Posted by : Pena Biru Senin, Agustus 05, 2013


          


            Akhir Februari 2013, program Science house dinyatakan lolos oleh Dikti. Awalnya aku menolak ikut bergabung di program ini karena waktu di Biologi yang tak bersahabat, tapi karena dorongan dan ajakan yang terus bergulir dari temenku itu, akhirnya bukan dengan berat hati, aku menerimanya :D. Ada empat orang selain aku, mereka adalah  Alifuhrijat, Dhini, Hanik, dan Yulaeka. Kami mengajarkan sains dengan teori dan percobaan sederhana kepada anak-anak TPA di Wonorejo. Pertemuan diadakan satu minggu sekali, hari sabtu sore sekitar pukul 16.00 WIB. Anak-anak diberikan teori pengantar terlebih dahulu lalu dikelompokkan dan rolling untuk setiap pos percobaan.
Waktu itu, aku pertama kali berhadapan dengan muka-muka imut itu, mereka duduk melingkar dan menatapku penuh tanda tanya. Kulemparkan senyumku, tapi tak ada yang membalas. Haha. Sedikit grogi, aku melakukan percobaan udara dengan baskom, gelas dan koran di depanku. Setelah itu, aku meminta mereka untuk mengulangi percobaan yang aku lakukan, aku sodorkan alat dan bahan kepada mereka.  Tapi yang kutemui hanya gelengan kepala saja, tak ada yang mau mencoba, bahkan malah ada yang menyembunyikan kepalanya di antara tangannya yang tertekuk, malu. Akh, sudah tak ada yang ingin kusampaikan lagi, tapi belum waktunya pergantian pos. Kulirik teman-temanku, ayolah aku sudah krik-krik nih di depan anak-anak :D


Aku rasa mereka masih malu di pertemuaan pertama. Pada hari-hari pertemuan selanjutnya sudah mulai ada satu dua anak yang memegang alat dan ikut mengulangi percobaan yang kucontohkan sebelumnya. Hal yang sukar di pertemuan-pertemuan awal adalah mengingat nama mereka. Harus lebih dari satu kali aku menanyakan nama mereka. Aku ingin memanggil mereka dengan sebuah “nama” tapi daripada salah dan ketahuan aku pelupa, aku lebih suka hanya memanggil mereka “dek”. Semuanya aku panggil “dek”.Hehe. Awal yang sukar lainnya adalah ketika aku harus sok ramah didepan mereka karena aku tak jago memulai pembicaraan dan bertanya basa-basi.
Keakraban pun sedikit demi sedikit mulai terjalin diantara kami. Bukan dari pelaksanaan percobaan yang membuat kami akrab tetapi dari permainan yang mereka lakukan sebelum percobaan dimulai. Lari-lari di dalam masjid mustinya tak boleh, tapi aku malah nakal ikutan “cendhak-cendhak-an”. Siapa yang disentuh, dia kalah dan dia harus menyentuh yang lain untuk menggantikan posisinya, sedangkan yang lainnya lari menghindar. Semua tak ada yang tak tertawa. Pernah suatu kali ketua kami, akhirnya marah karena dia tengah menyapu lantai tetapi kami malah asyik bermain-main.


Dari semua percobaan yang kami laksanakan, aku paling suka percobaan cahaya, karena percobaan ini menghadirkan pelangi dari cahaya matahari. Berikut percobaan yang dapat membuktikan sifat cahaya yang dapat diuraikan.
Alat&Bahan        : Cermin datar 1 buah, baskom1 buah, kertas manila putih 1 lembar, air.
Langkah-langkah :
1.      Bawalah semua alat dan bahan keluar ruangan yang cukup cahaya matahari
2.      Isi baskom dengan air.
3.      Taruhlah cermin datar di dalam air secara miring.
4.    Pegang kertas manila, lalu atur agar posisi cermin dapat memantulkan cahaya matahari dan ditangkap oleh kertas manila.

Selamat mencoba :)

Evaluasi program Science House selalu kami lakukan setelah pertemuan usai. Kendala adalah kurang aktifnya anak-anak dalam melakukan percobaan dan diakhir percobaan mereka selalu mengeluh tentang pembuatan laporan. “Mbak, mbok sekali-kali nggak usah nulis laporan to.” Kata salah satu dari mereka. Bahkan anak kecil pun tahu betapa tidak menyenangkannya membuat laporan, bagaimana dengan Anda, para mahasiswa? Haha.


Selain itu, kehadiran mereka kurang stabil. Pernah suatu kali ketika percobaan astronomi, cuaca sedang hujan pakai deras, yang datang hanya lima anak. Rencana awal untuk memberikan games kepada mereka pun gagal, akhirnya kami hanya bermain Domikado. Siapa yang tersentuh tangannya pada hitungan kesepuluh, dia akan dapat pertanyaan, jika tidak bisa menjawab maka sebuah plester akan melekat di wajahnya. Jika yang terkena adalah peserta Science House maka tim Science House lah yang memberikan pertanyaan, begitu sebaliknya. Tim hanya memberikan pertanyaan seputar materi yang pernah disampaikan tetapi diluar dugaan, anak-anak itu memberikan pertanyaan arti/terjemahan dari kata bahasa Arab. Tak dapat menjawab, akhirnya dua buah plester melekat di hidung dan daguku. Akh, memalukan.
Puncak program Science House adalah Science Expo. Di sini, setiap kelompok diminta membuat hasil kreativitas mereka tentang sains. Boleh dari percobaan yang telah dilakukan, boleh juga dari hasil rancangan sendiri. Bebas. Pada hari H, karya mereka terpampang satu per satu dalam sebuah ruangan, lalu para undangan (anak-anak TPA Se-Wonorejo) pun dapat menikmatinya. Ada juga lomba cerdas cermat ala Ranking Satu, lomba mewarnai dengan tiga cat warna primer, dan kajian akbar yang super lucu dari ustadz yang berkesempatan memotivasi anak-anak agar lebih giat belajar.
Beberapa bulan dengan mereka terasa begitu cepat. Melelahkan dan menyenangkan. Keberlanjutan program Science House masih dalam tahap direncanakan. Anak-anak itu mengajarkanku untuk berlatih ramah, tidak jutek, sabar, dan perhatian. Thanks for all J

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -