- Back to Home »
- Special Thing »
- Memetik Bintang
Posted by : Pena Biru
Kamis, Mei 02, 2019
“If you can pick a star, so spread its light to people
around the world”
Seorang guru datang ke kelasku,
memberitahukan bahwa aku harus ke kantor guru untuk menemuinya setelah pulang
sekolah. Saat itu aku kelas lima SD. Sedikit malu-malu, banyak deg-deg-annya,
aku menyampaikan salam dan masuk mencari guru tersebut, disampingnya ada kepala
sekolah. Di dalam hati, apakah aku
berbuat kesalahan? Aku mengingat-ngingat apa yang telah kulakukan, tapi
tidak kutemukan, detak jantungku cepat.
Kepala sekolah itu mengatakan bahwa aku
mendapatkan sebuah paket. Waktu itu, belum ada jasa antar JNE atau sejenisnya,
yang ada hanya bapak tukang pos dengan sepeda onthelnya, datang mengantarkan
paket ini ke sekolahku. Kepala sekolah meminta ijinku untuk membuka paket itu,
ternyata keingintahuannya tentang paket itu kurang lebih sama denganku. Tidak
pernah ada sebelumnya ada yang menerima paket sepertiku.
Paket itu berisi dua majalah anak, Wildan (sama seperti nama adikku), dan
satu tas sekolah berwarna biru (warna kesukaanku). Ternyata ini adalah hadiahku
karena puisi yang kukirim telah berhasil dimuat di kolom puisi anak majalah
itu. Aku tidak ingat keseluruhan puisi itu, yang kuingat hanya judulnya, “Teman
yang Baik Hati.” Haha, aku merasa senang sekali waktu itu. Puisiku bakal dibaca
banyak orang. Tas biru itu aku pakai setiap hari, menampung buku-buku hingga
baru pensiun setelah robek kanan dan kirinya.
Itu adalah ceritaku ketika kali pertama
aku merasa dihargai dengan karyaku. Sayangnya, saat SMP dan SMA, aku hanya
mengikuti lomba ipa saja, tapi tidak pernah tau ada lomba-lomba menulis yang
diadakan di luar sana karena ya internet waktu itu sangat terbatas sehingga
info lomba tidak sampai padaku. Barulah saat kuliah S1, aku mulai mencari-cari
kompetisi menulis. Karena aku banyak menulis cerpen, akhirnya aku memilih
mengikuti lomba cerpen.
Bagi yang pernah membaca blogku, pasti
sudah tahu bahwa aku sering juga seminar kepenulisannya Tere Liye. Terlalu
muluk jika menjadi sepertinya yang sudah memetik banyak bintang untuk
disebarkan kepada orang-orang. Lewat buku-buku, dia memberi kemilau kebaikan,
inspirasi, dan cerita penuh energi kepada pembaca. Jadi, disinilah aku ingin
mulai memetik bintang itu, satu saja, itu cukup agar aku ingin tau bagaimana
rasanya bisa berbagi kemilau kebaikan dengan banyak orang.
Lomba cerpen nasional yang kali pertama
aku ikuti adalah lomba dari penerbit Rumahkayu Indonesia, sumatera utara.
Ribuan cerpen dari berbagai pelosok Indonesia masuk, termasuk cerpenku,
akhirnya “Separuh Mimpi” ku tercantum di antalogi cerpen itu. Wuahhh, aku
senang, sangat senang. Ada namaku, ada cerpenku, ada bongkahan mimpiku di sana.
Judul antologinya pun aku sangat suka “Tarian Hujan”
Anyway, itu sudah empat tahun lalu,
kenangan yang sudah usang, seperti bukunya yang ada di rak buku kamarku,
kertasnya sudah dimakan waktu. Lalu, apa yang sudah aku lakukan selama itu? Aku
mulai berpikir bahwa hanya disibukkan dengan bekerja, membuatku tidak bisa lagi
meluangkan waktu untuk berkarya. Fokus untuk menghidupkan lampu di bumi
membuatku lupa menengok ke atas, menengok ke arah bintang-bintang itu.
Tahun 2018 lalu, aku kembali menengok
informasi-informasi kompetisi cerpen. Biasanya aku ikut kompetisi yang tidak
membutuhkan banyak kerempongan, seperti harus mengeshare atau mentag temen
sebanyak-banyaknya. Lalu, cerpenku kembali terpilih, dalam antologi cerpen
juga, tapi sayangnya tidak banyak kejelasan dari penerbit ini, baiklah, sudah
lupakan.
Baru-baru ini, aku ikut lomba cerpen lagi,
cerpen bertema Ramadhan. Kali ini penerbitnya adalah Ziyad. Yeah, jadi
kontributor penulis untuk ketiga kalinya. Kali ini di antologi cerpen yang
judul bukunya “Ceria Ramadhan di berbagai negara” Wuahhh, aku memilih Inggris
sebagai destinasi imajinasiku. But, based on real references, I only created
the plot of the story. Rasanya lagi-lagi menyenangkan. Aku memetik bintang itu,
semoga orang-orang dengan hati terbuka bisa menerima kemilau kebaikan itu.
Cerita ini bukan sepenuhnya tanpa drama.
Ada kalanya cerpen yang aku kirimkan gagal dimuat. Lalu, hal itu membuatku
kecewa selama berhari-hari. Ya, tidak ada yang selalu mulus jalannya, kadang
harus tau rasanya kecewa, biar apa? Biar tau tidak ada yang pernah mudah dari
apa yang ingin kamu capai. Jadi, harus banyak belajar. Menyemangati diri sendiri
adalah hal terpenting agar tetap bisa bermimpi dan berkarya.
Aku ingin mengatakan kepada semua orang,
apapun mimpi yang kalian punya, baik kalian ingin memetik satu atau dua bintang
atau beberapa pun yang kalian inginkan, berusahalah sedikit demi sedikit.
Pencapaian mencapai langit tidak pernah mudah. Jadi, lakukan dengan usaha yang
baik dan jangan mudah menyerah. Kemilau bintang kebaikan yang kalian bagi
adalah kebaikan terindah yang kalian dapatkan dalam hidup. Fighting!
