- Back to Home »
- Islamic Center »
- Melukis Identitas di Zamrud Khatulistiwa
Posted by : Pena Biru
Selasa, Desember 24, 2013
Do
you know about the country with the largest moslem’s population in the world?
The answer is Indonesia.Ya, negara
dengan julukan zamrud khatulistiwa, dengan beragam suku bangsa, budaya, dan
bahasa, Indonesia memiliki mayoritas warga yang beridentitas Islam.
Menelisik
sejenak keluar negeri Indonesia menuju ke berbagai wilayah di benua yang
terkenal memiliki peradaban yang maju, ya negara-negera di Eropa. Kondisi Islam
di Eropa jauh berbeda dengan Indonesia. Tergambar jelas dari berbagai media
tentang bagaimana muslim sebagai kaum minoritas menjalani kehidupannya di sana.
Media Televisi misalnya, sebuah program pernah menayangkan beberapa potret muslim
yang tinggal di negara di benua Eropa. Tentu, mereka banyak terisolasi dari
masyarakat sekitar, masyarakat yang menganggap mereka kuno, anakan teroris, dan
sebagainya.
Bukan
hanya Televisi, buku-buku perjalanan pun banyak menceritakankan kisah dari
penulis yang telah mencicipi manis pahitnya mengarungi samudera kehidupan di
Eropa. Sebut saja dua penulis yang populer dengan perjalanannya di Eropa, ialah
Ahmad Fuadi dan Hanum Salsabila yang menerbitkan kisahnya sebagai muslim yang
singgah sementara di Eropa. Negeri 4 musim itu terlampau indah untuk
diceritakan kepada pembaca yang belum pernah menikmati autumn, spring, dan snow
di Indonesia. Namun, keindahan itu tak hanya terwujud dari musim yang
dimilikinya tapi juga dari keindahan muslim di sana.
Meski
tergolong minoritas, kebanyakan dari mereka lebih mampu memaknai kehadiran
Islam sebagai agama yang menorehkan identitas. Mereka, muslim yang bangga
dengan sikap ramah, senyum, dan toleransinya. Meski mereka hidup di antara
orang-orang atheis, mereka tetap berusaha keras untuk sekedar menegakkan
sholat. Dalam cerita novel perjalanan kedua penulis tersebut dikatakan bahwa di
kantor tidak boleh sholat sembarangan dan tempat sholat menjadi satu dangan
salib dan patung-patung agama lain.
Berlari
dari Eropa menuju bumi Indonesia, bagaimana identitas Islam disuguhkan oleh
muslim di sini?
Ketika
alunan adzan yang saling bersahutan terdengar setiap lima kali sehari, lihatlah
bagaimana muslim mendatangi masjid-masjid yang tak susah ditemui. Ketika
Ramadhan tiba , lihatlah dengan tanpa paksaan toko-toko makanan tutup sementara
hingga senja menjelang. Ketika Idul Fitri dan Idul Adha terselenggara, lihatlah
jutaan warga berkumpul bersama untuk menunaikan sholat. Adakah yang bisa
memaknai rutinitas ini lebih dari sekedar tradisi yang biasa terjadi setiap
waktu?
Sungguh
ini diluar kata biasa, syukurlah yang harusnya tecipta diantara kenyamanan
beribadah di antara manusia yang sesama muslim dan di tengah alam zamrud
khatulistiwa yang terhampar kaya dari sabang hingga merauke.
Sayang
seribu sayang jika realita kehidupan muslim di Indonesia masih tak jua baik.
Ancaman teroris masih saja berdengung hingga sekarang, kelompok-kelompok ini,
bagaimana bisa menjadai bagian dari Islam? Bahkan nabi Muhammad saja sangat
menghargai sesama, berlaku kasih sayang, dan bertoleransi terhadap non-muslim,
lalu bagaimana bisa aliran-aliran ini menjelma dan menyebut diri mereka
berjuang atas nama jihad?
Entahlah,
aroma persaudaraan agaknya kian hari kian samar bahkan untuk sesama muslim.
Sejatinya, kenyamanan ini, ketenangan zamrud khatulistiwa ini, adalah nikmat, anugerah,
dan rahmat terindah yang diberikan Allah untuk kita, masyarakat Indonesia.
So,
what should we do now?
Dimulai
dari bersyukur kemudian bersikap, mencoba memperbaiki setiap rutinitas ibadah
kita menjadi semakin lebih bermakna. Ketika malas menyerang, ingatlah
saudara-saudara kita yang ada di luar negeri sana, saudara sesama muslim, yang
mana sangat susah dan sulit untuk menjalankan ibadah. Namun, situasi inilah yang membuat mereka
teguh dan tetap bersatu, memperkenalkan islam kepada mereka, mereka yang tidak
mengenal Tuhan. Lalu, di sini, marilah kita yang awalnya acuh terhadap agama
kita sendiri, senantiasa mampu menebar kebaikan sebagai sikap untuk membangun
identitas Islam yang sesungguhnya.
Ya, mari bersama, karena satuan muslim adalah
seperti bangunan yang saling menguatkan. Mari menguatkan setiap bangunan di
atas zamrud khatulistiwa...:D
