- Back to Home »
- Special Thing »
- Satu untuk Kami
Posted by : Pena Biru
Minggu, Juni 29, 2014
Setiap dari kami adalah pemeran utama untuk kisah yang berlayar di
samudera kehidupan kami masing-masing. Menjadi guru, satu yang kami tuju. Salah
satu cita kami diantara sekian juta impian yang kami lepaskan ke langit. Untuk
dapat kami raih nantinya. Ya, hanya salah satu kawan. Tak perlu membawa
khawatir yang berlebih dan kami hanya membawa
sekantung semangat yang selalu terisi penuh ketika kami tengah bergerak menyusun
tangga untuk meraih cita kami. Be a great teacher.
Hari Pertama
Pukul setengah delapan tepat, aku
menuruni anak tangga menuju ruang laboratorium dengan sangat tergesa-gesa,
takut terlambat. Namun, ternyata pintu baru saja dibuka oleh Mbak Tri. What?
Apa aku salah ruang, pikirku. Ingin aku bertanya pada debu, dimana sebenarnya
teman-temanku? Semenit beranjak, pak Maridi juga Abu dan Aziz, diikuti Hadaina
dan Asih datang. Lalu, dosen paling keren seBiologi datang, pak Puguh.
Mikroteaching hari pertama pun dibuka. Beberapa menit berselang, Diyan disusul
Oliq akhirnya memasuki ruangan. Dengan alasan karena dipikir baru jam setengah
9 mulainya, dengan santai Isna senyam-senyum berjalan menuju tempat duduk. Kami
berdelapan pun belum ada yang siap betul untuk mengajar hari pertama ini.
Dengan kerelaan hati, kedua dosen itu pun memberi pengantar ilmu bagi kami.
Hei, ada perlu apa kami berdelapan
berkumpul dalam satu ruangan beserta dua dosen pembimbing? Tak lain dan tak
bukan adalah untuk belajar menjadi guru yang benar-benar bisa mengajar.
Mikroteaching, salah satu mata kuliah yang mana kami bisa praktek mengajar
dengan siswa teman sebaya. Mikroteaching, bukan hanya sekedar bagaimana kami
bisa mensimulasikan diri sebelum terjun ke lapangan yang sesungguhnya tapi
lebih dari itu. Lebih dan lebih untuk kami, untuk kami yang bisa saling berbagi
ilmu pengetahuan, cerita, dibumbui tawa dan tanpa air mata dengan sedikit air
hujan.#eh
Simulasi H-1
Selasa yang padat hingga matahari
tenggelam ke barat lalu malam menjemput dengan awal sebuah agenda yang haram
terlewatkan. Agenda bagi kami mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berperang
esok hari. Berperang? Ya, berperang untuk memperjuangkan cita-cita (eaa),
mengetahui seberapa daya yang mampu kami usahakan dengan amunisi seperangkat alat
RPP dalam rangka ikut berpartisipasi mewujudkan tujuan negara untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa.Haha(berat banget kata-katanya)
Kami menamai agenda kami dengan simulasi. Ada sebuah tempat favorit
kami untuk simulasi yaitu di bagian basement Gedung F sebelah timur.
Alhamdulillah lampu cukup terang dan lantai selalu bersih ditambah tidak ada
orang yang lalu lalang membuat sangat kondusif untuk kami bisa simulasi
mengajar. Pun kondusif untuk Abu yang tiba-tiba sering ketiduran di sepinya
suasana malam.
Satu per satu, dengan malu-malu bahkan sampai malu-maluin, kami
yang mendapat giliran maju esok hari harus berlatih di depan siswa-siswa
terpintar sedunia. Kenapa kami disebut siswa pintar? Karena kami adalah
siswa-siswa yang selalu ikut olimpiade, haha. Karena begitu lancarnya menjawab
setiap pertanyaan yang dilontarkan teman kami yang tengah menjadi guru.
Hal yang paling menyusahkan kami saat simulasi adalah menentukan
Apersepsi. Pertanyaan-pertanyaan yang menstimulasi siswa untuk ingin tahu
hingga membawanya pada sebuah clue tentang materi yang akan kami ajarkan, tak
mudah membuatnya. Apalagi jika sudah sampai ke bagian Apersepsi milik Oliq, uh
nemunya harus pake muter-muter Jakarta dulu deh, alias lama pake banget. Inget
nih pas mau materi Sistem Reproduksi.
“Anak-anak, kalau bayi lahir dari mana ya? Bagaimana prosesnya
terbentuknya bayi?”
“Anak-anak,tau nggak kenapa sekarang jumlah penduduk semakin
banyak? Bagaimana bisa manusia bertambah banyak?”
“Anak-anak, bla bla bla....”
Jawaban yang diharapkan adalah “sistem reproduksi” dan masih banyak
lagi apersepsi yang dipilih Oliq waktu itu. -_-
Kalau Abu apersepsinya paling lucu dan konyol, unlogic juga. Saat
apersepsi, “Nak, pernah lihat cokelat-cokelat lembek(lunak) di pasar? Apa itu
namanya?” Jawaban yang diharapkan adalah “Jamur”. Percaya nggak kalau
jawabannya Jamur? Hha. Ngakak guling-guling.
Ada lagi, pernah suatu kali, hingga jarum jam akan menunjuk angka
sebelas, tawa kami baru selesai. Ini dilatarbelakangi sebuah cerita dari
seseorang yang memilih Sistem Gerak, Aziz namanya. Nah, kurang lebih (maaf jika
dilebih-lebihkan) seperti ini cerita bagian apersepsinya: ia suguhkan cerita
dari seorang nenek yang menyebrang sebuah rel kereta api. Tragis, nenek itu
tertabrak kereta yang lewat (ada efek suara “jed-der”nya yang bikin kaget nggak
ketulungan), lalu cucunya datang menghampiri (ada efek suara lagi,
“nenek-nenek”). Sayangnya nyawa nenek itu tak tertolong. Cerita masih berjalan
hingga episode ke-101 karena kami hanya mendengarkan dan tak ditanya apa-apa
tentang cerita itu. Kami kira akan ditanya tentang patah tulang kaki si nenek
waktu tertabrak kereta sebagai bagian apersepsi dari submateri
kelainan/gangguan tulang. Tapi ternyata hanya cerita saja kawan-kawan.hha
Ehem, Isna sih jarang hadir di simulasi, mungkin banyak agenda yang
lebih besar dan penting. Kami maklumi, tapi jangan sedih ya Is karena setiap
simulasi selalu ada makanan yummy dari masing-masing kami yang datang.
Terimakasih bagi siapa saja yang berperan untuk menunda lapar dengan ganjalan
snack yang dibawanya untuk kami saat malam simulasi.
Medan Pertunjukan
Rabu pagi, ditemani awan putih yang sudah mulai tampak dan bergerak
perlahan dengan semu. Dengan seragam putih hitam, sebelum menuju medan
pertunjukan, kami sering mampir dulu ke kantin alat dan bahan. Bermodalkan nama
lengkap dan NIM, kami bisa meminjam apa saja yang kami mau. Mulai dari
mikroskop hingga torso, gratis. Setelah itu,kami bergerak menuju medan
pertunjukan dengan bekal setumpuk RPP yang terjepit rapi memenuhi tas kami. Entah
apa yang terjadi, sering ketika aku akan maju mengajar, dosennya tiba-tiba
menghilang karena beragam alasan. Akhirnya diliburkan. Baguslah untukku, hehe.
Maksudku aku masih punya waktu persiapan lagi dan lagi.
Yang paling banyak modal untuk pertunjukan adalah Abu. Mulai dari
jamur, ia membawa banyak sekali contoh jamur hingga materi terakhir uji
makanan, ia membawa begitu banyak sample makanan. Jempol deh buat Abu si Wagu
(kata pak Puguh). Pertanyaan yang paling bisa meledakkan tawa,”Sudah mandi
tadi, Bu?” haha.
Yang paling modal kedua adalah Hadaina. Dia sih yang paling
terstruktur materinya, menurutku. Sudah cocok jadi bu guru, asal bisa nahan diri
untuk tidak pegang microphone saat mengajar di Ruang Baca Klorofil, lalu mulai
mengeluarkan suara bernada, “ku disini...berdiri karena cinta....”
Yang paling dikit modalnya adalah diyan, tak perlu pergi ke kantin
alat dan bahan, cukup PPT, Video, dan LKS saja. Eh ditambah kata-katanya dan
gerak gerik tubuhnya yang bikin geli saat mengajar itu juga modalnya saat
mengajar yang hanya dia yang punya. Paten deh gayanya itu. Hingga hari
terakhir, satu-satunya barang yang ia pinjam hanyalah torso mata.
Yang paling ulung ketika bikin cerita ya siapa lagi kalau bukan si
Aziz. Kata pak Puguh, yang satu ini sudah punya feel-nya untuk jadi guru.
Bervariasi sih untuk kelompokannya, nggak perlu dengan studi literatur, tapi
bisa juga wawancara ke luar untuk mendapat ilmu.
Yang paling simple sih ya Mbak Asih and Isna. Kelihatan santai tapi
semuanya jalan sesuai RPP, hehe. Perlu ditiru nih bagaimana agar nggak tegang
dan selalu kelihatan enjoy saat mengajar. Yang paling ribet dan siswa yang suka
terlambat ya siapa lagi kalau bukan Oliq. Kalau lagi jahil, kalau pas ada
kebagian temen yang tengah mengabsen siswa,”Oliq kenapa nggak hadir, ada yang
tahu?”
Serempak menjawab,”jualan Avail dulu, Bu.” Peace mbak Oliq,hhe
Komentar dari dosen juga tak bisa lepas dari setiap pertunjukan
kami, mulai dari nasehat agar memperhatikan tinggi rendahnya suara, gaya
bahasa, penulisan di papan tulis, hingga pada proses agar dipenuhinya setiap
sintaks dari model pembelajaran yang dipilih hingga nasehat harus menguasai
materi dan menyampaikan materi tidak boleh terlalu dangkal, apalagi untuk anak
SMA. Dan masih banyak lagi..............
Waiting for Future
Kawan, sejauh ini pasti kita telah mendapat banyak sekali hal,
mulai dari ilmu untuk bekal menjadi guru, inspirasi dari setiap teman yang maju
mengajar, hingga seutas persahabatan yang tanpa sadar kita bangun dalam
bermacam-macam rasa. Rasa yang kita seruput, entah pahit, entah manis, semoga
selalu mengingatkan kita akan hari-hari saat kita bersama berjuang hingga larut
malam, mempersiapkan segala hal.
Masa depan memang tak pasti, tapi kita bisa memastikannya dengan
satu langkah di sini. Bersama cita yang semoga masih menggairahkan setiap jiwa
yang ingin menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Pun tak lupa bahwa masih sangat
banyak cita yang sebenarnya masih bisa kita capai. Semangat tiada henti,
kawan-kawanku Mikroteaching.
Thanks to : Subhan Abdul Aziz, Muh.Abu Salam, Tri Amiasih, Diyan
Tauhidan, Hadaina Zulfah, Solikhah, Isnaini Fajriah...
-Tempalah besi ketika masih membara-