Posted by : Pena Biru Selasa, Maret 15, 2016


Tidak pernah seistimewa ini. Tidak pernah sekonyol ini. Tidak pernah sepuas hati tersenyum seperti ini. Tidak pernah, benar-benar tidak pernah jika bukan karena kita adalah orang-orang yang langka. “Selama kamu mau temenan sama aku, kamu juga termasuk orang langka (EK, 2015)”

Ketika aku nonton serial kepompong di salah satu stasiun televisi, rasanya pengen banget punya sahabat macam Indra, Sasha, Bebi, dan Tasya. Yang tinggalnya satu kompleks. Yang sekolahnya sama. Yang setiap sore bisa main bareng. Yang enggak jaim satu sama lain. Yang masing-masing memahami karakter unik yang dimiliki. Yang bisa saling cerita puas tanpa batas. “Yang berteman bagai ulat dan berharap jadi kupu-kupu” (nyanyi dulu....#eaaa,hihi).
Apakah aku punya sahabat yang seperti itu? Sepertinya sahabatku rumahnya jauh-jauh,wkwk. Tapi aku tetep punya sahabat baik dari berbagai macam latar belakang. Dan yang punya beragam karakter unik. Hanya saja nggak bisa setiap hari kami saling bertemu dan cerita-cerita. Tapi tetep deh nggak kalah keren pastinya persahabatan kami dengan yang diceritakan persahabatan kepompong, hehe. Selalu banyak cerita yang nggak terlupakan, #halah.
Pokoknya nggak salah deh kalau ada yang bilang waktu tuh bisa cepat sekali berlalu ketika kita tengah melewati fase yang menyenangkan. Kata Tere Liye, “mengapa embun itu indah, karena ia begitu singkat. Yang berharga selalu terasa berjalan singkat”. Termasuk ketika aku main sama sahabatku, cerita ini dan itu, curhat tentang cinta, hingga berbagi mimpi dan masa depan. Bahkan bukan hanya membahas masalah pribadi, masalah negara, sampah, dan propaganda agama pun menjadi snack renyah ketika kami tengah bersama, haha (diskusi men, no ngrumpi deh, wkwk).
Apalagi kalo kita punya sahabat yang unik, yang langka, yang bisa menginspirasi, asik banget deh. Juga yang punya hobi sama, bakalan menyenangkan ketika sedang bareng sahabat. Sebut saja EK. Pertama kali hal yang mengesankan adalah ketika ia menghadiahkan aku sebuah pembatas buku dengan tulisan “Afi, O-daijini” pas aku lagi sakit. Oh, God aku tersentuh banget #eaaa. Terus dia suka foto dengan kertas bertulis untuk sahabat-sahabatnya. Dan suka cerita dari berbagai negara, bacaannya buku-buku aneh, dan lagu di playlistnya nggak satupun aku tau, haha.
Rasanya seneng bisa kenal dan sahabatan sama EK selama empat tahun ini. Hei EK yang mungkin sekarang sudah di kampung halaman, terima kasih sudah menginspirasku lewat berbagai pandangan, sikap, dan cerita-ceritamu (yang kadang konyol sih, wkwk). Terima kasih sudah mau menerimaku untuk nebeng mandi di kosmu selama semester sibuk itu. Terima kasih sudah menguatkanku saat-saat terberat di organisasi. Semoga kita tetap bisa memberikan manfaat kepada orang lain lewat keberadaan kita.
Dewasa ini, sahabat lain datang dari biologi. Tidak akan pernah habis jika membahas perjalanan persahabatan di biologi. Semboyan persahabatan kita adalah “tidak perlu kata romantis untuk menyatukan kita” #eaaa. Sebut saja UNF, YM, and AM, juga banyak inisial lainnya (ada 70-an soalnya, haha). Kita sudah banyak ditempa dengan tekanan yang kuat, maka kita adalah orang-orang yang hebat. Kita sudah banyak menghabiskan banyak waktu untuk belajar, maka perjalanan hidup kita bukanlah sia-sia. Kita sudah banyak makan di warung burjo yang sama dan tidur di lantai yang sama, maka cerita-cerita yang pernah terceritakan semoga tidak akan pernah terlupa, hehe.
“Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”(nyanyi maning deh lagu kepompongnya......). Puisi terakhir yang aku bacakan ketika di hotel Lodji itu adalah karya yang khusus aku persembahkan untuk kalian, sahabatku di biologi.

Kebersamaan selalu berawal dari sebuah perjumpaan
Sebuah perjumpaan yang mampu mengenalkan kita satu sama lain
Kita, dengan wajah-wajah lugu, saling tersenyum dan mulai berbagi segalanya
Kita, yang setiap pagi, bermimpi, belajar, dan berjuang bersama
Kita, dalam perputaran setiap musim, kadang pernah merasa berat karena perbedaan
Juga perdebatan panjang, dan perselisihan yang membuat luka

Namun kita tak pernah lupa bagaimana caranya bahagia
Bahagia menikmati setiap momen istimewa saat kita bersama
Seperti nada yang terus menerus mengalun
Cerita kita pun mengalun seperti bait-bait simfoni
Membisik merdu, membisik bahwa kita adalah satu
Satu dalam kebersamaan

Tidak ada yang aneh dari kenangan ini
Kenangan tentang langkah-langkah kaki kita yang serasi
Tentang embun pagi hingga malam dingin yang terlalui
Tentang lelah yang benar-benar terasa manis
Tentang tawa, canda, dan suka cita di antara kita

Tentang persahabatan yang katanya seperti metamorfosa kepompong menjadi kupu-kupu
Maka boleh jadi kita sekarang berada dalam fase merakit komponen sayap-sayap
Membuatnya berwarna, melebarkannya, menguatkannya
Hingga jika kita mentas dari selaput pupa
Maka kita siap sedia menghadapi dunia yang sebenarnya
Masing-masing kita, dengan sayap yang berwarna-warni,
Beriringan meski berbeda jalan

Namun ada yang benar-benar aneh sekarang
Saat tiba-tiba ada kata rindu yang terutarakan
Saat beberapa menit saja bertemu menjadi ajang cerita masa lalu
Cerita yang tidak terlupakan, cerita yang indah, dan cerita yang tidak akan pernah berakhir
Sekarang, bukan lah sebuah perpisahan di depan kita
Bukan saatnya bersedih hati dan merasa kehilangan
Ini hanya sebuah fase untuk mengintervalkan perjalanan kita
Kita yang masing-masing punya banyak mimpi untuk melanjutkan perjalanan
Atau hanya sekedar menjalani hidup yang mengalir bagaikan air

Apapun mimpi yang kita punya, kita sama-sama berharap
Bahwa waktu yang terjelang di depan kita masih menyediakan kesempatan untuk kita saling bersua
Mari menandai malam ini, sebagai hari dengan suasana yang menyenangkan, seperti membayangkan saat daun-daun angsana menanggalkan cabangnya, terbang ke sana kemari, syahdu gugurnya, bukankah indah? Seperti indahnya cerita kebersamaan kita
Hingga kita tidak akan pernah lupa
Hingga kita tidak akan pernah merasa sendiri
Karena sampai kapan pun, hati kita selalu dalam kebersamaan ini

Gimana rasa puisinya? Wkwk.

“Namun kini kita melangkah berjauh-jauhan” (lanjut dulu yang nyanyi lagu kepompongnya, hehe). Temanya kini adalah perpisahan. Aaaaaakkkk, enggak mau pisah, pengen nangis cilik (stop menye-menye!!!). Satu per satu sudah dan akan pulang ke kampung halaman atau bahkan ke tempat perantauan lainnya. Jadi, jauh itu adalah tidak saling bertemu untuk waktu yang lama. Dunia kita akan sangat berbeda ke depannya. Menjadi apa. Seperti apa. Entahlah, aku hanya sedang gimana gitu #halah.

Life is like riding bycyle. To keep your balance, you must keep moving. Aku harus rela. Aku harus ikhlas. Semuanya memang harus moving. Termasuk aku, moving ke dunia yang sebenarnya (“dunia yang sebenarnya” adalah dunia yang banyak orang katakan kepadaku seusai wisuda). Baiklah, aku akan mengayuh sepedaku, tetap dengan sahabat sekarang meskipun di jalanan yang berbeda dan mencari sahabat baru sepanjang perjalanan ke depan. Semoga sukses semuanya. I love you all.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -