Posted by : Pena Biru Kamis, Maret 20, 2014




Tak bisa bergerak, aku terpaku lama
Bukan menanti, bukan berharap
Hanya berhenti, tak ada gairah melanjutkan mimpi
Aku mencoba membangunkan jiwaku yang tidur bahkan ketika mataku terbuka
“Bangun!” Aku berteriak
belum ada jawaban,
Kuulangi sekali lagi
Tetap hanya diam
Aku diam, tanpa berpikir, tanpa bertindak

Aku diam, akh!
Lalu
Lirihku bersemi di sudut-sudut hati
Memenuhi, menyesakkan, dan menekan tiada terperi
Pun lelahku tak jua terhapus hari demi hari
Menyisakan mata dan raga yang malas untuk kembali
Ya, kembali tersenyum dan menikmati setiap kata hati

Satu dua tiga waktu terlewati
Aku mulai meniti ingatanku diantara buruknya masa lalu
Mengambil sedikit air diantara gersangnya jiwa ini
Pun gersangnya padang penyesalan yang tak terbayar hingga sekarang
Pun gersangnya bongkahan batu kemunafikan yang tak kunjung hancur hingga sekarang
Aku menangis dalam diam
Aku merasa kecil, lebih kecil dari bakteri terkecil yang bahkan terbekali nilai kemanfaatan untuk hidup
Lalu, apa artinya aku di sini? Apa gunanya aku melakukan ini? Apakah semua kenyataan tak selalu seindah mimpi?
Di persimpangan ini, pahitnya pertanyaan bahkan tak kuasa kujawab
Ya, semua hanya sebatas pertanyaan ketika aku masih saja diam
Dimana semua kata manis tentang kehidupan yang pernah kubagi untuk orang lain ? bahkan aku tak menemuinya ketika aku sangat membutuhkan itu seteguk saja

Harusnya aku percaya, harusnya aku yakin, harusnya aku kuat
Tak ada jurang yang tak terlalui
Kekhawatiran, kekecewaan, bukankah tidak akan ada rasanya esok hari?
Lalu tak ada alasan lagi untuk diam di sini

Aku melihat diriku lalu aku melihatnya, jiwa-jiwa yang lebih kuat
Bukankah mereka tanpa ragu merangkul dan menggandeng tanganku?
Bukankah mereka tidak meninggalkanku?
Bukankah seharusnya aku berterimakasih kepada mereka?
Bukankah ada janjiku bersama mereka untuk menjumpai masa depan yang lebih indah?
Harusnya aku segera kembali berjalan bersama mereka

Sekali lagi bahkan berulang kali, aku akan berteriak kembali
Melanjutkan mimpi yang tengah setengah terjamah

Sebuah arti diam, bukan untuk menandai selesainya asa
Aku akan berhenti diam dan semua yang kulakukan, asa yang kulantunkan, adalah untuk-Mu yang selalu memberikaku setiap rencana terbaik-Mu
Semoga

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -