- Back to Home »
- Special Thing »
- Detik Ini, Memaknai “Motivasi”
Posted by : Pena Biru
Senin, Januari 27, 2014
-Di Motivasi, aku
mengerti bahwa lelah bukan berarti akhir. Lelah bukan berarti berhenti. Tapi lelah
adalah menanti. Menanti untuk bangkit kembali. Lelah adalah langkah awal.
Langkah awal untuk belajar bertahan-
Siang hari yang terik, aku melangkah keluar kelas yang penuh sesak.
Sesak karena banyaknya manusia di kelas itu tapi juga sesak karena bahagia
punya teman-teman baru. Maru adalah salah satu label yang kusandang saat itu. Aku
memegang sebuah kertas fotokocopian buram, tak utuh selembar, hanya tiga
perempat. Kertas yang menjadi sanksi bisu dalam langkahku untuk memulai
perjalanan yang tak kubayangkan sebelumnya. Kertas yang menjadi bukti awal
komitmenku untuk bertahan dalam lika-liku perjalanan yang cukup mengesankan
hingga detik ini.
Tak ada yang tak
ramah, semua senyum dan sapa membanjiriku ketika pertama kali aku memasuki
ruangan lantai satu dari gedung yang bernama KBM (Keluarga Besar Mahasiswa). Aku
menyerahkan kertas buram yang berjudul formulir pendaftaran itu kepada salah
satu Senior. Diruangan ini aku melihat tumpukan buku-buku di rak yang sama
sekali jauh dari kata rapi, koran-koran yang berceceran di lantai putih yang
berdebu, laptop yang menyala, dan beberapa wajah yang belum kukenal terpampang
pada bagian atas dinding ruangan ini, merekalah pemimpin umum lembaga ini.
Lembaga yang sudah mantap kuniatkan untuk belajar di sini, ialah Lembaga Pers
Mahasiswa (LPM) Motivasi FKIP UNS.
Pertemuan awal
dengan para calon anggota cukup sering diadakan dalam sebuah acara yang disebut
dengan diskusi internal. Isu yang diangkat tergolong aktual dan mampu menjadi
pembahasan yang mengasah opini. Tak lupa diakhir sesi pertemuan-pertemuan ini,
Senior selalu menanyakan alasan kami mengikuti lembaga ini. Kata Senior, tak perlu
punya bakat menulis untuk bergabung disini karena proseslah yang akan membuat
kami akan memiliki kemampuan untuk menulis. Ya, menulis adalah salah satu
kegemaran yang kupunya sejak aku mengenal bagaimana menggerakkan pensil untuk
menulis rangkaian kata untuk pertama
kali. Aku selalu merasa senang ketika aku mampu menciptakan karya lewat
tulisan, meski masih acak-acakan dan tidak sempurna, ada sebuah kesenangan
tersendiri ketika itu.
Seperti sebuah
episode sinetron yang selalu ditunggu pemirsa setianya, aku pun selalu menunggu
kegiatan apapun yang nantinya diadakan Motivasi. Diklatsar adalah bagian
kenangan yang takkan terlupakan. Saat hawa dingin Tawangmangu beradu pada
hangatnya kebersamaan kami, para calon anggota, kami berusaha siap sedia untuk
belajar segala hal yang berbau jurnalistik. Meskipun juga terkadang tubuh kami
mengeluarkan sinyal-sinyal kelelahan dalam kantuk yang mendera, tapi malam
selalu menyenangkan untuk mendengar ilmu baru dari Senior. Malam itu, setelah
seharian reportase dengan penduduk sekitar, malam yang seharusnya menjadi
bayaran lelah, saat itu harus terlalui dengan lembur. Malam lembur di aula
penginapan, kami saling bekerjasama menyelesaikan majalah. Bahkan malam telah
menginjak pagi, pagi yang masih buta, satu per satu teman-temanku tumbang untuk
menyambut mimpi. Aku juga ingin tidur saat itu tapi apa daya, ada satu orang
temanku yang tak menyerah dan memaksaku untuk tidak tidur.
Apa yang kau tanam,
itulah yang kau petik. Hadiah sebuah bungkusan coklat untuk kelompokku yang
berhasil menjadi nomer satu dalam pembuatan majalah. Aku bangga bukan main, takkan
pernah sia-sia apa yang kita perjuangkan.
Selesai
pelantikan, perjuangan pun dimulai. Beberapa kegiatan seperti Upgrading dan
Seminar menjadi agenda rutin yang haram dilewatkan di Motivasi. Tak kulupa saat
pekan untuk seminar tiba, betapa aku harus melatih sabar yang lebih dalam untuk
sebuah penantian tanda tangan para pemegang kuasa, bolak-balik mencetak
proposal dan surat-surat, juga rapat yang super lama dengan detail poin yang
luar biasa. Pun Upgrading yang juga tak kalah menyenangkan, mengasah seberapa
kompak kami, loyalitas kami, dan kemampuan menulis kami. Upgrading, selalu
penuh keceriaan, pompa-pompa yang tepat untuk menggelembungkan kembali semangat
kami.
Tak ada yang lebih
yang mengesalkan kecuali ditolak untuk wawancara narasumber. Wajah-wajah
cemberut, tak bersenyum, dan mulut yang mengeluh terkadang kami temui pada
teman-teman kami yang belum berhasil wawancara, gagal wawancara, atau dimarahi
saat wawancara. Berita yang kami suguhkan mungkin bagi sebagian orang tidaklah
berguna, hanya seperti mencari-cari kesalahan,
dan cenderung dinilai negatif karena pembahasaan yang kasar. Hei, inilah
kekritisan kami agar semua pihak mampu membuka mata terhadap hal-hal yang perlu
dicari solusinya bersama.
Sungguh, Motivasi
lebih dari organisasi untukku, keluarga tepatnya. Juga, Motivasi tidak hanya
tentang koran, majalah, atau kegiatan menulis didalamnya tetapi juga arena
untukku mengenal karakter-karakter yang lucu dan unik. Diantara sekian banyak
karakter, aku mulai memahami bagaimana harus menempatkan diri, bersikap, dan
bertoleransi. Perbedaan pendapat memang tak dapat terhindarkan, pemikiran yang
tak sama memang selalu ada, juga sikap-sikap yang tak ‘menyenangkan’ juga kadang
muncul, tapi itulah pelangi di Motivasi.
Pelangi itu, hadir
pada satu tempat yang menyatukan kami, tempat yang kami sebut ‘sekre’. Tempat yang
asik untuk sejenak melepas penat saat jeda kuliah, tempat kerja yang nyaman
untuk kejaran deadline berita, tempat menyambung tawa dan rasa, tempat
bertukarnya pengalaman, tempat menimba ilmu, bahkan tempat untuk tidur bagi
yang membutuhkan. Hehe.
Detik ini,
perjalananku di Motivasi telah mencapai dua setengah tahun. Bukan hal yang mudah untuk bertahan
disini. Jenuh, tentu pernah. Rasa ingin menyerah, tentu pernah. Marah dan kesal,
tentu pernah. Tapi aku hanya memegang satu kunci untukku bisa bertahan disini,
yaitu kenangan kebersamaan. Mungkin akan sangat menyesal ketika nantinya aku
harus meninggalkan tempat ini, keluarga ini.
