Posted by : Pena Biru Kamis, September 26, 2013




            Angin bertiup mesra membelai setiap indera yang peka. Peka bahwa angin ini membawa arti. Arti untuk mereka yang hidup. Hidup yang hanya sebentar. Sebentar bernafas dan setelah itu tidak. Tidak bisa lagi menikmati keindahan dan ketidakindahan dunia. Dunia yang penuh dengan angin. Angin yang memporakporandakan dan angin yang menyejukkan.
            Tanpa angin, dunia akan menjadi potret tanpa gerak, diam, datar, mati, dan tanpa warna. Berwarna itu adalah ketika kita tahu bahwa angin yang memporakporandakan itu tidak selalu melahirkan sebuah cobaan dan angin yang menyejukkan itu tidak selamanya membuahkan ketenangan.
            Sebuah arti angin akan tampak jelas ketika layar-layar kehidupan terkembang dalam sebuah alas yang kokoh dan rapat. Rapat untuk tidak tenggelam dan senantiasa bergerak, membelah samudera, dan memenuhi seuntai tujuan. Tujuan itu sebanding dengan ukuran angin sebagai pembawanya, tujuan yang jauh lebih bermakna, dalam pencapaiannya membutuhkan angin yang lebih kencang dan kuat. Kuat, tentu kita harus kuat dan tidak boleh sedetikpun lepas dari kesadaran akan fakta karena terkadang angin membuat kita terombang-ambing bahkan terseret-seret.
        Sementara, angin tidak akan bermanfaat banyak ketika berlama-lama dinikmati. Nikmat sekali menghabiskan waktu di antara angin yang berhembus lembut. Lembut menembus perlahan pori-pori kulit, lalu menumbuhkan sensasi spesifik, lalu efeknya membuat kita menjadi manusia yang suka membangun angan-angan dan enggan untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang panjang di dunia tentu bukan hanya untuk bermain dengan angin yang kita sukai, tetapi juga harus berjuang menghadapi angin yang di luar yang lebih kencang dan kuat.
         Memang tak salah menikmati angin yang menyejukkan untuk sejenak mendegradasi kepenatan, asalkan kita tak lupa untuk kembali menyiapkan amunisi sepanjang perjuangan menahan angin yang sesungguhnya.
            Lalu apa arti angin yang sesungguhnya? Jawabannya selalu tersedia jika kita mampu menerjemahkan dan mengkorelasikan angin dengan keadaan. Keadaan yang menggambarkan seberapa besar perjuangan kita dalam menempuh kehidupan. From the wind for the life thing.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -