- Back to Home »
- Jalan-Jalan »
- Daebak Malang
Posted by : Pena Biru
Rabu, Mei 20, 2015
Jalan-jalan kali ini
menyusuri kota bumi Aremania. Menurutku, kota ini sangatlah komplit. Ada
pantainya, ada gunungnya, ada Mallnya, ada candinya, ada banyak universitasnya,
dan ada banyak wisata liburannya. Kali ini bukan Cuma liburan semata di Malang,
tapi banyak sekali pelajaran untuk kami. Daebak Malang :D
Hari pertama.
Udara pagi yang sejuk di Malang. Tidak terlalu panas
seperti di Solo. Jalanan lengang karena tanggal merah. Mobil travel sudah
memasuki gang-gang kecil di kompleks kos-kosan elite. Hanya 3 kilometer dari
Universitas Malang, rumah salah satu teman kami, Esdaniar. Sambut hangat
keluarga menyapa kami. Tiga gelas santan asin menjadi minuman kami yang
pertama. Ngobrol sejenak, akhirnya pantai menjadi destinasi pertama.
“Eh lihat itu Pantai Gua Cina, tapi aku sudah pernah
masuk, kita cari pantai lain ya.”Ajak Esdaniar untuk mencari pantai lain.
Perjalanan hampir dua jam untuk mencapai wilayah pantai di Malang. Jalannya pun
harus berliku-liku, mendaki gunung lintasi lembah #eh. Tak jauh, ada papan
bertuliskan Pantai Bajulmati, akhirnya mobil yang disetir Esdaniar berbelok.
Cukup ramai. Ombak sudah berderu-deru seperti memanggil kami untuk segera ke
pesisir.
“Kok pantainya nggak indah ya, gimana kalau kita cari
pantai lain di balik bukit itu?” Ajak Diansyah ketika melihat pantai berpasir
cokelat ini. Belum juga mencicipi air, kami meneruskan perjalanan mencari
pantai yang indah, haha. Dua kilometer kemudian tampak papan bertuliskan
“Pantai Ngudel”. Mobil berbelok arah ke jalan yang tidak beraspal, sempit, dan
berbatu.
“Yakin ke sini? Kok nggak ada tanda-tanda manusia?”
Tanyaku pada Esdaniar yang masih tampak antusias melewati offroad ini. Ipeh
sudah mulai tampak tegang, matanya lebar menatap jalanan. “Iya, nanti pasti ada
jalan. Kalau nggak ada orang berati nanti pantai milik kita bertiga.” Ujar Esdaniar
yang masih terus memaksa mobilnya di jalanan yang becek.
Sebuah buah kelapa tergeletak di tengah jalan. “Awas!”
Dukk..... Bunyi
tubrukan mobil dengan buah kelapa. Lagu-lagu
Fatin yang diputar sepanjang jalan seperti tak bernyawa lagi, tidak ada yang
peduli dan bernyanyi lagi. Jalan becek sekali lagi. Aku berpegang erat, mobil
bergoyang. Beberapa kali Diansyah bertanya,”Gimana mbak, pulang nanti jalannya
lewat sini juga?” Esdaniar menimpali,”Iya, kalau nggak kita nanti cari jalan
baru. Pasti ada jalan.” Wajahnya tenang, tidak tergerus khawatir seperti wajah
penumpang lainnya.
Jalan becek sekali lagi. Seorang penumpang memberi usul
untuk menghindari jalan becek itu dengan melewati rerumputan di samping jalan
becek itu. Lalu, mobil sedikit berbelok dan berhenti. “Tuh kan, rumput itu
menipu. Malah tambah becek.”Ipeh berkomentar. Hening sejenak menunggu usaha
Diansyah untuk memacu lebih keras agar mobil bergerak. Tapi nihil. Dia keluar
dari mobil, mengecek roda-roda yang amblas di tanah becek.
Pikiran-pikiran kalut sudah mulai bermunculan. Ada yang
bilang nggak mau masuk berita atau sejarah karena kejadian ini.Ada juga yang
bilang menyerah dan harus balik saja, tidak jadi ke pantai. Ada juga yang
bilang ini kayak Fast and Furious, Make It Real, haha. Entahlah, aku hanya bisa
berdoa, berharap Allah menolong kami. Sekali lagi, harus aku akui Esdaniar
punya optimisme yang tinggi, ketenangan di atas batas, dan santai bahkan di
situasi kayak gini. “Kalian deg-deg an ya? Kok aku biasa aja ya?” Katanya. Ya,
pelajaran hari pertama adalah tentang sisi optimis, seenggak mungkin apapun
sesuatu untuk terjadi, kita perlu percaya itu selalu mungkin. Jauhkan pikiran tentang kemungkinan terburuk,
jadilah tenang bahkan di saat terberat.
Dewi fortuna membantu kami berbelok dan kembali. Tidak
jadi ke pantai karena kami tidak tau seberapa jauh lagi becek ini harus
dilalui. Akhirnya kami mendarat di Pantai Bengkung. Berlarian, kami merapat ke
pantai berpasir putih ini.
Hari kedua.
Selesai Shubuhan, kami berjalan-jalan pagi menuju Candi
Badut yang letaknya tak jauh dari rumah Esdaniar. Sayangnya kami kepagian,
akhirnya hanya berfoto-foto di dekat Candi Badut. Sedikit informasi tentang
Candi tertua di Jawa Timur bisa ditemukan di sini http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_badut
Setengah jam kemudian kami beranjak pulang. Persiapan
untuk destinasi kedua, yaitu keliling universitas-universitas Malang untuk satu
misi, distribusi Majalah. Universitas pertama yang dikunjungi adalah
Universitas Negeri Malang. Cukup sepi karena sudah mulai liburan semester.
Namun, sekre UKM masih tampak aktif. Apalagi LPM SIAR yang kami kunjungi tengah
mengadakan magang untuk anggota baru jadi sekrenya ramai.
Selanjutnya
kami menuju Universitas Brawijaya dengan lebih banyak LPM karena tingkat
fakultas. Satu per satu pintu kami masuki, berbeda sapa, ada yang hangat dan
antusias, ada pula yang acuh tak acuh. Sedikit diskusi sana-sini tentang
dinamika mahasiswa Malang ataupun isu-isu yang bergulir. Ditemani salah seorang
dari mahasiswa FEB, anggota LPM Indikator, kami berjalan mencari beberapa LPM
yang belum ditemukan, terima kasih untuk adik itu, sebut saja Indra atau Rian.
Dialah tour guide kami, bercerita fasih tentang keadaan UB.
Sekian
banyak sekre yang kami kunjungi, hanya satu sekre yang menyuguhkan minuman
untuk tamu jauh seperti kami, haha. Saat di sekre LPM fakultas peternakan, mas
Ivan membuka diskusi tentang organisasi eksternal mahasiswa. Antusias sekali
mas Ivan bercerita tentang pergulatan politik yang secara terbuka disisipkan
dalam berbagai acara. Tidak seperti di UNS yang terkesan underground, mahasiswa
UB secara terbuka dan diketahui mahasiswa umum bahwa dialah golongan A, B, dan
O (darah kaleee, hehe).
Pelajaran
kedua adalah tentang apa yang seharusnya dimiliki mahasiswa, yaitu passion
untuk terlibat dalam gerakan. Bukan hanya tentang kuliah pulang, praktikum
pulang, tapi berorganisasilah. Ada banyak hal dan persoalan yang mengasah
pemikiran kita, menerbitkan pandangan kita tentang suatu hal, hingga tergerak
untuk membangun perubahan. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa lain di berbagai
universitas seperti tengah menimba pengetahuan di banyak sumur-sumur ilmu.
Hari
ketiga.
Aku
menghirup dalam udara Malang, hari terakhir ini, semoga menyenangkan. Kami
bergerak ke arah Batu, menuju alun-alun. Cukup ramai jalanan, macet.
Sesampainya di alun-alun Batu, betapa banyaknya anak-anak TK yang tengah lomba.
Kami ingin menyelip dan naik kurungan burung tapi ternyata harus menunggu
hinggu jam 12 dulu. Rencana gagal. Di sini, hanya melihat-lihat dan selfie
saja. Tidak banyak cerita untuk hari ketiga, kami harus segera mengejar jadwal
kereta sehingga sore kami cabut dari rumah Esdaniar. Bye-Bye Malang.
Pelajaran
ketiga merangkum cerita keseluruhan, adalah tentang kami, sebut saja Afi, Dani,
dan Ipeh. Kami lahir dari luka. Kami bercerita tentang luka. Tapi terasa
menyenangkan luka itu. Karena luka itulah yang membawa kebersamaan untuk kami.
Luka itulah yang menegakkan kami, menyatukan tangan kami, hingga kami mampu
mencukil luka itu sedikit demi sedikit dan menggantinya dengan bahagia.
Meskipun bekas luka masih ada, tapi itulah ciri kami bertiga. Semoga sukses
menyelami arti perjalanan ini.Daebak Malang.............
