Posted by : Pena Biru Rabu, Desember 28, 2016


Kau dan aku hanyalah dua manusia yang tak tau bagaimana menghabiskan malam tanpa pertanyaan. Barangkali ada banyak pertanyaan yang tersimpan, utuh dan tak tersentuh atau habis bahkan hilang tenggelam dan terlupakan. Barangkali kau dan aku hanya banyak menghabiskan diam. Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga aku tak tau cara untuk bertanya. Dan diam itu menjadi dingin yang membekukan ruang-ruang kita.

Kau dan aku hanya pernah bersama berjalan di suatu waktu untuk akhirnya di perempatan berbelok ke arah jalan yang berbeda. Aku banyak mengerti sepanjang jalan yang kau dan aku lalui,ada banyak kerikil, lubang jalan dan hujan deras. Aku pernah tersandung, tapi kau mengajariku untuk berdiri dan melupakan rasa sakit. Aku pernah kehujanan, tapi kau mengajariku bagaimana menikmati hujan dengan suka cita.

Kau dan aku pernah hanya bercakap lewat apa yang hanya kau dan aku bisa terjemahkan. Kau dan aku bahkan mengeja hujan dengan sekutip puisi yang sama. Inikah yang benar-benar kau dan aku pilih untuk menjadi sebuah kenangan? Aku bertanya pada hujan, ia membalasnya dengan rintik-rintik menyakitkan.

Aku menunggu dan menunggu hingga akhirnya mendung selesai melaksanakan tugasnya. Tak ada lagi hujan. Tak ada lagi kau dan aku. Tak ada lagi teka-teki yang ditunggu. Aku menghirup sisa-sisa hujan yang menguap lembab. Maaf atas segala kisah yang pernah begitu berlebihan, kau dan aku hanya salah mengira bahwa kita berada dalam frekuensi yang sama.

Terima kasih untuk selalu membawakanku lilin di malam hari, mengajarkanku bagaimana untuk menyalakannya, lagi dan lagi, hingga kini aku belajar sendiri bagaimana menjadi cahaya. Terima kasih untuk setiap pertanyaan apa kabar, yang membuatku mengerti bahwa menunggu itu adalah untuk menjawab kabar. Aku baik-baik saja, entah kapan.

Terima kasih telah menjadi metafora yang mempesona. Tapi takdir Tuhan memang banyak melahirkan elegi yang lebih indah. Meski aku belum bisa memeluk takdirNya, barangkali semua butuh waktu. Ada banyak puing yang harus aku pungut kembali, ada banyak sisa-sisa diagnosa yang harus segera kurapikan.

Usai malam yang tak akan pernah benar-benar melelapkanku. Usai detik-detik yang berlayar pada arah yang tak pernah benar-benar ada. Usai merangkum seluruh abjad untuk sebuah coretan-coretan kisah. Kau dan aku memilih. Pulang untuk menjemput pagi. Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu. Kau dan aku tahu bahwa kita mencintai Allah, maka artinya kita mencintai takdir yang Ia berikan untuk kita.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -