Posted by : Pena Biru Minggu, November 03, 2019



“Berawal dari tatap, indah senyummu memikat, memikat hatiku yang lara, senyum membawa tawa, tawa membawa cerita, cerita kasih indah tentang kita.” Sebuah alunan nada-nada Yura Yunita menandaku pada sebuah soundtrack yang kini terputar setiap harinya. Mengiringi langkahmu dan langkahku diantara gerimis yang dibawa separuh awan di negeri zona nyaman Bandungan. Terkadang apa yang tak kita sangka boleh jadi adalah anugerah dari rahasia jalan takdir manusia di bumi-Nya. Meski tak melulu soal bahagia, setidaknya jalan satu-satunya manusia hanya menjalani segala ketetapan-Nya.


Kabut putih masih menyelimuti, lalu lintas jalan tak begitu padat. Jalan mulai menanjak dan berbelok. Aku mulai merapatkan jaketku, melirik kanan dan kiri yang penuh dengan bunga-bunga, pohon pinus dan cemara.  Akhirnya mobil berbelok ke sebuah penginapan di Bandungan. Aku bertugas delapan belas hari ke depan, katanya sebuah pelatihan, bagiku hanya semacam fase kewajiban. Aku menaruh barang-barangku di kamar, lalu menikmati pagi yang terlalu pagi di sini.
Matahari mulai meninggi, beberapa teman datang merapat, berkenalanlah aku satu per satu. Orang-orang baru, karakter-karakter baru, hingga kisah yang baru. Kunikmati dengan senyumku ketika jadwal delapan belas hari kedapan berada di tanganku. Bersama empat puluh orang inilah, aku belajar banyak hal di dalam kelas. Mereka semua orang hebat dan para akademisi yang kece. Awalnya sempat terjadi perdebatan para akademisi ini untuk memutuskan sebuah yel-yel. Aku tidak usul apapun, bukan tidak punya, hanya agar teredam kedamaian dan kenyamanan semesta Bandungan agar cepat selesailah perdebatan itu, hehe.
Awal yang masih terlalu kaku dan lugu, kelompokku menemui persimpangan dan jalan buntu. Apalagi ketika dihadapkan pada beberapa kegiatan yang menekankan kelompok akan sebuah kebersamaan, baik yel-yel dan lomba-lomba yang lain. Namun, gejolak itulah yang membawa cerita dan cinta diantara kita, diantara hawa dingin Bandungan, kami mencoba menguatkan diri untuk menjaga kekompakan, berlatih hingga malam, mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Tibalah saat pensi, yang anehnya kukira puncak acara tapi ini hanya sebagai ajang lomba di awal agenda. Namanya caraka malam, tentu saja akademisi bidang budaya menorehkan tema budaya Jawa. Konsepnya ada pewayangan rama sinta, tari-tari khas jawa dan DIY, hingga nyanyi bersama. Alat-alat pentas semua made in sendiri, semua bekerja sama. Aku masuk dalam kelompok tari Suwe ora Jamu, padahal tanganku kaku, kucoba gerakkan dengan wagu, dengan membawa ember kamar mandi dengan niat lucu, wkwk. Taraaaaa, my group is the winner.
Api unggun menyala, semua peserta berada mengelilinginya, suasana riuh meredup seketika. Lagu kemesraan mengiringi kepergian seorang polisi yang tak akan lagi mengajar esoknya. Beliau adalah yang terbaik dalam menguasai kelas dengan suasana paling menyenangkan, memberikan pelajaran hidup dengan cara yang menyenangkan, dan mengajari kedisiplinan juga kasih sayang. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan untukmu dan keluargamu, pak. Terimakasih sudah menemani hari-hari kami.
Seusai mengasah kebugaran, saatnya hanya berdiam diri di kelas, mengasah pemikiran, mencoba menikmati setiap pelajaran yang disuguhkan. Satu tema besar dibahas seharian, bersama beberapa cemilan dan kengantukan. Diskusi ataupun coffeebreak menjadi rutinitas harian. Ada juga yang disuruh membuat drama (kek pelajaran bahasa Indonesia aja). Jadi ceritanya aku jadi muridnya, yang lagi nyari guru yang lagi main mobile legend eh malah out of scenario, blank, yang hanya ada tawa-tawa riuh yang menggema di setiap sudut kelas. Dasar actor dan artis yang amatir, tidak bisa berperan dalam drama yang tidak nyata.
Tapi nyatanya, drama Bandungan telah dimulai episodenya. Paparazi mulai bertindak, memotret actor dan artis amatir itu, membuat kegaduhan setiap hari, sampai ada temen yang protes ke aku, “kok fotonya kamu terus sih?” Haha, bukan keinginanku, hanya saja mereka pay attention pada kami. Kami? Iya, aku akan menyebutnya dengan kami, yang berkisah di paragraf tulisan setelah ini, yang menanda Bandungan sebagai negeri zona nyaman yang selalu kan terindukan.
Jadi, kami hanya saling bertatap, lalu memulai obralan ringan, lalu jalan. Eh, maksudnya jalan ke kelas yang sama, hehe. Aku bingung harus memulainya dengan diksi atau hanya beberapa kalimat yang tersurat arti. Langsung intinya deh, nggak pake menye-menye yah. Aku nggak tau sebenernya ini kisah macam apa, secepat ini, seperti ini, dan semenyenangkan ini. Iya, ada teman diskusi tentang spss atau eviews, tentang sekolah bilingual atau semesta, pun tentang agama pastinya.
Intinya, terimakasih atas zona nyaman yang tercipta, diantara banyak ecean dan retjehan, tapi tetap saja masih bertahan. Meskipun gelap menyisihkan beberapa nada-nada sumbang yang tak bisa tersembunyikan dari pendengaran, terimakasih masih bertahan, dengan ngantuk yang luar biasa tak tertahankan. Pun meskipun waktu hanya sebentar, semestaku tak pernah malas untuk jika harus kedinginan, melewati beberapa jalan yang membuat tersesat hingga kemalaman.
Kami melewatinya, beberapa hari itu, yang membuatku kembali menengok ke atas, bahagia yang tertitipkan ini, bolehkah tinggal selamanya? Karena sudah lama aku tak pernah merasakannya. Atau suatu saat nanti kembali pada-Nya? Aku terlalu takut menanggung ketetapan-Nya jika semuanya tidak sesuai dengan keinginanku. Lalu, jika semua pasti ada akhirnya, maka pilihan yang tersisa hanya menjalani semaksimal yang aku bisa dengan menyiapkan ruang untuk lapang dada.
Jika aku menjabarkan delapan belas hari itu, rasanya episodenya bakal menyaingi tersandung dari season satu sampai serratus, hehe. Jadi tidak perlu berlebihan, aku hanya menulis mumpung masih hangat di ingatan, agar kelak aku bisa membuka beberapa paragraf ini yang menandaku bahwa aku pernah ke negeri zona nyaman. Yah, negeri para akademisi yang berjuang menyelesaikan RA dengan karoke setiap malamnya. Negeri para akademisi yang selalu berebut kursi kekuasaan dengan memilih barisan paling belakang. Apalah itu, segala yang terlewati, pokoknya I love U guys.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -