Posted by : Pena Biru Rabu, Juni 01, 2016


Sempurna adalah bunga. Sempurna adalah hermaprodit. Sempurna adalah sepasang jodoh. Sempurna adalah Tuhan. Tidak sempurna adalah aku.

Aku sudah lama di bumi. Berapa tahun (tanyamu)? Entahlah, aku malas menghitungnya, yang aku tau sudah lama. Aku sudah banyak menangis. Mengapa (tanyamu lagi)? Entahlah, apa aku harus punya alasan untuk meneteskan air mata? Aku berkali-kali jatuh. Apakah sakit (tanyamu lagi dan lagi)? Mungkin karena terbiasa, rasanya hampir hampir biasa saja.
Apakah kau tahu tentangku (aku balik bertanya dan kau menatapku). Aku suka hujan. Aku suka jika aku kehujanan. Aku suka harum tanah seusai hujan. Aku suka menanti pelangi. Oh ya, aku sering berantakan dan ceroboh. Sama (katamu). Aku tertawa. Aku bilang aku keras kepala. Aku seperti gelombang air laut. Aku seperti cuaca yang berubah-ubah. Aku banyak melukai. Aku banyak meninggalkan. Aku tidak tau kapan menjadi guguran daun kering atau api yang menyala-nyala. Aku hanya tau dimana halte bus dan jalan menuju rumah.
Apakah aku pernah memintamu berada di sini (tanyamu)? Tidak pernah sama sekali. Apakah kau merasa terbebani karena keberadaanku?  Bukan seperti itu, bukan, hanya saja setiap perempuan di dunia melakukannya. Hawa pun melakukannya tapi ia sembari berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya. Tapi aku hanya diam. Apakah selalu harus aku katakan (tanyamu ambigu)? Jangan bicara saja kalau begitu. Cukup, kataku. Mengapa terus seperti Dolphin yang bicaranya melalui ultrasound? Mengapa harus membulat-bulat dan meminta pihak lain yang mengartikan? Apakah jelas itu menyakitkan?
Hei, aku tidak sempuna. Yang menyembunyikan ketidaksempurnaannya dibalik segala yang tampak mata. Tidak sebaik seperti orang yang pernah mengatakan bahwa aku baik. Tidak semanis seperti orang yang pernah mengatakan bahwa aku manis. Aku bukan cinderella. Bukan pula putri salju. Bukan Fatimah Az Zahra ataupun Khadijah. Apakah akan baik-baik saja (tanyaku)? Satu hari. Satu tahun. Beberapa waktu berselang, hanya kutemui angin semilir yang terjebak dalam ruang-ruang waktu.
Hei, aku tidak sempurna. Jangankan orang lain, aku ragu apakah aku sudah menerimaku sendiri. Bahkan aku melihat bintang lebih sempurna dariku. Lebih indah bersinar terang. Apakah memang hatiku yang salah, yang kurang besar, yang kurang berwarna sehingga tidak tampaklah apa yang ada dalam diriku? Haha (Aku tertawa). Apa yang harus aku lakukan kalau begitu (tanyaku tanpa tanda tanya).

Hei, aku tidak sempurna. Ya, karena aku manusia, yang punya bunga makna yang tumbuh setelah hujan yang tanpa jeda. Ya, karena aku manusia, yang tidak pernah benar-benar tau dimana letak ketidaktauhanku.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -