Posted by : Pena Biru Jumat, Maret 28, 2014





            Gelap hadir terlalu dini bahkan ketika senja belum usai mewarnai ujung hari. Dinginnya titik-titik air jatuh segera membasahi aspal yang menguapkan panas. Dingin dan panas, bersatu menjadi sebuah hangat. Aku merasa hangat, bahkan ketika angin semilir menegakkan batang rambut lenganku. Aku merasa hangat, bahkan ketika cipratan air hujan merembes masuk lewat pori-pori epidermisku. Pada malam yang masih muda ini, aku menengok langit yang menangis deras, tak kulihat titik kecil itu. Hangat ini, ingin kukabarkan kepadamu.

            Titik kecil, aku menatapmu dari sini, dari bumi yang begitu penuh sesak akan ketidakpastian, meskipun kau tak berbalas berkelip kepadaku. Tirai hitam, jika aku bisa menyibaknya malam ini saja, aku ingin menatap puas titik kecil itu semalaman. Aku ingin bercerita kepadamu, tentang senyuman, tentang tatapan, tentang bahagia, dan aku berjanji tidak akan ada keluhan yang kusampaikan padamu saat ini.
            Titik kecil, aku masih menatapmu dari sini, dari ruangan kecil berjendela kayu, meskipun tak sedikitpun ku melihat rupa cahayamu. Aku masih menunggu, malam ini. Tapi, menunggumu hanyalah  alasan bagiku untuk menanti kehadiran waktu yang akan membawaku pada kisah yang kuinginkan. Tak bisakah kau segera mengibaskan gelap mendung itu untuk menjauh darimu? Tak inginkah kau tau kisah apa yang kuinginkan?
            Titik kecil, aku masih menatapmu dari sini, dari hati yang tak kuasa berlari untuk menghindari rentetan bui rasa yang semakin menjadi-jadi, tapi kau masih saja sembunyi. Aku akui aku hanya manusia tanpa daya yang tak mampu terbang untuk menemuimu di angkasa. Jadi bawalah dirimu ke hadapan mataku dan akan kuceritakan sepotong rasa dihatiku. Bukan sebuah rasa yang menyesakkan, tapi sebuah rasa yang tumbuh seperti tanaman baru yang tumbuh di akhir musim kemarau setelah hujan deras melanda sebagai pertanda musim penghujan tiba.
            Titik kecil, hujan bahkan sudah berlalu, menyisakan aroma tanah yang berdifusi segar menyenggol saraf hidungku, apakah kau benar-benar tak mau muncul tepat di mataku?  
            Titik kecil, bahkan jika malam ini kau memang tak diizinkan Penciptamu untuk menemaniku bercerita tentang ini itu, maka izinkan aku tetap menunggu hadirmu dan menyimpan semua ini. Aku masih punya rongga-rongga hati yang siap digunakan untuk meletakkan kembali kertas-kertas diary yang belum pernah kubagi kepadamu. Aku masih punya pegangan jiwa yang kuat untukku mampu kembali menata diri, menahan setiap ketergesagesaan untuk segera mengakhiri penantian ini. Tidak, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan aku hanya akan diam bersamamu, titik kecil. Ya, bersamamu, titik kecil, bersama untuk menanti.
            Titik kecil, aku memang menatapmu, bukan utuh dirimu, hanya menatap tempat dimana kau biasa berkelip, bercahaya, dan beradu posisi membentuk formasi. Nyatanya aku hanyalah menatap hamparan pekat dan gelap. Hanya malam ini, semoga esok kau segera kembali mencerahkan langit malam.
            Ya, langit malam yang selalu penuh rahasia. Langit malam yang kusukai dengan titik kecilnya. Titik kecil yang mampu menyeret segenap perhatianku, I’ll be waiting you for coming back tomorrow:)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -