Posted by : Pena Biru Kamis, Oktober 25, 2018



Hidupmu sama indahnya dengan orang lain. Hidupmu sama beratnya dengan orang lain. Jangan pernah membandingkan indah dan beratnya, itu sudah ada yang menakar, jadi sesuai dengan porsi kita, tidak akan membuat kita kelaparan atau kekenyangan, pas. Tapi membuat cara pikir kita bahwa segalanya sudah yang paling pas itu tidaklah mudah, butuh proses, butuh waktu. Hingga kita tau dan menerima bahwa inilah jatah pas hidup kita.


Manusia hidup dengan sebuah pola umum. Pola umum ini bisa berkembang menurut apa yang dipahami sebagai sesuatu yang baik dan seharusnya terjadi dalam hidup. Mulai dari manusia itu belajar merangkak di tanah hingga ia kembali bersemayam di tanah, sudah ada pola umum yang menuntutnya hidup di dunia yang seperti apa. Dunia yang sama dengan manusia lainnya memaksa sebuah pemahaman yang harus dijadikan persepsi terbaik tak peduli apa.
Pola umum itu contohnya pandangan terkait sesuatu seperti anak balita harusnya bicara pada usia sekian,; anak sekolah haruslah pintar, mendapatkan nilai bagus, dan lulus; mahasiswa harusnya menyelesaikan studinya tepat waktu; lalu setelah lulus harusnya mendapatkan pekerjaan cepat; menikah, punya anak, cucu, hidup dengan harta banyak di usia tua; dan mati dengan damai. Manusia begitu pintar membuat pola umum dan meniadakan deviasi yang kadang terjadi dalam hidup.
Jika pada bagian masyarakat manusia itu ada anak yang terlambat bicara, ada siswa yang tidak lulus, ada mahasiswa yang terlambat atau berhenti menyelesaikan studi, ada yang tidak bekerja alias pengangguran, ada pernikahan yang selesai alias perceraian, ada harta yang tidak pernah cukup alias fakir, maka itu bukan persoalan dengan pola beralasan yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Kebanyakan manusia menganggap kesemua itu sebagai sebuah kegagalan hidup.
Everything happens for a reason. Ada alasan disetiap kejadian kehidupan. Alasan yang tidak pantas untuk dinilai macam-macam oleh banyak manusia. Manusia lain yang tinggal di dekatmu hanya mampu berkomentar lewat apa yang dilihat mata. Manusia yang tidak memahami apa yang mereka sebut dengan kegagalan kehidupan itu sebagai suatu kenischayaan yang lain dalam hidup, adalah mereka yang tidak pernah merasakannya. Jangan menjelaskan kepada mereka jika kamu salah satu dari sekian contoh itu, sia-sia. Manusia hidup dengan cara pandang yang berbeda.
Ada dua tipe manusia menurutku, tipe satu adalah manusia yang sangat peduli tentang bagaimana ia dilihat di masyarakat manusia itu dan dua adalah manusia yang tidak peduli dengan persepsi yang tumbuh di masyarakat. Mungkin aku manusia tipe dua, tapi bukan berarti antisosial, aku butuh manusia lain. Titik bedanya hanya pada apa yang aku lakukan tidaklah berpikir tentang pandangan mereka terhadapku. Baik dan buruk hanya kuukur berdasarkan standarku sebagai manusia ber-Tuhan, bukan menuhankan pandangan masyarakat.
Aku hidup bukan untuk memenuhi tuntutan pola umum masyarakat manusia. Aku dan cara pikirku yang menurut manusia lain tidaklah umum dipandang sebagai sesuatu yang upnormal. Aku pernah melakukan sesuatu seperti manusia normal lainnya dengan alasan yang mengikuti alasan mereka pada umumnya. Aku berpikir bahwa aku mencoba melakukan hal seperti mereka dan menanamkan mindset bahwa aku akan baik baik saja. Akibatnya, sangat fatal karena aku tidak nyaman bahkan tidak bahagia melakukannya.
Aku sadar bahwa kenyamanan dan kebahagian hidup ada di dalam diri masing-masing manusia itu sendiri. Bagiku, ada variabel yang harus dipenuhi untuk mewujudkan itu. Jika ibarat biji adalah sebuah kebahagiaan maka ia perlu variabel air untuk menumbuhkannya menjadi tumbuhan yang hidup yang lebih besar. Setiap manusia memiliki variabel yang berbeda untuk menumbuhkan kebahagiaan dalam hidupnya. Jadi aku akan hidup dengan caraku, dengan segala cara pandangku, dengan keunikanku, dengan keabnormalanku. Aku akan hidup dengan alasan yang bisa aku terima untuk melakukan sesuatu.
Pola umum mengandung kebaikan, tapi pola khusus yang sering disebut keabnormalan pun boleh jadi tak perlu dinilai sebagai sesuatu yang tanpa kebaikan. Tidak ada pola yang salah selama masih ada di jalan Tuhan. Meski kebanyakan manusia tidak memahami pola khusus, jangan pernah ragu menjadi unik dan berbeda jika itu bisa membuatmu bahagia. Tujuan manusia itu sama, yaitu berakhir di JannahNya meski jalan yang dilalui ada seribu cabangnya. Penilaian terpenting itu ada di tangan Tuhan. You only life once, use it well, be your self.




Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -