Posted by : Pena Biru Senin, September 16, 2013




            Manusia takkan pernah puas, ia takkan pernah berhenti membuat sesuatu yang awalnya dianggap tidak mungkin menjelma menjadi sesuatu yang sangat mungkin. Dulu ketika zaman belum mengenal gadget, manusia hanya bisa berkomunikasi langsung. Lalu, munculah alat yang dapat digunakan berkirim pesan dari jarak jauh dan tanpa tatap muka. Terimakasih untuk Morse, sang penemu telegram. Kini, telegram beranak pinak menjadi alat yang lebih dan lebih canggih dengan kehadiran hape dan kawan-kawannya. Di masa  depan, mungkin bukan hanya suara, tulisan, gambar, maupun video yang dikirim lewat gelombang elektromagnetik, tetapi juga barang, bahkan manusia. Who knows?
Perlu diingat bahwa arti kata “science” adalah “knowledge”. Jadi “science” atau sains bukan hanya melingkupi bidang ilmu pengetahuan alam, tetapi juga seluruh pengetahuan di dunia yang diriset oleh para "scientist".
Ilmu pengetahuan yang bersanding dengan teknologi adalah duo yang dapat mengabulkan setiap keinginan manusia. Menurut cerita sang dosen penelitian pendidikan Biologi yang telah merasakan manisnya hidup dengan sakura, di negeri samurai itu sudah ada yang tidak lagi menggunakan jasa manusia sebagai tukang bersih-bersih rumah maupun menjadi pelayan di pusat-pusat sarana umum, karena tugas itu diambil alih oleh si tanpa nyawa yang dapat bergerak. Kaku dan terprogram. Ya, robot menjadi pilihan bagi masyarakat modern sebagai alat yang dapat mempermudah pekerjaan.
Seperti halnya robot, gadget juga telah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. Buruknya gadget adalah kadang membuat manusia lupa akan dunia nyata dan seakan hanya hidup di dunia maya. Scientist yang membuat alat-alat super canggih ini tampaknya perlu sedikit mencermati perkembangan sosial masyarakat, bukan hanya memperhatikan perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi semata.
Bahkan keinginan manusia tergila sekalipun dapat mungkin karena ilmu pengetahuan. Contohnya adalah KLONING MANUSIA. Seusai kesuksesan membuat si Dolly dari pertemuan sel telur induk dengan inti sel somatik sang jantan, para scientist sampai sekarang masih berusaha mewujudkan manusia secara kloning. Manusia mencipta manusia? Unbelievable.
Benarkah ilmu pengetahuan tidak ada batasnya? Bahkan tentang kloning manusia masih berjalan sebagaai proyek para scientist. Namun, tak sedikit scientist yang dilematis. Artinya, mereka tahu kehebatan ilmu pengetahuan yang dapat mewujudkan segala sesuatu menjadi “mungkin” tetapi jika ilmu pengetahuan itu tidak sesuai dengan “nilai” maka mereka tidak akan mengatakan pro terhadapnya. Mengingat bahwa manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna, dan secara sosial mengingat bahwa tindakan kloning itu “tidak etis” dilakukan,  kalangan scientist yang kontra tidak akan pernah setuju mengenai agenda kloning manusia.
Selain kloning manusia yang masih terus memunculkan pro dan kontra, berbagai ide unik masih saja menjadi wacana para scientist. Salah satunya adalah dengan mendaur ulang urine manusia menjadi minuman yang layak minum sebagai bagian dari penghematan air. How is it? Setujukah Anda dengan wacana ini? Tentu untuk beberapa scientist ini menjadi riset yang berbau ketidakwajaran.
Bagi yang pro terhadap sains dan nilai harus sejalan, ilmu pengetahuan dapat dikontrol jalannya agar tetap seimbang dengan aspek-aspek kemanusiaan dan ketuhanan. Manusia tidak boleh lupa bahwa akal yang dimilikinya serta kesempatan untuk berkarya adalah pemberian Tuhan. Ada banyak hal-hal diluar akal manusia atau gaib yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan hanya bisa dipercaya dan diyakini saja, termasuk penciptaan manusia. Selain sel-sel yang dimilliki manusia, “ruh” yang ditiupkan sang pencipta adalah sesuatu yang selamanya takkan mampu untuk diriset para scientist.
Ibarat dua buah mata pisau, ilmu pengetahuan bukan hanya memiliki nilai guna tetapi juga dapat tajam menebas sebagai efek samping dari sesuatu yang dibuat manusia. Karena sudah kodratnya bahwa buatan manusia itu takkan pernah mampu sempurna. Lihat saja penemuan-penemuan bakteri, virus, maupun mikroorganisme lainnya, memang secara utuh telah berperan dalam menyembuhkan berbagai penyakit yang dulunya diklaim tidak dapat sembuh. Selain itu, produk-produk rekayasa genetika juga telah menaikkan nilai guna dan ekonomi berbagai aspek kehidupan. Padi transgenik, buah transgenik, dan kawan-kawannya merupakan bukti bahwa pemanfaatan alam sudah mudah di genggaman tangan manusia.
Di sisi lain, mikroorganisme tersebut tidak hanya hadir sebagai makhluk kecil ajaib yang bermanfaat, ia juga punya pekerjaan lain yang sangat menantang tentunya. Pekerjaan hebat yang diterima sang mikroorganisme dari manusia adalah dengan berperan dalam pembuatan senjata biologis. Selain menjadi musuh bagi hama tanaman, mikroorganisme yang telah dirakayasa genetik dapat pula menjadi musuh bagi musuh manusia. Bisa jadi (semoga tidak) di masa depan, di tangan orang-orang yang tercela, senjata biologi dapat digunakan menggantikan senjata kimia maupun bom.  
 Berawal dari pengetahuan yang didapatkan melalui rasaan indera dan pengalaman, manusia berusaha memenuhi kebutuhan bahkan keinginannya. Ketika pengetahuan itu diuji, maka kebenaran yang didapatkan sebagai hasil merupakan sesuatu yang disebut ilmu pengetahuan.  Ilmu Pengetahuan yang tak terkontrol hanya akan membawa petaka bagi manusia itu sendiri. Para scientist yang melahirkan berbagai ilmu pengetahuan patut waspada terhadap segala bentuk produk ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut manusia sebagai makhluk dualisme. Meskipun di dunia, scientist yang berpegang teguh pada nilai disebut scientist yang dilematis, bagiku nilai adalah batas ilmu pengetahuan yang tak boleh diabaikan.

{ 1 komentar... read them below or add one }

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -