- Back to Home »
- Special Thing »
- Menjadi Wanita Sesungguhnya
Posted by : Pena Biru
Minggu, Agustus 31, 2014
“Nah
sekarang bisa kan bikin kolak. Belajar buat besok kalo masak sama mertua.”
Begitu
kata seorang Ibu berdaster dengan rambut bergelung. Tangan kanannya memegang
pisau dan tangan kirinya memegang beberapa bawang merah. Aku di sampingnya
sibuk mengaduk-aduk kuah santan yang didalamnya terdapat potongan pisang yang
bercampur dengan irisan nangka dan bongkahan tape. Mendidih, saatnya memasukkan
santan. Aroma gula jawa tercium sedap. Aku mencicpinya. Manis. Bangga benar
rasanya bisa membuat sepanci besar kolak pisang. Berkat dukungan ibu di rumah
singgah ini tentunya. Bu lurah, begitu ia disapa.
Bukan
hanya kolak, bu lurah juga menangani beragam masakan yang dalam satu waktu
disiapkannya. Bolak-balik ia ke dapur dan ke ruang makan. Asap mengepul dari
tungku yang berbaris-baris. Ia menerobos gumpalan asap itu, tak terganggu,
tetap mengaduk nasi yang hampir tanak, menambahkan beragam bumbu untuk sayur,
juga memotong buah pepaya yang sangat besar. Aku bahkan belum bisa berkutik
membantu pekerjaan lain selain kolak yang terus saja kuaduk dan memanggil rasa
laparku semakin menjadi-jadi.
Telah
siaplah kolak pisang dan beberapa makanan lain untuk berbuka puasa. Satu per
satu tersaji di meja tamu. Begitu pula satu porong besar es teh dan satu porong
besar es sirup dilengkapi dengan delapan gelas kaca tertata rapi di atas
nampan. Seusai menyiapkan semuanya, bu lurah tidak langsung istirahat tetapi melanjutkan
pekerjaan rumah seperti menyapu latar depan rumah yang selalu berdebu karena
banyaknya kendaraan hingga truk yang lalu lalang di depan rumah. Beranjak
menuju samping rumah, puluhan pakaian kering segera diambilnya dari jemuran.
Geraknya cepat dan gesit hingga ia telah selesai hampir pada pukul setengah enam.
Tidak
seperti di kebanyakan kota, penanda Magrib tiba tidak berupa adzan yang
dilantunkan tetapi sebuah suara wiyu wiyu bak suara mobil polisi. Aku yang
pertama kali mendengarnya pun mengira bahwa ada mobil polisi yang akan melintas.
Ternyata suara itu mengakhiri puasa penuh hari itu. Seteguk air manis yang
tidak terlalu dingin menjadi pemusnah haus yang paling mantap.
Malam Ramadhan tergelar dengan aktivitas terawih bersama, tadharus bagi mereka yang rajin, dan
nonton tipi disertai obrolan obrolan ringan untuk menutup hari. Aku semakin tau
malam tak akan menjadi akhir untuk menyandarkan lelah setelah seharian bekerja.
Bu lurah tetap bertahan di depan
televisi, menunggu suami tercintanya, pak Lurah yang tengah bersama warga
di warung kesukaannya.
Aku
berbaring di kamar. Suara berisik televisi masih saja terdengar hingga pukul
sepuluh malam. Bosan aku mendengar berita politik yang kian memanas setiap
hari. Aku memasukkan badanku ke dalam sarung, meraih novel Pukat di bawah
bantal. Membaca. Hingga kantuk menjelang.
Sahur, saatnya masak-masak lagi. Aku selalu
terlambat ke dapur untuk membantu bu lurah yang sejak jam dua pagi menyiapkan
masakannya. Dengan mata yang kiranya masih setengah menempel, aku ikut menggoreng
tempe. Atau parahnya aku bangun ketika semua sudah siap. Sepertinya raga ini
masih terlalu manja untuk dipaksa bangun pagi-pagi buta. Berbeda dengan bu
lurah yang sepertinya aku tak pernah melihatnya menguap, menampilkan wajah
lelah, dan mengeluhkan sesuatu. Bahkan hanya berapa jam ia tidur ketika ia
menunggu pak lurah sampai larut malam dan harus bangun paling pagi.
Ia
selalu tampil cerah dengan kesederhanaannya sebagai seorang guru TK. Selain
itu,ia juga sibuk untuk mendatangi berbagai macam kegiatan sosial seperti
posyandu hingga PKK. Begitu banyak orang yang datang mencarinya di rumah.
Berkonsultasi sesuatu. Lalu mereka pulang dengan senyuman. Sebagai seorang ibu,
ia selalu bertanya kepada anaknya yang tengah menempuh sekolah menengah
pertamanya untuk tahun pertama di tahun ini.
Hari
berganti hari. Aku begitu tahu rutinitas padat yang dijalani bu lurah baik
sebagai seorang istri, seorang ibu, dan seorang pemimpin wanita desa. Wow,
pekerjaan yang tak mudah. Ia begitu sabar menjalani setiap harinya. Tak kenal
lelah. Menyambut pagi dengan senyuman. Menunggu sebagai penutup hari dengan
kesetiaan. Pengabdian tiada henti untuk masyarakat. Am I be like her?
Jika
wanita yang kupanggil bu lurah itu adalah sekuntum bunga. Maka ia selalu harum,
menebar wewangian kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Ia merah, berani
melawan kelelahannya. Ia mekar, segar dan indah dipandang dengan senyum
tulusnya.
Tak
seperti kebanyakan wanita, apalagi yang berjuluk wanita carier. Separuh
waktunya mereka habiskan untuk di luar rumah, membantu mencari nafkah. Jika
lelah mendera setelah bekerja, apa tugas utamanya sebagai istri dan ibu akan
terbengkalai begitu saja? Boleh kok bekerja, asal tetap pintar membagi waktu
bersama keluarga. “..Setiap kepala keluarga (Suami) adalah pemimpin anggota
keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Isteri
adalah pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia
akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka..”(HR Bukhari Muslim,
Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Dalam
keanggunan laku dan kelembutan cinta yang wanita miliki, wanita harus tahu
dimana tempat ia mengabdikan diri. Sebagai kaum yang tampak lemah tetapi punya
kekuatan besar, wanita harus tahu dimana tempat ia memposisikan diri. Tak
begitu penting memerahkan bibir, menebalkan alis, memanjangkan bulu mata,
hingga memoleskan berlapis-lapis bedak, karena yang terpenting adalah perhatian
dan sikap kita. Bukan tentang secantik apa kita dilihat sesama makhluk, tapi
sebesar apa peran yang bisa kita lakukan untuk menciptakan kehangatan dalam
keluarga dan turut serta dalam merubah dunia.
Menjadi wanita sesungguhnya, adalah tentang proses yang
panjang. Bukan tanpa aral, tetapi tetap mungkin diwujudkan. Allah, terima kasih
mengizinkanku menengok kehidupan baik yang membuatku ingin menjadikan
kehidupanku baik pula.
Thanks to: Bu lurah
sekeluarga di Grobogan selama separuh Ramadhan dan Separuh Syawal 2014.
