- Back to Home »
- Jalan-Jalan »
- Bahagia itu Sederhana
Posted by : Pena Biru
Jumat, Oktober 25, 2013
Tidak ada alasan untuk tidak
bahagia. Bahagia itu mudah. Semudah membalikkan tangan. Di mana saja. Kapan
saja.
Langit sore masih cerah. Bersama
kendaraan lainnya, aku melaju menuju suatu tempat sebagai persinggahan pertama
dalam rangka pengakraban. Jalanan cukup ramai dan cukup jauh dari kampus. Tiba
di jalan Slamet Riyadi, aku sedikit tahu arah tujuan kendaraan ini. Ketika
berbelok ke gedung Orange yang berlantai-lantai itu, kendaraan pun berhenti. Di
sini kami berhenti, di Mall yang menjadi salah satu tempat favorit anak muda
untuk hang out, only 30 minutes we have to get inspiration from this Mall for
writing features and its deadline is on this night. Oh, God -_-
Ketika masuk gedung, aroma roti
segera berdifusi dan tercium di hidungku. Di sana-sini banyak tulisan SALE, but
the price is still expensive. Pakaian, sepatu, boneka, accecoris, semuanya
hanya berlabel keren di mataku. Hmttt, nafsuku merengek untuk membeli tapi
dompetku segera mengingatkanku untuk tidak membeli. Hhi. Tanpa sengaja aku membayangkan
kalau dapet kesempatan buat dapet uang banyak, apakah akan bener-bener puas dan
bahagia ya kalau membeli semua yang kita inginkan di sini?
Sudah sekali puteran, belum juga
dapet inspirasi buat nulis. Lirik sana, lirik
sini, isinya memang mayoritas anak muda, tapi juga tak jarang ada yang
membawa satu keluarga untuk sekedar shopping di sini. Anak muda, khususnya
remaja, yang masih pakai seragam sekolah, dengan tanpa bersalahnya wira-wiri di
sini. Tunggu..tunggu.. berarti salah kalau anak muda di sini? Nggak salah dan
nggak bener sih, kan mereka Cuma refresing, kalaupun nggak beli sesuatu, mereka
sudah bahagia meski hanya ‘cuci mata’.
Setiap manusia yang kutemui di sini
hampir tak ada yang galau. Pada kelompok manusia yang duduk-duduk di meja
makan, mereka menikmati hidangan prestice dengan senyuman lebar. Pada kelompok
manusia di lobi grand21, mereka asyik menunggu sembari ngobrol. Pada kelompok
manusia di kios-kios, mereka dengan santainya memilih dan membayar barang yang
mereka inginkan. Pada kelompok manusia yang hanya berjalan-jalan di koridor,
mereka juga tampak tak muram.
Sebuah sms masuk, 5 minutes
left. But, I don’t have any inspiration -_-
Seusai itu, kendaraan bergegas lagi
menuju persinggahan kedua. Aku juga belum dikasih tahu ke mana arah kendaraan
ini melaju. Dua puluh menit berlalu, aku mulai menyadari tempat persinggahan
kedua, tempat dengan aroma busuk. Kami parkir di sebuah mushola, tampak
beberapa adik TPA yang imut-imut ditemani seorang ustadz yang mengajarkan
mereka Iqro. Dugaan sementaraku terbukti benar, kami benar-benar pergi ke TPA.
Bukan Taman Pendidikan AlQuran, tapi Tempat Pembuangan Akhir yang berada tak
jauh dari mushola ini.
Rombongan pun bergegas memakai
masker mereka masing-masing. Daerah ini bernama Mojosongo, sudah masyur sekali
TPA di sini. Aku sudah pernah melihatnya di tipi, tapi ini kunjungan pertamaku
secara langsung. Di sana, gunungan sampah bertumpuk-tumpuk tingginya. Aroma tak
sedap tetap saja mampu menembus maskerku. It’s same with the first place, we
need to get inspiration in the second place only 30 minutes.
Aku melihat salah seorang temanku
yang sangat antusias berkunjung di sini, Esdaniar namanya. Jika yang lain
(termasuk aku) sangat muak dan pengen segera kembali karena tak tahan dengan
pemandangan dan aromanya, dia malah terlihat exited sampai-sampai pengen
wawancara ke bawah jurang sampah. Ya, di sana ada sebuah gubuk kecil, sendiri,
dengan gagahnya berdiri diantara gunungan sampah. Why did they live here? -_-
Sama seperti yang kulihat di tipi,
beberapa hewan ternak seperti sapi dan kambing dengan tanpa ragu menyantap
aneka sampah. Batinku berdesir. Di sana, para manusia sengaja membiarkan
daging-daging hidup itu terkontaminasi sampah. Beberapa waktu lalu Idul Adha,
ya Allah, semoga bukan daging-daging ini yang kami makan. Aku ingin marah,
marah semarah marahnya, what’s for? Oh, God, where is the mind of the human?
Batinku menangis, sangat.
Dalam keluhanku yang belum juga usai
karena ketidaksukaanku pada tempat ini, pandanganku secara tidak sengaja
tertuju pada rumah-rumah yang berdiri tepat di depan gunung sampah. Di halaman
sebuah rumah, beberapa anak kecil tengah bermain bola sepak. Mereka menendang,
bercanda, dan tertawa tanpa tutup di wajahnya. Apakah aroma ini tidak
mengganggu mereka? Bukan hanya ketika mereka bermain, bagaimana mereka makan,
tidur, mandi di samping sampah-sampah ini? Apakah karena mereka sudah biasa
dengan lingkungan yang seperti ini sehingga mereka merasa seakan baik-baik saja?
Apa hanya karena kata “sudah biasa” mereka juga merasa bahagia?
Aku lirik jam di hapeku, baru 5
menit berlalu. Aku memutuskan untuk kembali ke mushola tadi. Mendung tampak
semakin pekat. Saatnya tancap gas meninggalkan persinggahan kedua. Dalam perjalanan
pulang, rintik-rintik air mulai mengucur, jatuh bebas ke bumi, membasahi setiap
apa saja yang telah kering. Termasuk diriku, aku merasa sangat kering ketika
aku hanya menganggap acuh tak acuh pelajaranku hari ini.
Tidak peduli di tempat mewah maupun
di tempat bau, sebenarnya bahagia itu tidak terikat tempat. Karena bahagia itu
terikat hati. Ya, hati.
Aku ingat sebuah stasiun radio memutarkan sepintas cerita tentang
rasa yang bernama bahagia. Alkisah, seorang guru memanggil 3 muridnya. Sang
guru berkata, “Jika kalian adalah malaikat dan diberikan tugas oleh Tuhan untuk
menaruh kebahagiaan di sebuah tempat di bumi yang ketika manusia dapat
menggambilnya dari tempat tersebut mereka akan merasa bahagia, maka di mana kalian
akan meletakkan kebahagiaan tersebut?” Lalu ketiga muridnya pun berpikir untuk
beberapa waktu. Murid pertama mengatakan bahwa ia akan menaruh kebahagiaan
dipuncak gunung sehingga ketika manusia berhasil mendaki hingga sampai puncak
gunung, maka ia akan mendapatkan kebahagian di tempat tersebut. Murid kedua
mengatakan bahwa ia akan menaruh kebahagiaan didasar laut sehingga ketika
manusia berhasil menyelam sampai dasar laut, maka ia akan mendapatkan
kebahagiaan ditempat tersebut. Murid ketiga memiliki jawaban yang berbeda. Ia
mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak didapatkan dari suatu tempat di bumi,
tapi dari suatu tempat di dalam hati manusia itu sendiri. Tanpa harus
berlelah-lelah mendaki maupun menyelam, bahagia itu bisa di mana saja, tinggal
bagaimana manusia mengambil bahagia di hati mereka masing-masing.
Ya, bahagia itu ada di hati yang merasa. Tidak perlu berharta banyak
untuk bisa merasa bahagia. Tidak perlu juga harus ke Mall untuk merasa bahagia.
Di manapun berada, dengan kunci syukur
yang utama dan merasa selalu cukup, maka bahagia itu akan mampu tumbuh dengan indahya.

yap! Bahagiaku bisa datang tanpa alasan sampai bikin aku senyum-senyum sendiri tapi aku gak tau kenapa aku senyum. *loh
BalasHapusterimakasih untuk Esdaniar yang menginspirasiku untuk tetap berpandangan positif di manapun berada dan bagaimanapun keadaannya, dan itu juga salah satu cara untuk senantiasa bahagia.
BalasHapuskalau senyum2 sendiri berarti tandanya kamu overdosis bahagianya, hhi :D