Posted by : Pena Biru Selasa, Februari 24, 2015


Allah, adalah Dzat yag berhak untuk disembah karena memiliki segala sifat kebesaran dan keagungan. Dia sendiri yang mengurusi makhlukNya, sendiri dalam penciptaan, kepemilikan, kerajaan, dan kekuasaan. Dzat yang memberikan nikmat yang lahir maupun batin (Syaikh Umar asy-Syarif)

Betapa segarnya aroma angin malam yang melintas di antara sekat-sekat besi jendela kamarku. Menghirupnya sejenak, lalu sekali hembusan nafas sekaligus melepaskan seutas penat. Kunaikkan pandanganku ke angkasa, betapa hebatnya gugusan bintang itu, betapa teraturnya pola penjarakan antar bintang, betapa sempurna indah bentuk formasi yang tergambarkan.

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya.” (Al-Hijr, 16)

Ya, menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Karena aku berangkat dari rasa lelah dan menyedihkan, maka luasan langit malam yang terhampar menjadi sangat terasa menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Karena aku hanyalah manusia yang jika dibandingkan dengan luar biasanya penciptaan langit malam, besarnya bintang yang hanya tampak setitik, terangnya bintang yang hanya tampak setitik, maka apa yang terjadi denganku (manusia), apa yang aku sibuk pikirkan (manusia), dan apapun persoalan pelik yang tengah mencekik (manusia), hanyalah seperti debu yang tiada berarti. Karena kita hanyalah seperti titik paling kecil di setitik bintang itu. Maka, aku wajib belajar untuk meluaskan pikiran, untuk tidak berpikir tentang diri sendiri, agar otak kecil ini tak sesempit kapasitasnya.
Langit malam dengan gugusan bintangnya adalah seperti bentangan atap yang menjadi objek terindah sebelum istirahat malam. Atap yang melindungi seluruh bumi dari sekian banyak benda-benda yang melintas di alam semesta. Atap yang melindungi seluruh manusia dari bahaya radiasi hingga kenyamanan ini kadang dilupakan untuk disyukuri.

“Dan kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara.”(Al-Anbiya, 32)

Maka, tidak cukup hanya mengamati, tidak cukup hanya menikmati, tidak cukup hanya merasa senang, tidak cukup hanya sebagai pelepas penat karena yang paling utama adalah  merefleksikan segalanya. Apa itu segalanya? Lagi, tentang persoalan dunia. Katanya tidak ada hidup yang tanpa masalah, maka bukankah wajar jika setiap waktu masalah adalah teman yang paling setia hadir menjumpai kita kapanpun dan di manapun. Terkadang masalah itu datang dengan bentuk yang sama tapi cerita yang berbeda dan tingkat yang lebih tinggi. Hingga kita bisa mengambil cara yang sudah kita pernah tempuh untuk mencapai solusi di pemecahan masalah yang baru. Gampang kan? Tentu tidak, tidak segampang teori yang tertulis di sini. Hanya jangan pernah lupa bahwa “setiap kesulitan itu disertai kemudahan” (Al-Insyirah, 5). 
Allah, nama yang paling agung , yang Maha Tinggi, yang Maha Esa, yang sempurna dan dan mulia. Bukankah Allah selalu ada untuk hamba-Nya yang mampu berserah diri, memasrahkan segala urusan dunianya. Ialah pengabul doa-doa yang menjuntai ke langit di saat malam. Maka, lunturkan dilema yang tengah melanda jiwa  dan yakinkan hati bahwa pertolongan Allah selalu menjumpai kita di manapun kita berada.

{ 4 komentar... read them below or Comment }

  1. 100 % setuju dek Afi :D
    Terkadang, ego menjadi hal paling berbahaya yang membuat kita lupa betapa agungnya ciptaan Allah, sementara kita disini hanya setitik benda kecil yang selalu merasa besar tanpa suatu alasan yang jelas. Makasih ya afifah... bagus sekali tulisannya. Sebagus taburan bintang di langit malam #eaaaaa.. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa kak Aul,,... Let's enjoy the night sky with the willingness for repairing our self to be best. :D

      Hapus

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -