Posted by : Pena Biru Sabtu, Oktober 12, 2013




Dalam lelah yang terlarut sendu, langit malam tetap saja tegar. Dalam senyum yang tertelan suram, langit malam tetap saja hitam. Dalam terpaan badai yang mengguncang, langit malam tetap saja diam. Di sana, di langit yang pekat itu, takkan pernah ada cerita yang berubah dari ketetapan malam.

            Sama halnya dengan cerita di penghujung malam ini, telah ditetapkan oleh malam. Purnama semangka namanya, ia hadir tepat setelah luka. Ia terbit tepat seusai lara. Ia penghantar kenangan tak menyenangkan menuju mimpi indah yang tak terlupakan.
        Purnama semangka adalah seperdua kata sempurna untuk rembulan tanpa goresan bayangan. Ia tersenyum selebar semangka tanpa biji. Ya, ia tersenyum. Tersenyum kepada siapa? Tentu saja kepada setiap ratapan, keluhan, maupun kekecewaan. Ia memang tidak tahu setiap kepahitan manusia-manusia yang hanya sekilas memandangnya, yang tak pernah benar-benar melihatnya, bahkan yang tak peduli keberadaanya, tapi ia tetap saja berjalan sembari tersenyum hingga waktu menenggelamkannya ke barat.
        Lalu, setelah kepergian purnama semangka, apakah yang tersisa di langit pagi yang masih hitam hanyalah hitam? Bahkan bintang pun berkelip tipis di kebanyakan sudut yang manusia tengok. Tidak, yakinlah itu tidak. Tidak ada kesedihan yang tercipta setelah senyum yang telah terurai. Meskipun hanya sejenak, sejenak saja, sejenak menikmati pesona purnama semangka, yang harus ada setelah itu adalah ingatan pada bekas-bekas senyum yang lalu untuk mengukir untaian senyum-senyum setelah itu.
            Takkan terlupakan kesempatan ini, kesempatan untuk menyebutmu purnama semangka, entah kapan akan bertemu kembali. Thanks for  your chance, Allah. You make me understand that everything will be Okay if I don’t forget to enjoy and smile ^_^

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -