Posted by : Pena Biru Senin, April 22, 2019



Busan berwarna merah muda. Langit yang berawan memayungi langkah-langkah yang berjalan lambat diantara gedung-gedung yang mengangkasa. Lagu-lagu pengiring merekahnya bunga terputar di berbagai chanel musik, baik lagu ceria hingga Goodbye-nya Chen. April ini, kan kubagi sedikit cerita meski itu tidak menjadi perhatian bagi beberapa manusia. Aku hanya ingin menuliskannya, jika Anda tidak suka Korea, maka Anda punya pilihan untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini tapi bukankah yang namanya belajar boleh jadi didapat dari apa yang tidak kamu suka?


“Hidup tidak mudah, tidak peduli siapa kamu dan apapun yang kamu lakukan.” DO memberikan komentarnya karena merasa tidak lagi bisa bersantai menyusuri jalan tanpa dikenali orang lain. Iya, karena dirinya telah popular sebagai member EXO. Iya, sederhana banget, cuma menyusuri jalanan, itu pasti yang kita pikirkan. Kita sih nggak bakal diteriakin buat diminta foto orang-orang kalau lagi jalan di taman atau milih barang di pasar, yah karena kita bukan idol. Kadang pesona cahaya dari idol begitu menyilaukan, tapi ternyata memiliki batasnya sendiri, punya kesulitan hidupnya sendiri.
Bagi members EXO, menerima banyak cinta dari orang-orang di seluruh dunia membawa tugas khusus bagi mereka untuk bagaimana cara mengembalikan cinta itu dengan segala upaya mereka. Rutinitas yang padat menjadikan mereka lelah pastinya. Ada saat dimana para members down disuatu waktu, tapi mereka sadar bahwa diberikan pekerjaan yang istimewa ini oleh Tuhan, dengan banyak orang memikirkan mereka, memberikan mereka semangat untuk bangkit lagi.
Nah, kenapa tiba-tiba aku ngomongin EXO, udah bukan anak remaja lagi kan? Iya, tapi aku bahagia hanya dengan mendengar lagu mereka atau melihat mereka main games atau hanya melihat Chanyeol makan. Dulu waktu pertama debut, aku tau ada boyband EXO dibawah naungan SM Entertaiment, tapi belum tertarik untuk mengenal mereka. Tibalah saatnya sekarang, beberapa bulan lalu, aku baru menyukainya. Terlambat? Iya pake banget… At least it’s better than never.


EXO mengambil alih perhatianku saat mereka datang ke variety show Knowing Brother. Awalnya aku hanya ingin melihat episodenya Sky Castle di Knowing Brother karena sedang demam Sky Castle waktu itu, tapi aku malah mendownload banyak episode Knowing Brother. EXO menjadi bintang tamu acara ragam itu dan berhasil membuat tertawa puas, mengenal mereka lebih dekat, suara asli mereka yang menawan, sampai sedikit tau tentang karakter-karakternya. Am I EXO-L now? lol…
Suho (leader), Xiumin, Chen, Baekhyun, DO, Chanyeol, Kai, dan Sehun adalah delapan anggota tersisa di EXO. Aku bahkan tidak mengenal tiga members EXO yang hengkang atau Lay yang memilih berkarir solo di Cina. Bagiku, delapan members ini pun cukup untuk memperlihatkan bagaimana EXO mampu berdiri sampai sekarang. Sudah banyak album dirilis, aku masih newbie dari sunbae (senior) yang telah lama mengikuti setiap kegiatan EXO.


Akhinya, ketemu sama sunbae EXO-L yang paham semestanya EXO. Dikasihlah aku tuh EXO Ladder II. Ini acara variety show khusus EXO ketika liburan di Kaoshiung and Kenting. Mereka makan atau nggak ditentuin ladder, mereka dapat kamar atau nggak juga ditentuin ladder, pokoknya apa-apa ditentukan sama Ladder. Baru episode 1-5 ajah udah akunya nggak bisa nahan gimana oleng-nya mereka. Mereka tampak keren ketika nge-dance di atas panggung tapi ketika liburan ini, mereka pakai pakaian biasa aja, tanpa make up, dan ketauan deh keolengan mereka.


Chanyeol, nama lengkapnya Park Chan Yeol (PCY) jadi member favoritku. Dia punya segalanya. Tingginya, golden ratio face-nya, dan suaranya juga kece. Meski vocal range-nya nggak selebar punya Chen or Baekhyun, dia udah punya ciri khas sendiri di suaranya. Rappernya di EXO, member yang jahil bingitzzz. Ahhh ya, dia pandai main alat musik apapun, gitar, piano sampe drum pun dia jagonya. Nah, di EXO Ladder II barulah aku tau gimana Chanyeol yang sebenernya, the Passionate Man ever!!!


Why? Karena dia orangnya nggak suka kalah dalam setiap kompetisi. Efek berapi-api ditampilkan ketika Chanyeol sudah mulai berniat main untuk kompetisi. Dia ibarat mesin games, di dalam mobil van pun dia selalu ngajak main member lainnya. He burned the atmosphere. Aku menyebutnya “keolengan” terkeren yang pernah ada. Iri sama doi, karena aku nggak pernah punya energi tanpa low sedikitpun kayak Chanyeol.
Pernah dia dan team-nya kalah waktu games nemuin mural di bangunan-bangunan Kaoshiung selama 15 menit, eh di jalan dia masih aja kesel. Haha. Terus malemnya kan lomba balap mobil di sirkuit, time laps-nya dia udah yang nomer satu tuh, kandidat menang tapi ada member yang nyantai banget bawa mobilnya (Bang Umin), dia yang tadinya udah berapi-api tiba-tiba terhalang kemenangannya. Dia komentar, “aku tuh udah optimis menang di laps terakhir, wussss, nambah kecepatan, tapi tiba-tiba ada baju putih di depan….”lalu dia mengangkat kedua tangannya ke atas “Gives up” wkwk.
Eh, dia menang juga kok akhirnya di sepak bola yang mainnya pake balon gedhe itu. Dia dengan powernya dia, langsung deh ngalahin semua members. Terus-terus waktu jalan-jalan di pantai, dia naik di atas kapal karet yang ditarik speedboat, awalnya pelan, terus dia bilang “more faster!” dan bener ditariklah dia lebih cepat dari sebelumnya, bikin dia udah nggak bisa ngomong lagi, teriak lebih keras buat “more slowly” tapi pakdhe sopirnya malah ngegas….haha… Tiga hari berlalu, suaranya abis…

So, what I want to say is I want to be a person like him, with all of his energy. He brings the good atmosphere. When everybody on the comfort zone, he always on the level to up. He does the best for what he wants to do. He creates happiness for people around him. Sometimes, my style looks like scary for others people who do not know me well although I am very “oleng” to someone close to me. So, I wanna be a person who can bring happiness to people like Chanyeol.
Now, aku bahagia hanya dengan hal kecil seperti ini, cuma sebatas dengerin lagu EXO, lihat feed instagram, atau nonton variety shownya. Ini bagaikan musim semi bagiku setelah meninggalkan musim dingin. Aku bisa melihat bunga warna-warni, kelopak-kelopak bunga terbang tertiup angin, meliuk liuk sampai akhirnya jatuh dengan indah. Sesederhana itu, iya untuk bahagia, kenapa harus ada banyak variabelnya? Kadang kita hanya harus meninggalkan kemenye-menyean nggak berguna untuk akhirnya bisa tertawa.
Musim semi, aku ikut menyusurinya di musim hujan Indonesia, di balik ruang dengan jendela kaca di pojok barat. Dari sini, aku bisa melihat sebuah jalan dengan pohon angsana berdiri di kanan-kirinya. Cabang-cabang pohon itu saling melilit satu-sama lain, daun-daunnya lebat, dan batangnya kokoh berdiri. Saat langit tiba-tiba gelap, angin bertiup kencang, menarik daun-daun tua untuk tumbang, bersama-sama, kulihat bukan kelopak bunga, tapi daun-daun itu yang jatuh. Menghipnotis mataku untuk terpaku dan tersenyum.
Aku menggumam, bukankah ini indah? Tapi sebagian tidak pernah sekalipun memperhatikannya. Tidak pernah tertarik terhadap hal-hal macam ini, hal sederhana yang sering terjadi. Tapi kadang, sesuatu yang sederhana itu membawa magnet tersediri bagi orang macam aku, yang kadang sering berhenti hanya untuk menikmati apa yang ingin semesta perbincangkan denganku. Aku mengerti, “untuk tersenyum, itu sangat mudah bukan?” kata daun-daun yang jatuh itu. Sembari mendengarkan “Universe” nya EXO dari headset yang tersambung ke laptop, aku belajar tentang hidup.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -