- Back to Home »
- Coretanku »
- Setara
Posted by : Pena Biru
Senin, September 15, 2014
Pernahkah
melihat rumput tetangga yang lebih hijau?
Seakan
puas tak pernah diraih. Seakan iri tak mau pergi dari hati. Tapi tahukah bahwa
tidak ada yang lebih menderita dan tidak ada yang lebih bahagia. Porsi setiap
manusia sama, hanya bentuk kesedihan dan kesenangannya saja yang berbeda.
Singkirkan perasaan bahwa diri kitalah yang paling susah daripada manusia lain.
Keyakinan itu seperti pondasi tak terlihat. Ada, jauh di
dalam, dan menguatkan. Hingga yang tampak dari luar adalah bangunan yang kokoh.
Sederas apapun hujan yang turun, sekencang apapun angin yang berhembus, sepanas
apapun terik matahari yang membakar, bahkan sebesar apapun gempa yang
menggoyang, sebuah keyakinan tak akan rubuh karenanya. Mengakar kuat dan tak
retak. Seperti halnya keyakinan akan adanya Dzat yang begitu agung.
Keputusan-Nya untuk menghadirkan kita di dunia bukan hanya untuk menikmati
indahnya dunia, mengecap bahagia, tapi untuk berpayah-payah. Karena dunia hanya
sebagai ladang akhirat.
Layaknya petani, kita tengah menanam dan berharap. Ketika
menamam, bukankah kita harus bekerja keras agar menghasilkan hasil yang kita
harapkan? Sebuah proses yang tak mudah untuk mencapai harapan itu. Siapapun
kita, apapun pekerjaan kita, bagaimana pun kondisi kita, kita adalah manusia
dengan ujian. Bagi siswa/mahasiswa, hari-hari melelahkan adalah sepanjang
ujian/ulangan harian, belajar dan belajar, berkomat-kamit, memandangi buku dan
laptop semalaman. Lain lagi bagi guru yang memiliki ujiannya sendiri, pergi
sana sini mengikuti tes, sebuah lembar kenaikan gaji (-red,sertifikasi) menjadi
impian sebagian besar dari mereka. Lain lagi bagi nelayan, yang bertarung
melawan ombak seharian, berteman jaring dan pancing, menangkap ikan. Lain lagi
bagi kuli bangunan yang dengan peluhnya tetap bekerja keras mengangkat beban
berat. Semuanya setara, hanya bentuk kerja kerasnya saja yang berbeda. Semuanya
setara, hanya hasilnya saja yang sangat bergantung pada apa yang diupayakan
manusia.
Hanya
jangan selalu melihat ke atas. Atas apa yang orang lain dapatkan, sungguh bukan
karena kebetulan. Itu adalah porsi atas kerja keras yang mereka lakukan. Maka,
jika kita menginginkannya, kita bisa meniru bagaimana cara mendapatkannya.
Tidak ada yang instan, semuanya proses. Maka payah yang berkepanjangan akan
terasa manis diakhir ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Saat
kita tengah ditimpa kesulitan, jangan bayangkan seperti ada gunung menghadang
langkah kita, hanya pikirkan kesulitan itu sekecil semut yang lewat di depan
kita. Jangan buat segalanya menjadi susah dan rumit jika kita bisa
menyederhanakan masalah dengan cara kita.
Berpikirlah positif, inilah keadaan terbaik yang
dianugerahkan sang Maha Cinta kepada kita, manusia. Baik keadaan fisik, latar
belakang keluarga, ekonomi hingga pendidikan, semuanya masih dapat diusahakan
untuk sesuai dengan patokan keinginan kita. Namun, kembali lagi, hasilnya bukan
hanya kita yang menentukan, tapi Dia yang lebih tahu apa yang kita butuhkan,
bukan apa yang kita inginkan.
Usaha yang tidak sia-sia adalah usaha yang tidak mengenal
kata menyerah. Tidak boleh hanya diam, meratapi kesedihan, dan menyalakan
penyesalan. Yang harus dilakukan adalah berdiri, membusungkan dada, dan berlari
menuju jalan keluar. Akal, gunakan pikiran ini sebagai alat yang mampu
memecahkan persoalan. Hati, gunakan perasaan ini sebagai media untuk selalu
berdamai dengan kesusahan. Teman usaha adalah doa. Doa yang dipanjatkan
memiliki tiga kesempatan, yaitu langsung dikabulkan, diganti dengan kebaikan
lain, ataupun menjadi tabungan amalan untuk akhirat nanti.
Bukankah ada janji dari Dzat yang agung untuk menaikkan
kita pada derajat yang lebih tinggi ketika kita mampu sabar untuk menghadapi
setiap ujian? Lalu, masih adakah keluhan yang akan keluar dari mulut kita?
Be strong everybody.
