- Back to Home »
- Tentang malam »
- Aku Merindukanmu
Posted by : Pena Biru
Kamis, Oktober 16, 2014
Oktober
yang panas. Suatu senja datang menjelang. Aku menunggu matahari melewati kaki
langit yang memerah. Hilang. Hanya tersisa gelap. Cahaya segera berganti dengan
neon-neon putih dan orange. Menggantung di atap rumah dan berjajar di tepi
jalanan. Aku masih menunggu di tempatku, menatap barat. Mencarimu yang lama tak
kujumpai. Bukan karena aku melupakanmu, hanya
waktu melarutkanku pada hari yang tak bisa menengokmu barang sekilas
pandangan pun. Kini, terlambat. Aku tak menemuimu menggantung di langit. Apakah
engkau pergi ke bagian bumi yang lain? Apakah di sana engkau menyapa dengan
indah manusia-manusia lain yang tengah tergulung duka dan menjadi pemantik
senyuman manusia-manusia lain yang tengah tenggelam dalam penat?
Hei,
tidak semua mengenalmu. Tidak semua memperdulikanmu. Dan tidak semua tahu
maksud hebatmu. Lihatlah apakah manusia yang memandangmu bisa mengartikan
setitik cahaya yang engkau miliki? Tahukah engkau bahwa mereka hanya
memandangmu hanya dalam rasa biasa, hanya sebagai pelengkap hiasan malam, hanya
sebagai teman rembulan. Jika engkau hilang ditelan mendung, adakah diantara
mereka mengingatmu dan mencarimu bahkan berharap segera melihatmu? Jadi kenapa
engkau tetap berusaha pergi sedangkan aku tengah berharap di sini untuk bisa
menjemput cahayamu?
Hei,
lewat angin malam lah kutitipkan salamku untukmu. Apakah engkau bertanya kenapa
aku menitipkannya pada angin malam? Hanya satu alasanku, karena bulan ini angin
seperti berlomba kecepatan tidak peduli siang ataupun malam. Ya, ia bisa cepat
merobek daun pepohonan, menyaingi kencangnya truk jalanan, dan membawa awan
putih cepat melintas separuh langit bumi. Jadi, aku berharap salamku segera
tersampaikan padamu, terbang cepat melintasi laut dan samudera, entah di mana
tempatmu, agar engkau segera berotasi kembali ke tanah bumi tempatku berpijak
ini.
Hei, aku
benar-benar menginginkan setitik kerlipmu. Ya, kerlip yang selalu membantuku
meluluhkan penatku, kerlip yang selalu mengkatalis semangatku, kerlip yang
selalu ada dan bersinar saat terpekat dalam hidupku. Pun kerlip yang membasahi
mataku penuh air haru. Di mana engkau? Aku ingin seperempat malamku kuhabiskan
untuk bercerita denganmu. Bercerita entang aku, tentang rumitku, dan tentang
bodohku. Atau mungkin engkau bosan mendengarku bercerita?
Hei,
aku masih berupaya menyadarkan diri pada perubahan yang terjadi. Aku tahu
langit tidak pernah kosong tapi hanya engkau yang membuatku selalu menyukai
malam. Pun perubahan ini memang bukan keingananmu untuk pergi dari tempatmu,
tapi memang engkau selalu bergerak, pergi, memberikan satu kesan kepada setiap
manusia yang peka. Sekiranya semuanya memiliki masa. Masaku bersamamu, masa
yang berbeda ketika engkau tidak ada. Tak apalah, perubahan itu tidak selamanya
berlaku sebagai alat pembanding suatu masa dengan masa yang lain tapi aku
melihat itu sebagai keadaan yang berbeda. Hanya berbeda, itu fitrah.
Hei,
hari terus berganti. Aku tidak menyalahkan waktu yang bergulir kadang terlalu
cepat dan kadang terlalu lambat. Aku menyalahkan diriku karena tidak tahu hari
dimana kau benar-benar pergi. Engkau pasti tahu bahwa aku akan meninggalkan
kefanaan ini lebih dulu darimu. Lalu, berapa waktu yang harus kulewati sampai
aku sampai pada pertemuan kita kembali? Kini aku mengerti kebaikan Pencipta-Mu
karena menciptakan pemahamanku tentangmu, tentang semesta, tentang hakikat
kehidupan, tentang malam yang berujung pagi, tentang syukur yang tiada boleh
berhenti, tentang nafas yang berguna, tentang mata yang bersinar, dan tentang
mimpi untuk mengecup kebahagiaan abadi.
Hei, bintang
barat yang kurindukan, aku masih di sini. Ya, masih di sini. Berharap menemuimu suatu saat nanti.

keren...
BalasHapusrindu siapa hayoo...??? :D
Aku merindukan bintang barat mas, yang paling terang itu hlo... tahu kan..hhe :D
Hapus