Posted by : Pena Biru Minggu, September 29, 2013



          Langit sore itu tak berawan, polos, dan berwarna orange. Di bagian yang disebut Barat, bulatan bola besar perlahan merendah lalu menghilang. Senja. Senja yang selalu indah untuk menyambut malam.
            Malam itu, malam pertemuan pertama. Dalam bulan yang dikenal sebagai yang lebih baik dari seribu malam, tanpa sengaja mataku tertuju pada suatu keganjilan. Bulatan itu, lebih besar dari bulatan bintang-bintang lainnya. Selama hidupku ini, aku baru menyadari kehadiranmu detik itu. Sejenak, aku terpesona. Engkau cantik. Cantik sekali. Aku memutuskan untuk memanggilmu Bintang Barat.

Malam itu, malam perkenalan. Aku tahu sesuatu tentang Bintang Barat, bahwa engkau muncul tepat setelah senja. Di langit yang sama, engkau tak memiliki teman dekat. Dengan kata lain, engkau hanya tampak sendiri. Sayangnya,engkau tak bertahan dengan kesendirianmu semalaman tanpa teman. Oleh karena itu, engkau hanya menyinggahi malam dalam kurun waktu singkat dan menghilang di tempat matahari menghilang ketika senja. Namun, perkenalan ini menyisakan tanya, Apakah engkau benar-benar sebuah bintang? Kenapa engkau tak berkelip sebagai bintang? Aku pun mencoba mencari segala hal tentangmu, tanya sana, tanya sini, tapi tak terjelaskan secara gamblang siapa sebenarnya namamu.
         Malam itu, malam pengakraban. Aku kembali melihatmu tergantung di angkasa hitam. Menatapku dengan terang. Lalu, aku melebarkan pandanganku, bintang-bintang kecil lainnya berkelip kepadaku. Jika beruntung, sang dewi malam pun ikut menghiasi dinding langit malam hari. Dari sinilah aku mulai menyukai langit malam. Tak pernah aku lupa menengok langit malam, terkhususnya untuk bertatap wajah dengan Bintang Barat. Jika aku lupa ataupun  terlambat berjumpa dengannya, maka aku hanya akan bertegur sapa dengan bintang-bintang lain.
        Malam itu, malam pemahaman. Seperti menjadi sebuah kebiasaan, ketika langit menjelang hitam, kepalaku mendongak ke atas, berharap menemuimu, si Bintang Barat. Akh, jika aku hanya mengenalmu, maka aku terlalu bodoh, karena ada banyak bintang lain. Bintang lain yang juga bercahaya indah. Lalu, aku mulai mengenal mereka seperti aku pertama kali mengenal Bintang Barat. Jika satu Bintang Barat bercahaya terang, lalu ia dianggap indah, maka beberapa bintang yang kurang bercahaya membentuk formasi, lalu mereka pun menjadi tak kalah indah. Lewat Bintang Barat, aku mampu menyadari bahwa di sana, di langit, di atap yang beratap, adalah batas yang tak bisa kugapai, adalah sangat luas, tak terukur, dan menyimpan berbagai hal yang menakjubkan.
            Malam itu, malam yang akan sama dengan malam-malam selanjutnya. Memanggilmu sebagai Bintang Barat, menanti kehadiranmu seusai senja, mendekatkan diriku dengan terangmu, dan menceritakan sekilas ceitaku melalui tatapan mataku. The beauty of the dark sky on the night never end.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -