Posted by : Pena Biru Minggu, Mei 22, 2016


Kata-kataku hampir-hampir habis ditelan hujan. Tidak ada yang tersisa kecuali beberapa pertanyaan saja. Tentang bagaimana dan kita. 


Ada kabut yang tertahan di bawah langit yang menangis. Memudarkan segala yang seharusnya jelas di mata. Memperlambat langkah kaki yang mencari jalan kembali. Di mana aku? Apakah aku hanya akan sekali lagi basah dan menggigil sia-sia? Ah, setidaknya aku bisa merasakannya, hujan ini, yang mengalirkan bulir-bulir yang tidak begitu deras, mengacaukan dan mengindahkan.
Hujan masih sama. Tapi cuaca yang berubah. Seperti masaku kah? Ah, jawabannya terlalu jelas. Ada rindu, yang terbawa diantara cepatnya molekul itu menuruni gradiennya. Ada warna, yang menanda di setiap dentuman lembut air itu menyapa tanah. Ada aku, yang menghancurkan hujan dengan keluhan dan pertanyaan. Ada kita, yang sama-sama kehujanan.
Aku lupa bahwa hujan punya waktu. Tidak selamanya maksudku. Hanya ketika itu, ketika petir dan payung beradu, aku membuka satu per satu lembaranku. Mengingatkanku tentang aku dan hujan di antara sedu. Membanjiriku penuh dengan milyaran rasa yang kelabu. Aku tidak sedang patah hati, karena ini bukan drama yang menguras isi hati.
Hujan tidak hanya soal sedih. Karena hujan dan mimpi adalah dekat, dekat tanpa kita diantaranya. Setiap kali hujan, sekeranjang mimpi pun mulai tumbuh. Aku bermimpi untuk dunia, duniaku maksudnya. Apa? Membuat hairdrier yang jika disemprotkan ke air maka air itu berubah jadi salju. 
Hujan masih belum reda. Apakah akan ada pelangi nantinya? Rahmat yang menjuntai jatuh, rintik-rintik ini, yang menggenang, yang mengalir, yang teresap, adalah sudah yang paling indah takdirnya. Bagaimana denganku, hujan? Ah, ambigu
Baiklah, aku meninggalkan hujan dalam senyap. Membiarkan alunan merdu hujan menjadi nyanyian tidur yang paling sempurna. Melupakan setiap detik-detik yang sungguh terlalu panjang. Mengubur pertanyaan dalam-dalam dan jauh di dasar hingga tak lagi kutemukan. Selamat malam, hujan.

22 Mei 2016






-Note-
*Ghan, Thanks to ask me when I write once again and Happy Birthday boy...... Cieee cieee cieee Hope you will be a cool and loyal person one day J

Boy, hujan berbunyi tik-tik-tik di atas genting, sama seperti lagu itu. Ah, lucunya ketika menyanyikan lagu hujan saat menjadi anak-anak. Karena kau akan tau boy, lagu hujan bahkan kata hujan yang terdengar atau tertulis nantinya akan menjadi penanda sempurna sebuah kisah, entah pilu entah ceria. Selamat berkisah, boy J

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -