- Back to Home »
- Special Thing »
- (Jika) Aku Guru
Posted by : Pena Biru
Selasa, Mei 05, 2015
Great
teacher is a great artists.
Teaching is perhaps the greatest of the arts
because the medium is the human mind and spirit (E. Paul Torrance)
“Putri,
apa cita-citamu besok kalau sudah
dewasa?” Tanya seorang guru Bahasa Indonesia tatkala membahas bab “Cita-Cita”.
Aku adalah siswa kelima yang disodorkan pertanyaan itu. Aku tersenyum sembari
menjawab,”Guru, Bu.” Jawaban yang berbeda dengan keempat temanku sebelumnya
yang semuanya memilih menjadi seorang dokter. Jika aku yang masih kecil itu
ditanya alasannya, itu karena orang tuaku berprofesi guru makanya aku ingin
menjadi guru. Sederhana, tidak ada orientasi apapun.
“There
are many reasons why people choose teaching as a career. One strong motivation
for many teachers is their identification with adult models-parents and
especially teachers-during their childhood.” Beberapa waktu lalu aku mencatat
sebait kalimat milik Allan C Ornstein di buku The Art of Teaching. Jika bukan
orang lain, maka akulah yang memiliki alasan itu, alasan mengapa aku ingin
menjadi guru. Ayah dan Ibuku adalah dua sosok guru madrasah yang pada waktu itu
sangat menginspirasiku. Aku tidak pernah dipaksa menjadi dokter seperti kebanyakan
orang tua zaman itu karena menganggap dokter sebagai profesi terbaik (baik
kedudukannya, baik uangnya). Ayah dan Ibu hanya dan selalu tersenyum ketika
mendengar aku ingin menjadi guru. Katanya, tidak ada cita-cita yang salah, yang
salah adalah mereka yang tidak punya cita-cita.
Ibarat
roda yang selalu berputar, maka zaman tidak akan pernah diam. Sistem yang
berganti-ganti menjadi pilar terbesar dari perubahan pola pikir masyarakat
tentang profesi guru. Penghasilan yang “wow” menjadi tujuan yang hendak dicapai
dan menggeser tujuan sejati seorang guru. Jika aku benar-benar menjadi seorang
guru, maka pertanyaan pertama dari semua pertanyaan adalah, “pantaskah aku?”
Jika aku selalu bertanya pada diriku, sudah sepantas apa aku ingin menjadi
guru, maka aku berusaha melahirkan setiap usaha dan bermimpi setinggi mungkin.
Bukan mimpi yang hanya menggantung seperti bintang yang tidak akan pernah
kucapai, tapi aku akan ambangkan mimpi seperti awan yang bisa kuraih dengan
mendaki.
Aku
tengah mencicipi mimpi itu sedikit. Ya, sedikit karena aku telah mengakhiri
ceritaku dengan mereka akhir bulan ini. Mereka memanggilku “Bu Afifah” dengan
tampang-tampang lugunya. Masih ceria. Masih penuh gairah bertanya ini itu.
Masih kadang manja dengan tak mau melepaskan tanganku. Masih mengerjakan LKS
dengan senyum lebarnya. Masih kadang manyun jika diberikan pekerjaan rumah.
Masih kadang jahil mengerjaiku dengan pertanyaan konyol dan seru. Masih
kooperatif mendengarkan ceramahku. Masih super nurut dengan semua peraturanku. Mereka,
siswa pertamaku.
Mengenang
saat-saat mengajar mereka adalah fase yang menyenangkan. Perkenalanku dulu
amatlah kaku saat pertama kali bertatap muka dengan mereka di awal pelatihanku
menjadi guru. Perhatian mereka ketika aku mengajar, keaktifan mereka ketika
praktikum, dan sorak sorai mereka ketika pemutaran film menjadi bagian kegiatan
ketika pembelajaran berjalan. Lama lama aku paham bahwa aku perlu memberikan
cerita motivasi di luar transfer pengetahuan. Maka, aku mencoba bercerita. Aku
berlatih dan menghafalkan cerita, khawatir jikalau nanti aku masih tampak
grogi, haha. Cerita yang paling menarik adalah cerita tentang burung pipit,
kura-kura, dan pohon kelapa milik bang Tere Liye yang aku sampaikan setelah
beberapa bulan tidak bertemu mereka. Sekali bertemu mereka kembali, hangat sapa
dan wajah bahagia menyambutku, membuatku setengah kaget dengan respon mereka.
Mereka, siswa pertama.
Selama
ini, aku banyak belajar tentang kelas. Tentang ketua di kelas mereka, si Rezza
Sitorus yang selalu saja tampak semangat bertanya dan menjawab pertanyaan, yang
punya mimpi jadi koki kapal untuk mendarat ke banyak pulau dan negara, yang
paling jahil tentunya, dia selalu tertawa renyah ketika akulah korbannya berkali-kali.
Tentang cewek paling cantik di kelas mereka, si Fatma yang selalu saja
mengedipkan mata untukku, membuatku selalu geli dan menahan tawa, manja dan
lucu jika berbincang denganku. Tentang cewek pinter dan rajin di kelas mereka,
si Hafidzah yang terkadang terbit pertanyaan out of the box, nurut, tidak
pernah mengeluh, dan so calm. Tentang seluruh siswa X-1 yang tidak bisa
disebutkan satu per satu, mereka masing-masing punya kesan tersendiri untukku.
Terima kasih sudah merakit cerita yang menyenangkan dengan Ibu ini.
Berdiri
di depan mereka, menerbitkan banyak harapan yang tiba-tiba saja hadir di
benakku. Harapan untuk mereka, aku ingin mereka mampu memahami pengetahuan yang
aku bawa, mengaplikasikannya di lingkungan, tumbuh menjadi manusia yang berguna,
dan tetap terus memiliki semangat yang membara untuk menimba ilmu. Lalu, aku
benar-benar ingin punya siswa sendiri. Untuk Ibu Bapakku, terima kasih telah
banyak mengajari sikap tanpa perintah kepadaku. Anakmu ini merasakan betapa
menyenangkannya mencoba menjadi guru.
Jika
aku menjadi guru nantinya atau bagi siapa saja yang ingin jadi guru nantinya, urgensi
yang paling utama adalah tidak pernah berhenti membekali diri dengan
pengetahuan dan pengalaman. Meskipun profesi guru sudah berhasil dipegang, tapi
belajar tidak boleh dilepaskan. Jangan mentang-mentang sudah sarjana maka usaha
selanjutnya hanya sebatas menyampaikan. Mengembangkan diri, memperluas wawasan,
dan melatih keterampilan menjadi target yang perlu terus ditingkatkan mengingat
tuntutan zaman yang tidak lagi main-main. Guru haruslah menjadi pembelajar
sejati yang selalu mengaktualisasikan diri pada isu-isu penting agar mampu
menggulirkan perubahan meskipun perlahan-lahan.
Sebelum
menutup mimpi, maka yang tidak boleh terlupakan adalah guru sebagai contoh
teladan bagi siswa. Seperti yang dikatakan Thomas bahwa the most important
thing in teaching is teacher’s personality, maka karakter guru menentukan
persepsi siswa terhadap apa yang baik dan apa yang buruk. Karakter itu erat
kaitannya dengan kebiasaan. Kebiasaan baik tentunya melahirkan karakter baik
pula. Maka, semuanya yang baik-baik perlu dilatihkan sejak sekarang agar “jika
aku menjadi guru” benar-benar tercapai, aku tidak akan menanggung malu karena
buruknya sikapku di hadapan siswa-siswaku.
Be a good teacher
everyone ^_^