- Back to Home »
- Coretanku »
- Musim Dingin
Posted by : Pena Biru
Jumat, Februari 03, 2017
Bukan
salju, dingin ini hanya tentang beberapa rintik yang masih tertahan. Cepat atau
lambat, ia akan hilang, meski hujan yang datang selalu memiliki rintik yang
berbeda.
Sisa hujan pagi ini masih terasa
lembab dan dingin. Belum usai uap-uap naik dari kelopak-kelopak merah muda,
satu dua titik air kembali datang. Seakan ingin segera merekahkan kuncup yang
lain, tapi tiada guna, karena ia membuat akarnya koyak untuk akhirnya mudah
sekali tercerabut dari tanah. Karena ia datang dari langit yang masih berduka, dari
deras air yang tidak menumbuhkan harapan dan kekuatan.
Gumpalan
hitam berserakan di langit-Nya. Ia masih menyembunyikan matahari yang pergi
ketika siang hari, menghilangkan bulan dan bintang hingga hanya bersisa gelap dan
meninggalkan senja tanpa kejora. Meski air di khatulistiwa tidak akan pernah
punya banyak sisi, tidak akan pernah mencapai ukuran minimum temperatur
Celcius, ataupun tidak akan pernah mampu membuat jalanan seperti selimut putih,
hari ini juga sebelumnya selaksa musim dingin yang paling dingin. Mungkin bukan
hanya tentang hujan, musim dingin terbentuk dari kombinasi sempurna langit dan
cerita yang berjalan di bumi.
Ada
dua cangkir kopi hangat yang melengkapi percakapan dalam kenangan hujan. Ada
lantunan gitar dan nyanyian sendu yang menderu mengikuti deras air yang turun.
Ada rindu yang ikut mengembun di kaca jendela. Entah itu kenangan siapa, atau
masa yang mana, hujan yang lebih tau. Pun aku, jatuh cinta pada kenangan-kenangan
yang sama yang selalu diantarkan hujan di musim dingin.
Adakah
musim dingin yang lebih mampu membekukan sebuah hari lebih dari ketika hujan membasahi
tubuh dan angin yang mengilukan tulang selain ketika cerita berfrasa tanpa
akhir bahagia? Cerita kita mungkin terlalu dingin karena berada tepat di antara
derai metafora tentang hujan. Hampir setiap hari, dua puluh empat jam berlalu,
yang ada dan terus ada hanya daun-daun jatuh yang basah, lumut-lumut yang
subur, sepatu yang kotor, dan aku yang
terus tertawa karena hujan yang selalu bicara tentang keikhlasan dan
kepasrahan.
“Ikhlaskan,
akan digantikan dengan yang lebih baik.” Aku pernah mendapatkan dan melepaskan
tapi tetap hilang pada akhirnya. Kini, sepertinya aku tidak peduli lagi. Apa
yang salah dari kata mengikhlaskan hingga bagiku ini melelahkan baik untuk
menerima kedatangan dan melepaskan sebuah kepergian. Katanya, orang selalu
punya alasan untuk pergi. Pun selalu punya alasan mengapa memilih untuk
bertahan. Tapi aku tidak punya alasan untuk menahan.
Hei,
hujan, bolehkah aku menyematkan satu kabar lewat molekul-molekul yang kau bawa,
yang kau alirkan, menuju kepadanya, yang aku harap selalu bahagia. Aku menggenapkannya
kepada Yang membirukan lautan, langit,
dan hatiku, aku hanya akan tetap kehujanan hingga aku menemukan orang di tepi
jalan. Sebelum saat itu datang, maka izinkan aku hanya menghabiskan waktu tanpa
sebuah perkenalan dan kedatangan. Sebab tidak berani berharap apa-apa, aku mohon.
Pun sebab lelah, aku mohon.

Smoga orang d tepi jalan yg ditemui mau utk mminjamkan payungnya padamu, atau jika ia pun tidak mmiliki payung, mk stidaknya ia mau mnemanimu mnanti hingga hujan reda dan langit mnyisakan pelangi. Smoga orang sprti itu, bukan org d tepi jalan yg hnya lewat dan berlalu mnatapmu :)
BalasHapus