- Back to Home »
- Islamic Center »
- Bidadari
Posted by : Pena Biru
Sabtu, Desember 13, 2014
Bagaimana sosok seorang bidadari?
Tentunya kebanyakan
dari kita berpikir bidadari itu cantik lagi baik hatinya.
Pokonya yang
indah-indah melekat di sosok yang bersayap itu. Pemahaman terkait sosok
bidadari yang seperti itu memang tidak salah tapi tidak benar seratus persen
juga. Lalu, pertanyaan selanjutnya apakah bidadari itu hanya sosok fiksi semata
atau memang nyata adanya? Jawabnya tentu beragam versinya.
Sebelum menceritakan segala tentang bidadari, maka
izinkan saya membagi sebuah cerita awal mula mengapa saya akhirnya memutuskan
untuk menulis tentang bidadari. Berawal dari sebuah keinginan membaca novel, saya meminjam novel Tere-Liye yang
berjudul Bidadari-Bidadari Surga. Belum usai membaca isi cerita novel itu
sampai tuntas, sewaktu singgah di toko buku saya tertarik dengan buku Salim
A.Fillah yang ada juga kata bidadarinya, yaitu Agar Bidadari Cemburu Padamu.
Lagi, selang beberapa hari kemudian seseorang memberikan saya sebuah
Minimagazine yang salah satu rubrik di dalamnya juga memuat tulisan tentang
bidadari. Apakah Allah ingin saya mencerna segala hal
tentang bidadari? Entahlah, mungkin iya.
Beberapa tahun lalu, saat saya masih sekolah (sekarang
kuliah), saya ingat betul betapa saya sangat setia menonton sebuah acara
televisi yang berjudul Lala dan Bidadari. Ceritanya sederhana menurutku, ketika
pemain utama (Lala) sedang tertimpa masalah/ musibah, seorang bidadari yang
bergaun putih, bertongkat sakti, dan bersayap selalu datang menolongnya. Gaya
anggun dan paras cantik disuguhkan kepada pemirsa di rumah akan sosok seorang
bidadari.
Sungguh, itu hanya fiksi yang sengaja disajikan untuk
menghibur pemirsanya. Sementara itu, sosok bidadari yang saya tahu tidaklah
bersayap. Apakah bidadari bersayap? Tentu tidak, bidadari hanyalah label yang disematkan kepada wanita dengan segala paket baiknya.
Tetapi
ada jawaban lain yang bisa menggambarkan bagaimana sosok bidadari surga yaitu lewat
percakapan Rasulullah dengan Ummu Salamah. Intinya Rasulullah menggambarkan
bidadari surga sebagai sosok yang kulitnya bersih,bermata jeli dan lebar,
rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar. Kebeningannya seperti kebeningan
mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia (Al-Waqiah
23) . Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari baik lagi cantik (Ar-Rahman 70).
Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al-Waqiah 37).
Begitu
mempesonanya ya sosok bidadari surga yang diceritakan Rasulullah. Coba saja bidadari
surga itu hinggap di bumi, pasti kecantikan dan perangainya sudah membuat semua
mata tertuju padanya. Sampai-sampai membuat kumbang lupa dengan bunganya,
membuat semut lupa dengan gula yang dibawanya, membuat merpati lupa dengan
pasangan setianya. Maaf terlalu banyak ngelanturnya.hehe.
Oke,
kembali ke bidadari surga yang terjaga kesuciannya. Kita, wanita di bumi khusunya
tak perlu khawatir akan tersaingi kecantikannya dengan bidadari surga. Bahkan
dengan jelas Salim A.Fillah menuliskan judul “Agar Bidadari Surga Cemburu
Padamu”, bukankah dengan judul itu setidaknya ada celah yang bisa kita lakukan
untuk menjadi lebih baik dari sosok yang sudah baik?
Ummu
Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia,
ataukah bidadari bermata jeli?”
Rasulullah
menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti
kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Ummu
Salamah bertanya lagi,”Mengapa wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
Rasulullah
menjawab,”Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah
meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka tertutup kain sutera, kulitnya
putih bersih, pakaiannya berwarna hijau,
perhiasaannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari
emas.”
Itu
dia kisah yang diabadikan untuk membuat wanita tidak lagi bersedih. Tidak lagi
merana karena memikirkan persoalan dunia. Tidak lagi tersesat dalam berjalan
dalam bahtera hidupnya. Dan tidak lagi gundah karena selalu terkungkung dalam
dunia perasaan. Seperti air yang
membasuh dan menyegarkan, kisah ini seharusnya mampu memberikan kabar gembira
bagi kita, wanita, agar lebih gigih lagi memperbaiki diri.
Beribadah
karena Allah, itulah kuncinya. Sederhana saja. Segala hal yang kita lakukan
haruslah selalu diniatkan karena Allah. Mulai dari pagi hari sebelum berangkat menunaikan
pekerjaan, luruskan niat karena Allah. Jika tersandung kerikil-kerikil kecil di
tengah perjalanan, tahan diri untuk tidak mengeluh, lalu kembali ingat bahwa
sabar adalah jalan utama untuk meneguhkan niat karena Allah. Pada pemberhentian
sementara, kadang kita menemui tawa-tawa yang buncah sebab keberhasilan yang
teraih, maka ingat lagi bahwa semua dapat terjadi karena Allah.
Karena
hidup adalah potongan episode-episode yang membentuk cerita. Sudah sepantasnya
kita mulai berperan sebagai sosok protagonis bak pemeran drama sinetron. Ending
bahagia adalah yang paling kita harapkan. Nah, tinggal actionnya saja nih kalau
sudah tahu bahwa semua wanita di dunia bisa menjadi bidadari dengan
syarat-syarat yang tadi sudah dikisahkan di percakapan Ummu Salamah dan
Rasulullah.
Hei
hei hei, bagaimana dengan cerita Bidadari-Bidadari Surga-nya Bang Tere-Liye? Silakan
baca sendiri bagi yang sangat ingin tahu kisah tentang kakak yang menyayangi
adik-adiknya selama hidupnya. Namanya Laisa, ia memiliki 4 adik. Ia korbankan
masa sekolahnya agar adik-adiknya bisa sekolah. Ia bekerja susah payah ikut
membantu Mamak di ladang agar adik-adiknya tercukupi kebutuhannya. Ia rela
berjuang mempertaruhkan nyawanya jika adik-adiknya dalam kesusahan. Ialah orang
pertama yang turun tangan tatkala masalah pelik membelenggu hidup adik-adiknya.
Laisa
dikisahkan tidak cantik secara fisik tetapi sangat istimewa perangainya selama hidup
di dunia. Baginya, hidup itu sederhana. Asalkan bisa membuat adik-adiknya
bahagia, ia pun juga bahagia. Dari Laisa, ada banyak hal yang bisa dipelajari
bagi pembaca. Tentang arti komitmen yang terus dijaga seumur hidupnya, komitmen
untuk memperjuangkan nasib adik-adiknya. Tentang arti ketulusan dalam menerima
segala cobaan yang silih berganti datang dalam hidupnya. Tentang arti memiliki
sebuah keluarga yang istimewa. Ya, ia berpikir bahwa keluarga adalah anugerah
terindah yang ia miliki dalam hidupnya. Ia pandai menerima. Ia pandai
bersyukur.
Dialah
bidadari surga nantinya, seorang model wanita dengan segenap kebaikan . Cerita
bang Tere Liye hanya satu contoh dari sekian banyak cerita tentang kehidupan
bidadari di bumi. Bentuknya ceritanya bisa bermacam-macam, tidak harus selalu
tentang kakak yang menyayangi adiknya. Jadi, tidak ada batasnya bentuk kebaikan
dan pengabdian yang bisa kita lakukan. Di masa hidup yang sementara ini, yang
terbaiklah yang harusnya kita lakukan. Jangan lagi menunggu hei kamu, iya kamu.
Hehe.
Jadi
bidadari itu adalah kita. Ya, kita yang mencoba menekuni ibadah karena Allah.
Bidadari itu adalah kita. Ya, kita (wanita).
Semoga
Allah selalu memudahkan kita untuk terus memperbaiki diri, kawan.
Selamat
berjuang.
