Posted by : Pena Biru Selasa, Maret 26, 2019



Istilah nitijen pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Masyarakat digital ini memang suka komen di media sosial para tokoh publik. Kesannya pun jadi jelek, banyak komentar negative yang diutarakan nitijen di ruang yang membuat mereka bebas mengekspresikan apa saja, semau udelnya, tanpa ampun. Alih-alih mengkritik, banyak nitijen yang malah jadi bikin panas orang-orang yang hanya mampir untuk sebatas membaca, istilahnya kita jadi ikut kepercik api yang lagi membara.


Sebuah unggahan gambar paslon tampak di beranda Instagramku. Seorang penulis yang mana notabene adalah tokoh publik, yang aku suka tulisan-tulisannya, menggunggah sebuah pengakuan bahwa dirinya mendukung paslon tersebut. Nitijen akhirnya geram karena menganggap bahwa harusnya penulis sebagai tokoh publik itu netral dan bisa meredam suasana. Nitijen yang lain berkomentar bahwa sepakat dengan mendukung paslon yang sama.

Lalu aku membaca satu per satu komentar yang menurutku memicu kegaduhan dan semakin menyiram minyak di api yang sedang membara. Baru kali ini aku merasakan ikut gerah, tapi segera aku nyalain kipas angin biar segera adem, haha. Mentang-mentang mereka menyerang orang yang nggak dikenal di kolom komentar itu, jadi seenaknya aja ngomong ini itu.

Berbeda boleh asalkan kan tidak saling menjatuhkan. Kelonggaran berekspresi boleh asal tidak saling menyerang. Memberikan komentar pun boleh tapi pakai akal dong! Jangan pakai emosi (termasuk yang lagi nulis ini, wkwk)! Aku hanya senyam senyum doang sekarang membaca komen yang begituan, sambal berdoa dalam hati, semoga nitijen segera sadar.

Tulisan-tulisan negative yang ditujukan pada seseorang ibarat sebuah pedang yang melukai orang itu, luka yang tidak menghasilkan darah, hanya sakit. Tuh, udah nyakitin orang aja, nggak ada merasa bersalahnya gitu? Ayolah, bangsa ini butuh generasi yang bukan cuman omdo, tapi yang bener bener bisa berkarya! Muda jangan banyak bacot, tunjukin apa aja kemampuanmu, bro! (sambil ngomong ini ke diri sendiri!!!)

Eitzz, numpang curhat dikit nih (boleh ya? Hehe). Ternyata nitijen ada juga yang di dunia nyata (bukan hantu, pastilah… gimana sih?), maksudku orang orang yang mengkritik kita ini itu, tapi ngomongnya bukan di depan kita, alias ngomongin diri ini dengan orang lain. Kalau masalah ini sih sudah ada sejak zaman purba kali ya. Entah mereka tidak suka atau memang tabiatnya suka mencela, kadang gemes juga sama mereka.

Aku sih tipe yang cuek, tapi pas pertama kali tau kalau mereka ternyata ngomongin diri ini, rasanya pahit pahit gimana gitu. Itu hanya satu dari mungkin sekian juta orang yang ngomongin diri ini tapi aku tidak tau. Jadi ketidaktauan adalah anugerah ya kalau kayak gini. Haduh diri ini bukan artis sih tapi haters kok ya tetep ada. Eh, nabi Muhammad yang baiknya selangit ajah masih punya haters yang kejam, siapalah diri ini yang belum juga bisa membaik.

Baiklah, ada juga yang langsung ngritik didepan publik, ngritik diri ini. Didepan pembimbing tesis, diantara mahasiswa S1 yang nunggu konsul, dibelakangnya ada dosen yang lagi duduk juga, ehhh nyablak juga tuh orang buat ngritik diri ini. Kalau yang dikritik soal tesisku sih boleh boleh aja, eh ini soal kehidupan pribadi, nggak ada etikanya blas. Please dong, muslim juga kan? Kalau iya sih nggak mungkin kek gitu.

Tapi yasudahlah, curhatan ini Cuma buat melegakan diri ini yang nyatanya hanya melebarkan mata kepada nitijen nitijen itu. Hello haters, aku mah masih hina, tapi aku muslim, jalan ibadah kan banyak. Hidup orang mana ada yang sempurna, yang penting lakuin sebisanya. Nangis satu dua kali nggak apa-apa, boleh banget, habis itu diseka sendiri (jangan ngarap ada yang menyeka haha). Iya, semangat aja, hidup sekali, masak mau marah and nangis terus, senyum dulu J


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -