Posted by : Pena Biru Minggu, Agustus 25, 2013



           
         Pagi ini ada yang berbeda dari pagi-pagiku sebelumnya. Matahari belum terbit, aku diajak bapak untuk jogging. Bukan jalanan aspal yang kulalui, tetapi jalanan rumput yang membentang di pertengahan sawah. Wah, kapan terakhir kali aku lewat sini? Yang kuingat ketika aku MI, aku pernah mengantarkan minuman kepada bapak, mbah, dan pakdheku yang tengah menggarap sawah. Selanjutnya aku tak pernah datang lagi menjenguk sawah-sawah ini. Aku hanya suka melihat hijaunya saat aku melintasi jalanan aspal.
         Aku memandang langit yang sudah beranjak biru dengan semburat awan yang tampak merah muda. Lihat! Masih ada seperempat bulan yang berdimensi tiga menggantung dan bercahaya. Aku memandang sekitar, embun berselimut tipis dan seakan masih malas menguap, membuat suasana udara pagi menjadi sangat menyegarkan. Apalagi berjalan di sini, diantara lahan-lahan yang sedang ditumbuhi Oryza sativa yang masih muda dengan akar-akar yang tenggelam dalam genangan air. Ini musim kemarau, tak kusangka masih ada persediaan air untuk sawah-sawah ini, kata bapakku air ini didistribusi langsung dari Waduk Cengklik.
         Di sisi sawah yang berbatasan dengan jalan rumput ini, ada sungai kecil dengan air yang mengalir. Tak sengaja aku melihat sesuatu yang bergerak di permukaan air. Aku mendekatinya. Wah, ada seekor hewan tanpa kaki yang panjangnya hampir satu meter. Belut? Bukan. Karena kulitnya tidak lincin dan terlihat agak kasar, bapak bilang itu seekor ular. Aku mendekat perlahan ke tepi gundukan tanah yang membatasi antara jalanan rumput dengan air, ular itu tampak diam sejenak. Apa ia ingin melihatku juga? Lalu, Bapakku meraih potongan ranting dan melemparkannya ke tubuh ular itu, ia pun dengan lincahnya beringsut pergi. Ternyata tak hanya ular itu yang terusik oleh ranting, tapi juga beberapa Rana sp tampak berloncatan ke sana kemari.
        Aku melanjutkan perjalananku. Sekali lagi aku menoleh ke sungai itu. Cukup bening, tapi tunggu, ia tidak bersih. Ia terkotori oleh plastik-plastik. Ya, di pinggiran sungai maupun di dasar sungai, tampak sampah-sampah yang sebagian telah tenggelam oleh tanah dengan sebagian lagi bergerak-gerak mengikuti gerakan aliran air. Kita tentu tahu, plastik-plastik ini tak akan musnah dalam seminggu dua minggu saja, sepertinya perlu diperhatikan juga keberadaannya.
      Seorang kakek menyandarkan sepeda tuanya di pohon Muntingia calabura yang tampak sedikit berbunga. Ia pun langsung nyemplung ke sawah tanpa alas kaki. Lalu, ia menyisir tanah dengan alat yang biasanya dipakai Patkai dalam drama Sun Go Kong. Bapakku pun menyapa kakek itu. Sementara mereka berbincang, aku memandang hijau itu lebih jauh lagi. Beberapa orangtua juga sudah mulai datang untuk mengelola sawahnya. Tak ada pemuda yang menengok sawah pagi ini. Apa memang pekerjaan sawah itu hanya untuk orang-orang tua? Atau pemuda memang tak ada yang mau mengambil pekerjaan di sini? Entahlah.
       Dalam persimpangan jalan, aku berbelok ke kanan. Dari kejauhan, tampak semen-semen yang telah mengeras berdiri diantara tumpukan tanah tinggi yang membelah persawahan. Beberapa alat berat terparkir di samping pagar pebatas antara sawah dan jalan tol. Ya, tol. Di sana, mau tak mau petani terpaksa menjual lahan Oryza sativa-nya dan digantikan oleh batu-batu dan pasir sebagai proyek tol Semarang-Kertosono. Sungguh, aku tak rela. Apa hanya ini cara mengurangi kemacetan? Dengan membangun tol? Tol yang mengeruk hijaunya sawah? Ingin aku protes, tapi apa artinya suara kecil ini. Kemacetan yang terjadi mungkin masih bisa diatasi dengan kebijakan yang dibuat, dengan mengurangi kepemilikan kendaraan pribadi adalah salah satu contohnya. Atau dengan membangun angkutan umum sebagai alternatifnya. Tapi dengan tol? Itu menambah kesempatan banyak orang untuk membeli kendaraan pribadi karena merasa telah disediakan jalan oleh Pemerintah dan mengurangi jatah beras yang sebelumnya dihasilnya. Kini, Persawahan telah tergadaikan dengan proyek jalanan.
         Cukup tentang tol, aku menikmati kembali perjalanan pagi ini. Kali ini, bapakku bercerita tentang masa lalunya sebagai seorang petani. Dulu sebelum mengabdi kepada negara sebagai pegawai, bapakku juga punya sawah dan beberapa kambing peliharaan. Tiap pulang sekolah, terkadang ia mengemudikan kambing-kambingnya menuju lahan rumput, ataupun membantu ndaud di sawah. tapi karena krisis moneter yang terjadi saat bergulirnya reformasi, ia tak sanggup lagi membeli pupuk yang harganya melambung tiga kali lipat, lalu sawah itu dijual.
         Pupuk itu tentu untuk mengusir hama-hama yang menyerang Oryza sativa. Salah satunya tikus. Itu dia! Kata bapakku menunjuk seekor tikus yang tengah berloncatan di air. Seketika itu pula ada kakek yang mengeluh tentang banyaknya tikus yang ada di sawah ini. Lihat itu juga! Ada satu tikus melintas di jalanan dengan kawan-kawannya yang juga ikut lari tunggang langgang melihat kami. Hama masih menjadi momok utama bagi para petani. Bukan hanya tikus, tapi juga para belalang yang terbang ke sana kemari, membuat tumbuhan muda Oryza sativa menjadi coklat. Ada juga hama lainnnya, seperti hewan yang meletakkan telur merah mudanya di batang-batang Oryza sativa. “Kamu tahu itu telur hewan apa?” dengan lantang aku menjawab, “Katak”. Bapakku langsung tertawa. “Bukan. Tuh lihat masih ada keong yang sedang mengeluarkan telur merah mudanya. Akh, malu aku sebagai warga Biologi yang bahkan salah mengira kepemilikan telur itu.
        Hei, tak terasa embun pagi sudah benar-benar memudar. Aku berbalik ke belakang. Bulatan merah itu mulai muncul dan bergerak meninggi dari arah barat. Sunrise. Cantik. Bagaimana dengan rembulannya? Aku berbalik lagi, rembulan itu mulai merendah ke arah timur dan tak lagi bercahaya. Ia berwarna putih. Seputih awan. Dan lama-lama akan tak kelihatan lagi karena mentari segera menguasai hari ini.
        Rumahku sudah kelihatan. Harapanku pagi ini, semoga masih bisa melihat hijau-hijau ini di tahun-tahun mendatang serta mereka yang berjasa menggarap sawah diberikan perhatian lebih oleh Pemerintah agar beras yang tertanam dapat menjadi beras-beras yang tertuai kemudian. Thanks to Allah for give me chance for living here J

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -