- Back to Home »
- Islamic Center »
- Wanted : New Spirit
Posted by : Pena Biru
Selasa, Januari 28, 2014
“Seperti sebuah
saringan, yang terbaiklah yang akan lolos dalam penyaringan, yaitu mereka yang
dengan tekanan yang berat tetapi masih mampu untuk hadir di sini.”kata seorang
wanita berjilbab biru seusai menghitung jumlah peserta yang duduk dalam majelis
ilmu. Panggilannya Mbak Ninuk.
Satu, dua, tiga, dan empat. Hanya empat kepala yang muncul
malam ini. Undangan sebenarnya sudah sampai ke rumah teman-teman kami, jarkoman
sms pun sudah dikirim, tapi setengah jam ditunggu masih tak bertambah jumlah
kami. Sudah beberapa tahun belakangan ini tak pernah lagi mencapai angka tiga
puluh kepala seperti dulu.
Dimana mereka? Entahlah, mereka seperti menghilang dengan berbagai alasan
klasik yang sudah sering dilontarkan dan menuntut kami yang di sini untuk
mengerti dan selalu husnudzon. Hujan, itu salah satu alasan ketidakhadiran
mereka. Akhir bulan Januari ini memang hanya
gumpalan mendung yang tampak selalu setia untuk menyelimuti langit bahkan
ketika pagi baru saja tiba. Hujan yang
tumbuh dari mendung memang menciptakan suatu suasana yang pas untuk sejenak
rehat dan sangat cocok dinikmati untuk bersantai dirumah.
Namun, ketika waktu yang ada adalah luang, maka sebenarnya terdapat
kesempatan untuk hadir dalam memenuhi undangan. Meski hujan tengah mengguyur,
bukankah sudah diciptakan payung dan jas hujan untuk melindungi tubuh dari air
hujan, so tidak ada lagi alasan untuk tidak datang kecuali dengan alasan malas.
Ya, malas namanya. Ia selalu menjadi penghalang diri ini untuk
memulai. Saat tidur dirasa lebih baik daripada hadir dimajelis, saat nonton
tipi atau film dirasa lebih asik daripada hadir di majelis, saat internet
dirasa lebih seru daripada hadir di majelis, maka malas benar-benar telah
menenggelamkan diri ini.
“Kita bisa menghadapi gelombang globalisasi yang begitu cepat
merubah dunia kita, yang menjadikan kita menyibukkan diri dengan kegiatan di
dunia maya, yaitu dengan tetap meneguhkan hati dan melahirkan semangat baru
setiap hari.”Lanjut Mbak Ninuk yang terus saja menyemangati kami untuk tidak
ikut larut dari perubahan zaman yang tak terelakkan.
Semangat baru, itu kuncinya. Lalu pertanyaannya bagaimana cara
mencari bahkan menumbuhkan semangat itu agar selalu segar untuk membanjiri
setiap nadi setiap hari?
Jawabannya sangat tergantung cara penafsiran diri terhadap
kesempatan yang hadir untuk mendatangi majelis ilmu dari setiap kondisi yang dialami
saat itu. Satu cara yang mudah untuk memulai adalah dengan memandang ke arah
akhir atau hasil yang akan didapat setelah langkah untuk memulai. Di akhir,
tentu Allah telah sediakan pahala dan kebaikan bagi mereka yang telah meniatkan
diri untuk hadir di majelis ilmu.
Barangsiapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan
mudahkan ia jalan menuju jannah. Dan bahwa para malaikat mengepakkan sayapnya
karena ridha terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu itu akan
dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan penduduk bumi hingga ikan-ikan yang
ada di air. Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti
perumpamaan purnama dan bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para
Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak meewariskan dinar ataupun dirham, akan
tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka hendaknya ia
mengambil bagian yang cukuup.(HR Tirmidzi)
Bukankah sangat istemewa hal-hal yang didapatkan orang yang menimba
ilmu? So, hujan badai sekalipun takkan pernah menjadi alasan jika diri ini tahu
kebaikan besar yang didapatkan setelah berhasil menerjang badai itu. Malas juga
harus segera disingkirkan, dibuang jauh ke laut. Oleh karena itu, dengan
menilik akhir, maka sebuah awalan dapat sangat mudah dilakukan, itulah semangat
baru.
Semangat baru, ialah semangat yang selalu terisi dengan niat yang
penuh, semangat yang dilengkapi dengan sebungkus ikhlas yang meneguhkan hati
saat memulai hingga akhir, semangat yang tak kenal padam bahkan ketika badai
datang dan semangat melawan segenap kemalasan yang sering hinggap dijiwa ini.
“Jangan pernah menyerah untuk tetap mengajak teman-teman yang lain.
Mungkin inovasi baru atau perubahan juga perlu dicanangkan dalam majelis ilmu
ini agar teman-teman tertarik dan tidak merasa bosan jika hadir di sini.”Lanjut
Mbak Ninuk sebelum mengakhiri majelis ilmu dalam malam yang belum menunjukkan
tanda akan berhentinya rintikan hujan. Seperti yang dikatakan Hanum Salsabiela
dalam Novelnya 99 Cahaya di Langit Eropa, bahwa manusia dan peradaban memang berubah
dengan mudah. Namun, yang tidak boleh berubah adalah kewajiban kita sebagai
agen muslim yang baik.
Perubahan memang membuat kehidupan menjadi semakin canggih. Kalau
hape saja bisa senantiasa berubah dengan inovasi yang menarik, maka kegiatan
dalam majelis ilmu juga harus senantiasa berubah dalam rangka berinovasi, baik
dalam sumber daya manusia yang mencakup cara penyampaian pemateri hingga
didukung acara-acara selingan lain yang cukup menarik. Namun, seperti makanan, semenarik
apapun bungkus makanan dan kelezatan makanan yang ditawarkan akan tetap tidak
dimakan jika calon pembeli tidak ada gairah untuk memakannya. Gairah itu adalah
semangat baru, semangat yang seharusnya ada, semangat yang seharusnya tergugah.
Jadi, semua kembali ke diri masing-masing untuk memilih. Semoga semangat selalu
menggelorakan disetiap kesempatan yang ada untuk sebuah jalan menuntut ilmu.
