- Back to Home »
- Jalan-Jalan , Special Thing »
- Jogja dan Cerita 1/2 Hari
Posted by : Pena Biru
Minggu, November 30, 2014
Berkeliling, bertemu orang-orang dengan cerita hebat. Menginspirasi. Membuka mata tentang arti membangun mimpi. Menyenangkan setengah hari di kota Jogja ini. Ketagihan. Ingin kembali dan kembali untuk bertemu orang dan hal baru. Menjadi pasokan bahan bakar untuk menghidupkan pikiran dan tulisan.
Sebuah
ketukan pintu menghilangkan memoriku akan mimpi malamku. Mataku setengah
terbuka, yang langsung kuingat cuma satu. Kereta paling pagi. Buru-buru aku
menyiapkan segalanya. Mandi. Berpakaian serba ungu. Berjaket. Wuuussss tancap
gas menuju stasiun Balapan Solo. Hanya lima orang yang sudah mendahuluiku
mengantri. Tiba giliranku, sebuah kertas tipis berukuran hanya sekitar 10x10 cm
disodorkan petugas padaku. Sebagai gantinya aku menyerahkan uang enam ribu
Rupiah. Solo-Yogja. Ini kali pertama untukku membawa tujuan lain menuju kota penuh
budaya itu. Biasanya hanya main atau ada KKL Biologi. Pagi ini, aku duduk
terkantuk-kantuk sepanjang jalanan untuk menjemput ilmu baru tentang kepenulisan.
Awan mendung bergelantung di langit Yogja. Anak-anak air
turun berbaris-baris. Kompak menggenang di lubang-lubang jalan yang rusak. Aku
menunggu di jalan pejalan kaki. Mengamati. Beragam profesi meramaikan tempat
pergi dan berhentinya puluhan kereta setiap hari. Di bagian dalam terdapat
orang berseragam sebagai petugas stasiun. Di bagian luar, beberapa jasa angkut
mengantri di seberang jalan, bergantian menawarkan diri untuk membawa banyak
barang dari setiap mobil yang berhenti
di tikungan depan pintu masuk stasiun. Tertib. Ada juga puluhan sopir becak dan
taksi yang berjajar rapi di pinggir jalan.
Akhirnya jemputanku datang setelah setengah jam menjadi
pengamat stasiun ini,hhe. Kharis, sekali lagi menjadi teman untukku di Jogja
ini. Masih gerimis, aku dan Kharis segera menuju tempat sarapan. Rumah makan
padang, satu-satunya yang sudah buku pukul setengah delapan ini. Hanya gulai
ayam yang tersaji. Satu piring nasi, satu bagian ayam, satu sendok kuah gulai,
satu kerupuk, dan satu teh anget menjadi simpanan energiku awal pagi ini.
Wussss, tancap gas menuju salah satu gedung di UNY.
Tertera tulisan Fakultas Teknik dibagian depan gedung ini. Awal masuk gedung,
kami disambut beberapa mahasiswa berseragam batik merah dan berkalung ID Card.
Registrasi. Sebelum naik tangga, ada salah satu mahasiswa yang mencap punggung
tangan kami dengan stempel (kayak mau masuk taman bermain ancol saja,hhe).
Cukup keren capnya karena match dengan kaosku, ungu. Map hijau muda bertulis
Bandung yang disponsori wardah menjadi seminar kid yang keren bingit.
Ternyata sudah separuh ruangan terisi penuh peserta. Aku
duduk dibagian tengah. Mcnya hanya terlihat kecil sekali. Saat aku masuk, acara
sudah sampai pada tilawah. Eh, anehnya yang maju tilawah ada tujuh orang
mahasiswa beralmamater pula. Ngapain mereka? Pikirku. Selesai satu orang
membaca Quran, ternyata keenam orang lainnya mengartikan bahasa Arab dalam
bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Inggris, Mandarin, dan satu lagi belum bisa
kuidentifikasi apa bahasanya. Hhe. Ya, meskipun di FT tapi mereka anak Bahasa
dan Seni. Wajarlah jika dikemas seperti ini.
Saat yang dinanti tiba. Beberapa peserta sudah tak sabar
dengan sosok yang keren ini. Begitu disebut nama pembicara tunggal satu
setengah jam kedepan ini, ramailah empat ratus peserta yang hadir. Seorang
berkaos cream memasuki ruangan disambut sorak sorai peserta. Bak artis yang
lewat, seluruh peserta bertepuk tangan, mengelu-elukan namanya, dan berteriak
senang kegirangan. Sang pujaan pun tersenyum (aku pikir senyum manis) ketika
lewat diantara peserta. Kamera hape, camdig, atau pun tablet sudah dari tadi
mencepretnya. Antusiasme yang luar biasa.
Bang Tere Liye, begitulah ia dipanggil. Puluhan buku
sudah sangat populer dengan beragam cerita apik dan menginspirasi. Dua film pun
sudah dirilis dari novelnya, Hafalan Surat Delisa dan Moga Bunda Disayang
Allah. Novel yang terbaru adalah Rindu. Inilah salah satu penulis produktif
yang punya gaya bahasa khas saat menceritakan suatu kisah fiksi. Ya, kisah yang
disukai beragam kalangan hingga seperti inilah respon mereka terhadap
kedatangan penulis beken itu.
“Ada yang sudah pernah datang diacara kepenulisan saya
sebelumnya.” Tanya bang Tere-Liye seusai salam pembuka. Beberapa mahasiswa
mengangkat tangan. “Ngapain kalian datang lagi? Acaranya sama, materi yang akan
saya bawakan sama, atau Cuma pengen foto bareng sama saya? Ada yang datang ke
sini Cuma pengen foto bareng sama saya?” Gelak tawa pun memenuhi ruangan. Awal
yang menyenangkan. Salah satu pengantarnya:
Menulis
itu seperti menyalakan api kecil di dada, yang mana cahayanya bisa menerangi
dua per tiga manusia di bumi ini.
Tak ada slide PPT atau apalah yang menjadi media Bang
Tere-Liye. Ia hanya bermodalkan cerita perumpamaan yang selalu inspiratif. Bukan
hanya pandai menulis, tapi ia juga pandai bercerita kisah-kisah fiksi yang
selalu memiliki arti. Salah satunya ketika ditanya “Apa tujuan kalian menulis?”
Alkisah,
ada tiga sahabat yang selalu bercerita tentang banyak hal mengenai pengalaman
mereka. Tiga sahabat itu adalah seekor pipit, seekor penyu, dan sebatang pohon
kelapa. Setelah tiga tahun tidak bertemu, tiga sahabat itu pun bertemu pada
suatu waktu untuk menceritakan ke mana saja mereka pergi. Si burung pipit
bercerita tentang perjalanannya melihat tempat-tempat dengan hamparan sawah
yang luas. Si penyu bercerita tentang samudera yang ia seberangi menuju
pulau-pulau jauh. Namun, sungguh tega bertanya ke mana saja si sebatang pohon
kelapa pergi selama ini. Bahkan sejengkal pun ia tidak pergi ke manapun. Lalu,
adil kah jika ia tidak bisa melihat berbagai tempat seperti sahabat-sahabatnya?
Sungguh, jawabannya dunia selalu adil. Ada rahasia kecil yang dimiliki si pohon
kelapa ini. Rahasia kecilnya adalah ketika buah kelapanya jatuh kemudian
terbawa ombak. Melanglang buana lah si buah kelapa itu hingga menuju pesisir
pantai yang ada di pulau bahkan benua lain. Hidup, tumbuh, besar, dan menjadi
manfaat sekaligus saksi cerita bagi orang-orang yang mengunjungi pantai. Bukan
hanya satu, bahkan sekian banyak buah kelapa yang terbawa ke banyak tempat
membuat si batang pohon kelapa tidak sepenuhnya dapat dikatakan tidak bisa ke
mana-mana. Ia menebar biji. Ia menyebarkan manfaat.
Sama
halnya dengan menulis. Meskipun tidak setiap tanah benua kita jajaki. Namun,
dengan karya tulisan kita,kita bisa memberikan manfaat ke banyak orang di
banyak tempat. Menulis itu seperti menanam biji. Menaman kebaikan. Jika ada
yang menyebarkan biji itu ke lain tempat, maka berlipatlah biji itu, kebaikan
itu.
Bang
Tere-Liye menyampaikan satu cerita tentang jawaban bagaimana cara menulis yang
baik. Suatu ketika Bang Tere Liye meminta banyak pesertanya untuk menulis
sesuatu dengan kata “hitam”. Kebanyakan tulisan yang muncul seperti ini: Hitam
adalah warna, hitam adalah duka, hitam itu kelam, hitam itu gelap. Banyak orang
memaknai hitam secara harfiah. Namun, ada satu yang menuliskan kurang lebih
seperti ini “Hitam selalu terlambat. Hitam selalu menjadi yang paling akhir
datang. Hitam selalu tidak bisa mengikuti yang lainnya. Saat yang lainnya sudah
pergi, hitam tertinggal di belakang. Hitam selalu terlambat. Sejak saat itu,
karena itulah, kita hanya menjumpai pelangi tanpa warna hitam.”
Sudut
pandang, that’s right. Hanya orang dengan sudut pandang berbeda lah yang akan
menarik banyak mata untuk membaca suatu cerita dalam tulisan. Jam terbang
menulis juga menentukan suatu kadar tulisan itu. Berlatih menulis dan perbanyak
membaca, dua hal itulah yang harus dilakukan penulis untuk menciptakan karya
yang lain daripada yang lain.
Pertanyaan
banyak yang muncul di sesi tanya jawab. Salah satu yang menarik adalah ketika
ada yang bertanya bagaimana suatu tulisan dapat menarik penerbit karena tulisannya
sudah beberapa kali ditolak penerbit. Di sinilah mataku terbuka. Ternyata bukan
hanya satu, tapi banyak yang sudah memiliki suatu karya tulisan yang ingin
sekali mereka terbitkan untuk dibagi ke banyak orang. Lihatlah apa yang aku
lakukan? Nyala apiku kecil, sangat kecil, hingga sisa waktu yang ada,
kesempatan yang terbuka, membuahkan tangan kosong. Katanya pengen jadi
penulis, tapi hanya ini ini saja yang aku lakukan. Tidak ada progress. Tidak
ada target. Lalu hanya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang entahlah
apa gunanya. Belum terlambat, kata Bang Tere-Liye. Baiklah, mulai hari ini.
Mulai sekarang.
Sebenarnya
masih banyak cerita dari Bang Tere-Liye yang inspiratif. Namun, bisa-bisa habis
sepuluh halaman untuk detail ceritanya. Aku rasa cukup itu saja yang
diceritakan. Hehe. Saat penutup, antusiasme tak kalah luar biasa. Lebih banyak
lagi kamera yang dikeluarkan untuk mencepret sang penulis. Riuh. Tepuk tangan.
Teriakan. Wajah-wajah bahagia. Pengalaman yang tak telupakan. Aku? Senangnya
bukan main.
Selepas
acara kepenulisan dan istirahat. Aku dan Kharis beranjak menuju Malioboro.
Berjalan-jalan melihat aneka produk batik. Pelan, sumpek karena banyaknya
orang. Hingga akhirnya sampai di Mirota. Aroma menyan begitu pekat. Masuk.
Beberapa benda kupilih untuk oleh-oleh. Rasanya tak lengkap jika belum membeli
bakpia juga. Akhirnya setelah puas melihat-lihat, aku memutuskan kembali ke
Solo.
Pukul
15.00 WIB. Antrian panjang. Kereta prameks jam 16.15 WIB sudah tidak menyisakan
tiket lagi. Akhirnya antrian panjang ini adalah penumpang yang terpaksa pulang
pukul 18.30 WIB. Berdiri setengah jam mengantri. Akhirnya dua tiket kugenggam. Satu
untukku dan satu titipan teman Kharis, mas Latif namanya. Alhamdulillahnya kos Kharis tak terlalu jauh dari stasiun.
Istirahat dulu deh di sana sembari menunggu.
Pukul
18.00 WIB aku sudah diantarkan Kharis ke stasiun lagi. Perpisahan. Tak lagi
sendiri saat berangkat tadi pagi, kini ada temen ngobrolnya. Mas Latif, mahasiswa
sastra Arab UGM ini (ex siswa Ibuku) ternyata sama kayak Kharis, banyak
cerita ini dan itu. Tapi ceritanya menarik dan inspiratif juga. Sejak menunggu
kereta hingga di dalam kereta mas Latif banyak bercerita tentang kuliah dan
organisasinya. Katanya, ia pernah ke Belgia untuk perwakilan Indonesia dalam
acara kebudayaan. Ia bercerita betapa susahnya berjuang untuk ke sana. Di
negeri orang, ia juga banyak bercerita bagaimana orang-orangnya, makanannya,
aktivitasnya, dan masih banyak lagi. Rencana bulan depan adalah ke Jepang,
urusan kebudayaan juga. Ia sangat ingin ke sana.
Sekali
lagi mataku terbuka. Bahkan dia sudah ke mana-mana. Bagaimana denganku? Apa
yang telah kulakukan? Apa yang sudah kuhasilkan? Apa yang ingin sekali aku
wujudkan? Akh,rasanya seperti tahun-tahun berlalu tanpa ada suatu pilihan hebat
yang kulakukan.
Harusnya
tahun-tahun berlalu dengan banyak seminar kepenulisan yang aku datangi.
Harusnya tahun-tahun berlalu dengan banyak mengenal dan bertukar pengalaman
dengan orang-orang baru. Harusnya tahun-tahun berlalu untuk mengantarkanku pada
sebuah tujuan jelas apa dan bagaimana aku akan mencapai keinginanku.
Baiklah,
ini bukan tentang penyesalan, ini cerita untuk memulai lembaran yang baru.
Lembaran yang lebih bermanfaat. Melewati hal-hal yang menyenangkan. Mereduksi
kekhawatiran mengenai satu hal. Fokus untuk mengembangkan diri. Pun menggali
untuk menanam biji. Berharap biji yang tumbuh sama hebatnya dengan dua orang
hebat yang kutemui setengah hari ini di Jogja. Selamat berkarya J


