- Back to Home »
- Islamic Center »
- Menyoal Cinta
Posted by : Pena Biru
Minggu, Januari 26, 2014
“Jika kita menghijrahkan kata cinta, dari kata
benda menjadi kata kerja, maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam
paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta, dari jatuh cinta menjadi
bangun cinta, maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”(Salim
A. Fillah)
Sekian juta
rangkaian kata indah bisa tercipta dalam satu menit saja ketika cinta tengah
digenggam. Dua puluh empat jam yang berlalu pun akan terasa sangat cepat jika
cinta tengah membara dan menggelora. Pun senyum yang terpasang bisa lebih dari
tiga kali sehari. Tapi detik-detik jarum jam yang berputar pun akan terasa kian
melambat ketika cinta tengah menumbuhkan rindu. Pun manyun yang terlukis bisa
sepanjang hari.
Sepanjang umur
bumi yang telah terbilang tua, cerita-cerita tentang cinta hampir selalu sama meskipun
pemeran-pemeran dari drama kehidupan selalu berganti. Cinta berawal dari
pertemuan. Pertemuan yang mengesankan mulai menumbuhkan sebenih cinta di hati.
Di hari-hari berikutnya, benih itu bisa saja tumbuh dan berkembang. Namun,
selalu ada pilihan tentunya, tapi kebanyakan memilih untuk menumbuhkannya
karena berharap bunga lah yang nanti muncul di hati.
Menyoal cinta,
puisi yang satu ini sudah tak asing lagi bahkan sejak SMP,ini dia...
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku
ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan
isyarat yang tak sempat disampaikan
awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.
(Supardi)
Sederhana, dalam arti lain adalah tidak
berlebihan. Pernah mendengar Ali Bin Abi Thalib menasehati kita untuk tidak
berlebihan dalam mencintai?
Menyoal
cinta, semua kata yang berlabel mencintai pasti berasal dari keadaan yang
namanya “Jatuh Cinta” dalam sebuah alur yang terangkai pada kisah cinta
tentunya. Kisah itu mungkin hanya sebentar ditempat bahagia, dan lama ditempat
luka. Hei, tapi tak semua kisah seperti itu. Ya, tapi kisah nyata takkan pernah
seperti kisah cinta drama korea yang berjalan dan berakhir sempurna. Kisah
nyata selalu hadir dengan bermacam-macam versi, terkadang tak jelas dan berlika-liku.
Menyoal
cinta, semua rasa yang tidak menyenangkan hati, seperti kecewa, terluka,
tersakiti bisa menjadikan “Patah Hati”. Akh, sedihnya. Ya, menyedihkan bagi
mereka yang menggantungkan harapan untuk bahagia bersama orang yang
dicintainya. Lalu ketika nyatanya takdir tak menggariskan harapan itu untuk
terwujud, bukankah bahagia tak berhasil teraih? Jadi, jangan pernah meletakkan
bahagia itu pada harapan untuk bersama.
Menyoal
cinta, Jatuh Cinta dan Patah Hati itu memang wajar terjadi di kehidupan
sehari-hari. Tapi jika hanya kedua rasa itu saja, maka itu hanya berlaku jika
kita memandang kisah cinta dalam pandangan yang sangat sempit. Sebagai muslim
tentunya, belajar mengerti bagaimana mengatur rasa cinta itu sangat sangat
sangat diperlukan untuk tidak hanya menafsirkan cinta pada pujaan hati semata,
ya bukan hanya pada satu orang saja yang kita anggap telah mencuri hati kita.
Menyoal
cinta, manusia-manusia yang ada di sekitar kita, seperti saudara, teman, dan
sahabat, seharusnya kita juga meletakkan cinta kita diikatan kita dengan
mereka. Ukhuwah yang terbangun dengan cinta bisa menumbuhkan rasa persaudaraan
yang kuat, meletupkan rindu ketika berpisah, dan menyemburkan hangat saat bersama.
Bukankah indah memiliki orang-orang yang selalu tersenyum di samping kita dan
menyemangati kita saat kita sedih?
Menyoal cinta, tak pernah terlupa nasehat ini,”jika kau inginkan
seseorang yang baik, maka jadikan dirimu seseorang yang baik terlebih dahulu.”
Ya, seperti prinsip take and give, kita harus memberi dahulu sebelum menerima.
Tak bisa jika hanya berharap yang baik-baik tapi kita tak pernah bercermin
apakah diri kita sudah baik atau belum. Ini sama artinya ketika kita berharap
pasangan yang baik nantinya, membuat kriteria ini itu, memilih satu per satu,
eits tunggu dulu, ngaca dulu apakah kita juga sudah berlabel baik seperti
kriteria yang kita inginkan?
Menyoal cinta, Allah adalah satu-satunya yang harus menjadi
tingkatan pertama untuk kita cintai. Sulit kah? Terlalu abstrak kah? Tapi
bukankah keyakinkan itu yang berperan adalah hati sebagai perasa kehadiran-Nya,
jadi tak berbatas hanya pada indera yang kita punya untuk mengenali objek yang
tampak. Meletakkan cinta itu, bagaimana kita tahu bahwa kita mencintai-Nya?
Atau bagaimana kita bisa mencintai-Nya? Analoginya adalah ketika kita bilang
mencintai seseorang (manusia) yang mana dominannya kita selalu mengingatnya dan
melakukan hal-hal yang mereka sukai. So, just prove with our doing.
Menyoal cinta memang tidak pernah ada habisnya. Bahasan yang tak
pernah basi meski diulang-ulang. Bahasan yang selalu menarik perhatian. Semoga
kita bisa memaknai cinta dengan lebih bijak karena cinta yang seperti samudera
yang luas selalu bisa memberikan kita keindahan karangnya tetapi bisa juga
menenggelamkan kita karena ombaknya.
