Posted by : Pena Biru Rabu, Agustus 21, 2013


         Pukul empat pagi, berangkat dari ketidaksengajaan, aku menengok langit kala itu. Langit pagi itu masih gelap, masih hitam. Tapi, ada yang berbeda dari langit-langit sebelumnya. Langit pagi itu begitu tampak indah, mengagumkan, membuat siapa saja yang memandangnya pasti seakan tak percaya, menebak-nebak alasan terjadinya, dan bahkan mampu membuat senyum syukur yang tak terkira.
        Apa sih yang terjadi di langit pagi tepat tanggal 29 JULI 2013? Kata scientist, ini disebut fenomena halo. Beberapa waktu lalu, pernah juga matahari terkelilingi lingkaran seperti pelangi. Halo adalah peristiwa terefraksi dan terefleksinya kristal-kristal es pada awan akibat adanya paparan cahaya.
Kali ini bukan matahari yang sedang berhalo, tapi rembulan. Bukan hanya sekedar lingkaran kecil, tapi cukup besar. Tepat di pertengahan separuh langit bumi, rembulan yang juga hanya separuh itu bersinar lembut, bercahaya putih, tak begitu menyilaukan, dan terkelilingi lingkaran putih seperti awan yang bulat sempurna. Tak ada bintang yang tampak di sekitarnya, seakan rembulan ingin menegaskan hanya dirinya lah yang sedang berkuasa di langit kala itu. Menjadi objek pemandangan dan pusat perhatian bagi manusia yang memiliki kesempatan melihatnya.
Akh, mungkin untuk sebagian orang, ini menjadi fenomena alam biasa, tapi bagiku ini diluar kata ‘biasa’, bisa kusebut keelokan langit Ramadhan. Allah telah memberikan gambaran kebesarannya melalui alam, mempersilakan manusia dan setiap makhluk-Nya untuk menikmati, lalu menerjemahkan ke bahasa mereka masing-masing tentang arti dibalik keindahan ini. Menyenangkan untuk mendapat kesempatan ini karena tak banyak orang yang terlalu peduli dengan langit pagi.
Hanya beberapa menit setelah itu, langit kemudian membiru, lalu kemerah-merahan. Fajar tiba. Saatnya cahaya bulan memudar dan tergantikan cahaya mentari yang terang.
Ya, itu hanya secuil keindahan langit hari ini. Berbeda dan indah.
 Tapi selama Ramadhan pula, keelokan juga muncul dari bintang Barat. Ia biasanya sendiri, tak ada bintang lain di dekatnya, ia adalah yang paling terang. Selama Ramadhan, ia seakan membesar, lebih besar dari bintang-bintang lain yang tampak. Menjelang malam, pertengahan magrib dan isya ia selalu menampakkan diri. Seusai terawih ketika kutengok lagi, ia selalu sudah pergi, ke mana? Aku tak tahu, mungkin tertutup awan atau telah berpindah karena bumi berotasi sehingga ia tak tampak lagi.
Bagiku, langit selalu indah, khususnya langit yang gelap. Bahkan diluar bulan Ramadhan pun, aku selalu gemar menengok langit. Entah ada semacam perasaan yang kusebut menyenangkan ketika melihat rembulan dan kawan-kawan. Rembulan yang utuh adalah yang sempurna tetapi ketika ia termakan bayangan bumi dan hanya meninggalkan separuh cahaya tersisa, ia tak pernah kehilangan pesonanya. Begitu pun bintang-bintang yang bertebaran itu, meskipun hanya bercahaya setitik, ia cantik, tak kalah cantik dengan bulan yang tergantung di langit yang hitam.
Apa jadinya jika langit mendung? Apakah tidak menyenangkan? Tidak indah? Akh tidak juga, langit yang mendung kan menyimpan banyak rahmat Allah (air) alias mengandung hujan. Meskipun mendung tak berarti hujan. Langit selalu penuh bintang dan bulan, hanya terkadang keindahan itu tertutupi, hanya sementara. Esok atau lusa, ia pasti akan kembali tampak dan menunjukkan keindahannya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -