Posted by : Pena Biru Senin, Januari 06, 2014



            Di sudut lapangan yang kering, para punggawa negara, dengan dasi dan kopiah mereka, berdengung ria dihadapan sekian banyak warga. Beraksi bak pahlawan, melontarkan janji, entah asli entah palsu. Janji yang memenuhi obsesi warga tentang segala yang warga inginkan akan segera terwujud. Mereka membangun harapan atas setiap obsesi untuk menjadi orang yang memiliki kehidupan yang lebih tercukupi.

          Di ruangan tujuh kali tujuh meter yang panas, para pemegang label pahlawan tanpa tanda jasa, dengan spidol dan buku mereka, berceramah ini itu dihadapan murid-muridnya. Bergaya bak orang pandai, membelajarkan dan mendidik, entah benar entah salah. Hasil belajar yang baik adalah yang diinginkan siswa atas pengetahun yang mereka dapat. Mereka membangun harapan atas keinginannya untuk menjadi murid yang pandai.
            Di kamar praktik yang berAC, para penyelamat nyawa manusia, dengan jas dan stetoskop mereka, bernasehat lembut didepan para pasiennya. Berdiam di kursi, bertanya, menjawab dan memberikan resep, entah tepat entah keliru. Resep yang dipercayai mampu menyembuhkan mereka dari sakit. Mereka membangun harapan untuk segera sembuh.
            Harapan adalah buah dari keinginan manusia. Setiap waktu, satu per satu muncul dari dalam diri, bertumpuk-tumpuk, memenuhi rongga-rongga jiwa dan hati. Harapan hadir untuk diperjuangkan, bukan hanya digantungkan dilangit. Jika harapan hanya bersemayam bersama awan, ia hanya akan luntur bersama hujan. Namun, jika kau susun anak tangga untuk meraihnya, kaulah yang akan terbang bersama harapan yang kau pasang di sana, melihat dunia yang kau impikan.
            Namun, tak sedikit manusia yang benar-benar tak punya harapan. Ketika fajar menyapa pagi mereka, lalu matahari mulai meninggi di atas kepala mereka, hingga senja menggelarkan malam penuh pesona, adakah satu harapan yang tersusun dalam gerak waktu yang tak terbendung lajunya? Satu saja, adakah? Jika tidak ada, artinya hari-hari terlalui tanpa gairah yang berarti.
            Satu saja, selipkan dalam setiap waktu yang terlalui, bukan hanya untuk terus berjalan tanpa arah, berlari tanpa henti, tapi tengoklah kembali apakah ada sesuatu yang benar-benar ingin kau perjuangkan, ingin kau dapatkan, ingin kau miliki, ataupun ingin kau temui. Harapan, ya harapan, layangkan ia dari benakmu, tuliskan ia dalam hatimu, semuanya satu per satu. Jika kau telah menemukan bongkahan-bongkahan harapan dihidupmu, seleksilah hingga kau menemukan yang seukuran dengan kemampuanmu untuk kau mampu membawa, menyusun, hingga meraihnya.
            Harapan itu bisa sangat sederhana. Ya, sederhana. Tak perlu terlalu banyak mengeluarkan energi tetapi terjaga rapi untuk selalu terpenuhi. Harapan untuk selalu membuat orang tersenyum, senang, atau bahagia karena kita, dengan berbagai cara, kita bisa mudah melakukannya.
            Atau, harapan bisa sangat tinggi hingga sulit diperjuangkan, membuat tertatih, terluka, sakit, bahkan kecewa. Harapan yang tinggi itu, dalam pencapaiannya mengandung proses yang tak instan. Harapan untuk meraih cita-cita. Cita-cita yang kau impikan, entah menjadi pemimpin, guru ataupun dokter. Usahamu seperti sebuah perahu dan harapanmu adalah tepian yang kau tuju, dan mendayung perahu itu memerlukan banyak peluh, yang juga mampu meletupkan lelah, menyembulkan dahaga, dan rasa menyerah ada di sekitar kita. Hei, seberapa tangguhkah dirimu untuk rela melakukan itu? Apakah Kau pernah merasakan letih itu? Atau bahkan belum?
            Yakin saja, harapan yang sederhana atau sangat kompleks, bukan menjadi ukuran betapa hebatnya seseorang, tapi yang terpenting adalah usaha untuk bagaimana kita mewujudkannya.
            Wujud dari harapan juga tak hanya sebatas usaha , tapi juga doa. Doa adalah senjata terhebat manusia untuk mengarungi setiap perang di alam kehidupan. Peluru dari langit akan mampu tepat sasaran, menaklukan musuh kita, membuat kita menang dalam segala hal, membawa kita pada setiap harapan yang telah kita tata, semuanya mungkin jika kita punya senjata, ya, doa.
            Terkadang langkah yang tertapak untuk menuai harapan tersandung kerikil-kerikil yang melintang. Akhirnya tak dapat menemui harapan dan hanya bekas luka dan kewewa yang tertinggal. Tak apalah, itu bagian dari skenario langit. Yang harus ada setelah itu adalah mulai menumbuhkan harapan-harapan baru, usaha yang lebih, dan tak kenal kata menyerah.
            Akh, dunia hanya rumah sementara. Pun harapan seharusnya tak hanya terpikir untuk waktu yang singkat ini, tapi seutas harapan yang panjang sebaiknya tertoreh mulai dari sekarang. Harapan untuk dimudahkan di kehidupan setelah dunia, harapan untuk diberikan tempat terbaik nantinya, dan harapan untuk dipersatukan kembali dengan orang-orang tercinta. Hingga ketika harapan tak hanya berlaku untuk urusan dunia, maka tak ada yang lebih bermakna kecuali usaha terus-menerus sepanjang hidup.
            Temukan harapanmu dan mulailah memasangnya lalu berusaha meraihnya ^_^
           

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -