Posted by : Pena Biru Rabu, Januari 15, 2014



            Matahari tampak seperti bulan, tak menyilaukan, bulat berwarna orange, bergerak diantara awan putih yang tebal. Pagi ini, udara Boyolali terasa sejuk sekali. Sepanjang perjalanan, sawah-sawah terbentang luas bak permadani hijau yang indah. Petani-petani sudah mulai sibuk menangani padi-padi mereka yang kian hari kian tumbuh tinggi. Masih dalam balutan embun pagi, kutemui sebuah tulisan “selamat datang di kawasan Selo” .
            Udara berubah, semakin dingin. Jalan berubah, semakin naik. Pemandangan berubah, semakin hijau dan indah. Senyumku berubah, semakin lebar. Di samping area jalanan yang berbatas pagar besi, tampak lereng-lereng bukit yang artistik. Arsitektur lahan yang apik tersaji dalam hijaunya terasering. Mulai dari padi dan sayur-sayuran, satu per satu tertanam dalam susunan kotak-kotak yang miring.


            Dari kejauhan, masih kulihat orang-orang bercaping cokelat yang berjalan dilahan yang miring. Pikirku, apa mereka tidak takut jatuh, sementara jurang di bawah lereng yang mereka kelola bukanlah perkara yang main-main. Akh,mungkin mereka sudah terbiasa hingga mereka menjadi ahli dalam menjajaki tanah pertanian mereka. Mencangkul, menanam, merawat, memupuk, hingga memanen menjadi satu siklus pekerjaan mereka di sana.
            Sebuah mobil pick up mendahului motorku yang melaju perlahan. Tampak beberapa ibu-ibu  naik diatas mobil itu, seluruhnya berjarik, jarik itu bukan untuk dipakai tapi untuk menggendong kotak-kotak yang berisi sayur-sayur seperti loncang, sawi, maupun kubis. Wajah mereka menampakkan bekas-bekas kerja keras, tangan-tangan mereka menunjukkan keperkasaan dan kekuatan wanita meskipun usia mereka tak lagi muda, dan senyum serta mata mereka melukiskan kebahagiaan ala orang desa. Sesampai di pasar, mobil itu berhenti dan aku melanjutkan perjalananku.
            Terkadang jalan yang kulalui melintasi rumah-rumah penduduk yang berdiri sederhana dengan kebun sayuran mereka di samping atau depan rumah.  Namun, lebih banyak kanan dan kiri jalan yang kulintasi hanyalah hijau yang menghampar. Tidak ada pemberhentian khusus di Selo, di mana saja bisa berhenti sejenak, memandang Boyolali dan sekitarnya dari atas. Semakin naik, kulihat sang Merapi yang kian tampak dekat.
            Awan putih menggelayut malas di kaki merapi, menjadikan warna-warni kulit Merapi sedikit tertutupi. Goresan jalanan dan hijaunya terasering tampak samar di permukaan badan Merapi. Merapi yang berwarna biru tua jika dilihat dari rumahku kini menjelma menjadi gundukan yang berwarna hijau merata. Pohon-pohon tinggi tampak kecil dari sini, tetapi rimbun dan asri. Merapi, dengan ujung badan gunung yang tak lancip, menampilkan kawah yang terus menerus berasap. 

            Tibalah aku disebuah lapangan yang berhadapan langsung dengan pasar dan sekolah dasar. Berhenti sejenak. Kulihat anak-anak dengan kaos dan celana pendek tanpa ragu berlari-lari di area lapangan, memperebutkan bola. Asik dan tak tampak kedinginan sementara aku terus merapatkan jaketku. Sejuk hawa pegunungan tetapi masih terlalu sejuk alias dingin untukku yang sehari-hari lebih banyak menjumpai hangat mentari.
Di atas motor, seseorang yang sedari tadi melajukan motor untukku bercerita bahwa dulu ia pernah singgah di lapangan ini. Tak lain dan tak bukan adalah dalam acara kemah. Ia menunjuk bukit tinggi yang berada di belakang lapangan ini. Jika berjalan mendaki ke bukit sana maka puncak Merapi akan terlihat jelas sekali. Ya, harus dengan berjalan karena jalanannya tak bisa terlalui dengan motor. Gerimis yang tak diundang pun datang saat kami tengah dalam obrolan untuk merencanakan naik ke bukit itu.
Gerimis akan membut tanah-tanah di bukit itu semakin becek, banyak tergenang air, dan akhirnya tidak jadi untuk naik. Tak apalah, mungkin lain kali. Motor berbalik arah, saatnya pulang. Berkunjung ke Selo itu adalah tentang jalanan dengan apiknya lahan-lahan miring, pesona Merapi, dan sejuknya hawa pegunungan. Sepintas muncul keinginan untuk mendirikan rumah masa depan di sini, tak perlu tingkat, hanya satu lantai yang terjamin bebas banjir. Mungkin menghabiskan waktu untuk bertani dan bercocok tanam di sini, mengajar anak-anak, dan menikmati seluruh pemandangan asri ini tanpa harus mengenal macet. Sederhana. Akh, indahnya imajinasi ini.
Terimakasih ayahanda atas jalan-jalan ini :)
           

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -