Posted by : Pena Biru Minggu, Juli 07, 2019



Aku mendengarnya, rintik-rintik dari luar jendela. Membasah latar rumah yang sebelumnya penuh dengan daun-daun kering. Hujan pertama, membuat mata-mata berbinar karena telah menantinya agar menghapuskan kemarau yang dingin. Atau mata-mata yang hanya meliriknya sebentar, lalu tidak menganggap istimewa, hujan datang, musim berganti, begitu sederhananya. Bagiku, hujanpun tidak sempurna, kadang merdu, banyak sumbang, mengiringi sempurna-Nya yang memandang ngeri aku yang berjalan di bumi.


Aku membuka kelopak mata, berkedip tiga kali, otakku kembali mengingat apa yang terjadi kemarin sore. Hatiku merekam rasa tidak nyaman yang dulu pernah kugenggam. Ceritanya tak sama, tapi rasa warnanya mirip. Yang satu biru muda dan satunya biru laut. Sama-sama biru, bukan ungu ataupun kelabu, agak sesak dan sama-sama memenuhiku. Ingin kulepaskan, tapi satu-satunya jalan hanya ini yang tersisa. Bukan, bukan tersisa tapi terpilihkan.
Aku memandang langit. Awan-awan itu pada satu titik saling bertemu, beradu, hingga mencandu. Namun, satunya harus menjauh ke barat sedangkan satunya berlari ke timur. Tak pernah ada yang benar-benar tinggal, semua manusia hanyalah seperti awan, singgah sebentar, dan ketika ingin mencandu lama, semesta tak pernah menyempurnakannya lebih lama, musim harus segera berganti, satu awan datang, yang lainnya pergi.
Beberapa awan pernah berjanji untuk bertemu kembali meskipun arah angina membaw mereka pada tempat yang berbeda. Ketika semesta mengizinkannya pada suatu masa, eksplorasi awan itu berkondensasi menjadi rintik-rintik yang dijatuhkan ke bumi, bergerak bebas, melepaskan segala rasa, yang dipahami manusia sesuai dengan apa yang dinterpretasikannya saat hujan turun. Sebagian dapat merasa begitu bahagia karena teringat kenangan yang menyenangkan, beberapa menangis di balik kamar tanpa seorang pun mengetahuinya.
Bumi juga hanya sebagai tempat singgah sementara bagi tetes-tetes air yang menganak di sungai untuk akhirnya dibawa matahari kembali mendekat kepadanya. Awan yang merindupun kembali, kadang bertemu dengan awan yang dulu pernah mencandu dengannya, tapi tak pernah lagi sama karena langit menyuguhkan barisan cerita yang berbeda. Janji itu tertepati, tapi tak pernah punya interpretasi yang sama. Karena sempurnanya kenangan, penantian, dan pertemuan kembali tak pernah seindah apa yang ada dalam benak.
Aku juga suka mengintrepati hujan yang tetiba jatuh karena memindainya dengan kata-kata adalah cara penyembuhan jiwa yang paling sederhana. Tak bisa kuceritakan lewat lisan, hanya untaian kerandoman tulisan yang bisa membuat dadaku sedikit longgar. Lewat awan tadi, initinya aku hanya berusaha mengungkap tentang pertemuan dan perpisahan dalam persahabatan. Satu dua sahabat datang, yang lainnya pergi. Berjanji bertemu kembali, tapi rasanya tetap tak sempurna, seperti hujan yang sumbang.
Hujan yang sumbang itu tetap menderu perlahan, mengetuk kaca jendelaku, menyampaikan pesan atas segalanya, yang tercipta, tidak pernah bisa menjadi sempurna. Sama seperti apa yang kurasakan, tidak pernah mencapai kesempurnaan. Allah Maha Baik, karena mengirimkan malaikat tanpa sayap untuk menuntunku kembali hidup. Saat aku begitu terbiasa dengan kenyamanan ini, kata sempurna lagi-lagi menyumbangkan semesta, untukku agar aku kembali menengok ke arah satu-satunya pemilik kesempurnaan itu.
Aku membuka gagang pintu untuk keluar setelah hujan yang sumbang itu pergi. Tumbuhan-tumbuhan hijau tampak menjulang tinggi, membentuk kanopi dengan cabang-cabangnya yang saling berkait. Bergerak perlahan karena angin yang menyelinap, ia sudah menggugurkan daun-daun yang sudah tua dan mengering itu kemarin, sekarang saatnya mengganti dengan beberapa kuncup yang masih rapuh. Ya, hujan yang sumbang itupun tak kehilangan nafas sejatinya, untuk mencintai semesta sebagaimana mestinya. Ketidaksempurnaan tak menghilangkan makna asli kehidupan. Semua pemahaman hanya bergantung pada siapa yang menjalani hidup itu.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -