjadi bakpia lezat yang menggugah selera. Aku sudah punya tempat langganan untuk bakpia keju ini. Yummy. Sebenarnya tidak hanya keju, bakpia rasa buah-buahan seperti nangka, durian, strawberry dan lain sebagainya sudah banyak menjamur sebagai hasil kreativitas untuk menaikkan daya jual si bakpia ini.


            Sebelum pukul tujuh malam, gerimis berhenti, dan aku mencari sesuatu yang biasa kucari setiap malam, dan lihatlah sebuah bulatan dengan cahaya putih menerobos gelapnya mendung terlihat dari sini. Cantik, melengkapi malam mingguku kali ini. Ya, malam mingguku di Malioboro, di tempat yang sempurna kunikmati. 


Especially thanks to Kharis, 17-11-2013 :)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -