- Back to Home »
- Islamic Center »
- Kita Menyebutnya Senjata
Posted by : Pena Biru
Minggu, April 12, 2015
Ampuhnya senjata tidak
terbuat dari rasa tergesa-gesa tapi dari dalamnya kesungguhan sehingga
membuatnya tajam dan siap difungsikan di medan pertempuran.
Siapa orang di dunia ini yang terbebas dari rasa takut,
gelisah, kalap, dan galau? Tidak ada. Benar-benar tidak ada. Hati dan pikiran
yang mengendalikan segenap rasa yang berkecamuk itu mau tidak mau akan selalu
mengiringi setiap langkah kaki manusia. Tiap hari, tiap jam, tiap menit, bahkan
tiap detik bisa jadi jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Nafas jadi
ngos-ngosan. Bibir seakan gatal untuk menggerutu. Semuanya abu-abu. Itulah buah
kekhawatiran yang melahirkan rasa-rasa tidak enak di hati dan pikiran manusia.
Penyebabnya? Bisa jadi ada setiap manusia yang lahir memiliki
variasi kekhawatiran dan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang karena besoknya
mau ujian, makanya tengah dilanda khawatir diselimuti rasa takut hari ini. Ada
yang karena besok sidang di hadapan banyak orang, makanya tengah dilanda
khawatir dan rasa gelisah hari ini. Ada yang karena sedang menunggu kelahiran
buah hati, makanya tengah dilanda khawatir diselimuti rasa berharap yang dalam.
Semua penyebab itu akarnya hanya satu, yaitu tentang esok hari. Tentang satu
detik yang ada di hadapan kita. Ketidaktahuan kita tentang hal itu terkadang
membuat kita khawatir.
Dari dulu sampai sekarang, tidak ada orang yang
benar-benar atau mutlak berani. Bahkan yang mau maju ke medan pertempuran pun pasti
punya rasa takut itu. Hanya mereka-mereka yang benar-benar siap bertempur lah
yang akan dengan dada yang busung yang akan maju. Apa yang dipersiapkan?
Segalanya tentunya. Mulai dari latihan hingga mempersiapkan senjata. Senjata
itu bak amunisi yang menjadi sarana penyelemat diri dari pertempuran.
Benak kita pasti membayangkan senjata itu berwujud
pistol, pedang, golok, bambu runcing atau apalah yang tajam-tajam ketika akan
melaksanakan pertempuran. Tidak salah bayangan itu, kita membutuhkannya, tapi
ada sarana penyelamat lain, senjata terampuh yang bisa diusahakan tanpa
mengeluarkan sedikit pun materi, hanya menyiapkan hati untuk ikhlas. Apa apa
apa? Itu hlo kita melakukannya setelah selesai sholat......
Ya, kita menyebutnya doa. Tadi sudah dibicarakan tentang
ketidaktahuan kita satu detik di depan kita, maka dengan doa, kita bisa
menggantungkan harapan pada Yang Maha
Agung untuk membantu kita dengan cara terbaik-Nya. Bagaimana caranya berdoa?
Simple, seperti kita yang akan minta sesuatu pada orang lain, terkadang kita
membuat orang lain luluh dengan pujian kita terhadapnya lalu kita mendapatkan
apa yang kita inginkan. Jadi, yang pertama itu merendahkan diri di hadapan-Nya,
pujilah Allah dengan nama-nama yang Dia miliki, lalu mintalah apa yang kita
inginkan. Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Pertempuran itu tidak hanya soal perang antara dua kubu.
Bahkan kehidupan kita bak medan perang, kita bak prajurit, menang atau kalah di
akhir nanti, bukankah semuanya perlu diusahakan? Tidak ada yang mau kalah, maka
dengan doa lah kita bisa membuat sayap-sayap penyelamat yang akan menolong kita
ketika kita terluka, terhunus, atau sakit tidak terperi. Dengan doalah, kita
bisa lebih tenang menghadapi satu detik di depan kita, karena kita yakin dengan
harapan bahwa Allah is by our side. Hingga jalan kemenangan terhampar di depan
mata kita.
Doa lah yang dapat membuat kita lebih dekat dengan Rabb
kita, karena kita membutuhkannya, dan kita mendatanginya sebagai hamba yang
lemah. Cobalah bercerita tentang apa yang kita inginkan dan mengapa kita
menginginkannya lalu beri kalimat penutup bahwa yang terbaiklah yang akan Allah
berikan. Yakinlah tentang nasehat bahwa yang baik menurut kita belum tentu baik
menurut Allah, Allah lebih tahu, benar-benar lebih tahu daripada kita.
Maka, ketika doa itu tidak dijawab dengan hasil yang
sesuai harapan kita dan terkadang malah datang sesuatu lain yang kita kira
tidak kita butuhkan/inginkan, maka jangan langsung mengutuki Rabb kita.
Tahanlah, hingga kita benar-benar akan paham seiring waktu bahwa kita akan
mengatakan pada diri kita, inilah yang terbaik, inilah yang memang harus
dilalui, inilah satu-satunya jalan. Pemahaman itu bukan datang seperti kilat
tapi ia datang dari kesungguhan pencarian. Pencarian dari hati dan pikiran kita
tentang mengapa harus ini yang menjadi yang terbaik (tanda tanya).
Selalu
ada makna. Sungguh jika kita mampu menemukan makna, kita akan semakin mencintai
Rabb kita. Kita akan selalu berterima kasih atas setiap detik hidup kita.
Berdoalah, perjalanan di dunia tidak akan terlalu indah. Berdoalah, Allah
sangat menyukai orang-orang yang berdoa kepada-Nya.