- Back to Home »
- Jalan-Jalan »
- Pesan Untukku
Posted by : Pena Biru
Minggu, Mei 18, 2014
Selamat
pagi mentari yang cerah, bagaimana kabar cahayamu? Apakah masih seterang satu
hari yang lalu? Semoga kau tak bosan menyinari manusia dan makhluk bumi yang
sangat membutuhkan hangatmu.
Masih
dalam balutan embun yang tebal, awal pagi ini sungguh indah dinikmati. Sekian
banyak kendaraan dan mobil berpacu menembus putihnya embun yang melambat
memudar. Termasuk aku, tak seperti hari-hari sibuk sebelumnya, aku melaju
dengan tenang dan tanpa gesa. Titik air hasil uap embun tampak berbutir di kaca
helmku. Hari ini, aku melepaskan diri dari kotak rutinitas, mengambil sebuah
perjalanan, tanpa rencana apapun.
Belum
sampai tujuan, di tengah jalan tampak seorang kakek yang tengah memegangi
sepeda tuanya. Dia atas sepedanya nangkringlah sebuah kursi kayu besar yang
terikat tali hitam. Badan kakek itu kurus, sangat, hingga wajahnya sangat
tirus, tampaklah os pars cranium bagian pipinya. Aku membayangkan kakek itu
menuntun sepedanya diantara jalanan rumah-rumah, menjajakan kursi kayunya yang
terlapisi cat cokelat.
Selanjutnya,
kulihat kakek lainnya tengah besepeda membawa dua beronjong yang berisi
setumpuk krupuk. Tubuhnya memang tak sekurus kakek yang pertama, tapi hitam
legamnya kulit yang terbungkus kemeja lusuh menandakan betapa ia telah
mengarungi hari-hari dijalanan bertemankan mentari. Mulutnya terbuka terus,
ngos-ngosan sepertinya. Meskipun hanya perlahan, energi kakek itu takkan pernah
sama ketika ia pernah muda dulu.
Kendaraanku
berhenti di pasar, tepat didepan ibu setengah baya yang menjual sayur mayur. Ada
pembeli yang menawar seikat sawi hijau dengan harga yang murah. Tidakkah ibu
itu merasa rugi menjual sayurnya dengan harga seperti itu? Kulihat kembali
tatapan matanya yang sayu, gurat-gurat lelah meninggalkan bekas di wajahnya,
senyumnya pun seakan habis bahkan untuk menyapa pembeli. Sepahit itukah
kehidupan yang dijalaninya?
Pagi
menggulungkan waktu menuju siang hari. Di pinggir jalan, mataku menangkap ibu
dan anak kecil yang kira-kira usianya 4 tahun. Aku ingat ibu dan anak kecil
itu, mereka pernah meneliti tong sampah, mengambil botol-botol bekas untuk
dimasukkan dalam karungnya. Anak kecil itu, meski belum tahu untuk apa
sesungguhnya ibunya melakukan semua itu, ia tampak asik menikmati dunia masa
kecilnya, entah bermain kardus yang ia temukan atau sekadar mengayun-ayunkan
rumput dengan jari manisnya.
Di
perempatan lampu abang kuning ijo, saat abang menghentikan kendaraanku, sebuah
tangan-tangan kecil mengulur bersama rengekan meminta uang. Satu dua orang
memberinya sereceh uang tapi banyak juga yang mengacuhkannya. Anak itu tampak
sehat dan berpakaian pantas, tapi mengapakah ia berlaku demikian? Bukan hanya
satu anak itu, dua anak lainnya tengah beristirahat di teepi trotoar, mereka
memegang gitar kecil, mungkin merengek lewat lagu untuk pundi-pundi rupiah yang
mereka harapkan.
Sampailah
di tempat parkir, kendaraanku kusandingkan dengan kendaraan lainnya. Aku melihat
kembali seorang kakek yang sudah sangat renta. Ia memasukkan lembar demi lembar
daun-daun cokelat yang jatuh ke dalam sebuah plastik besar yang diletakkan
disampingnya. Mungkin ia seorang penjaga kebersihan pikirku. Ia seakan tak
peduli orang yang lalu lalang dihadapannya, yang ia tahu hanyalah ia harus
dengan sigap mengumpulkan dan membersihkan tempat ini dari daun-daun yang
berguguran, jatuh tertiup angin.
Aku
berlari kencang, meregangkan otot-otot ekstremitasku yang terlalu kaku untuk
bergerak. Pun otakku yang seakan kaku dan hanya terpaku pada hidupku saja. Hidup
yang kujalani hanya kubandingkan dengan orang-orang yang lebih punya waktu senggang
yang lebih daripada aku. Mereka yang dengan tanpa ragu melewatkan waktunya
mengunjungi satu tempat ke tempat lain, melakukan ini melakukan itu. Sementara
aku, hanya berkutat pada masalah baru yang seringkali muncul sepanjang waktu. Hingga
sempitnya pikiran dan hatiku mengatakan bahwa hidup ini terlalu sukar, berat,
dan melelahkan. Aku ingin menjadi mereka....
Oh,
Allah...
Persepsiku,
Engkau tunjukkan salah hari ini dengan pesan yang Engkau sampaikan lewat mereka.
Mereka yang lebih dan lebih tidak beruntung daripada aku. Ketika perjuangan
yang kuretas tak ada separuh dari berat mereka yang kulihat hari ini. Bahkan ketika
usia tengah menginjak senja, hal itu tak membuat kakek-kakek itu berhenti untuk
berusaha dalam hidupnya. Sangat miris memandang tubuh renta itu mengayunkan
sepeda yang sama umurnya dengan kakek tua itu. Cobaan berat mereka, semoga Engkau
balaskan dengan tempat terindah di surga. Pun pelajaran bagi mereka yang hanya
tahu hidup merekalah yang paling susah.
Anak-anak
kecil itu, jauh dari kata bahagia kah? Hilangkah masa kecil yang seharusnya
membentuk pribadi dan sikap mereka menjadi orang yang nantinya mampu menjamah
dunia? Saat uang adalah prioritas utama, haruskah jalanan menjadi ladangnya? Di
mana orang-orang yang peduli di kota ini? Katanya kota Layak Anak, mana
buktinya jika masih ada anak yang turun ke jalanan? Akh, terlepas dari itu,
masa kecilku dulu seharusnya meletupkan syukurku sekarang karena tak perlu
melalui hari bersama kepul asap di jalanan.
Bagi
ibu yang ikut mencari nafkah, membanting tulang, melakukan pekerjaan sebisa
mereka bahkan ketika mereka memiliki anak yang sebenarnya lebih membutuhkannya.
Namun, karena satu dan lain hal, mereka berjuang ke lapangan, menghadapi
pahitnya dunia. Maka, bukankah keadaanku sekarang lebih baik?
Nikmatmu
ya Rabb, bahkan tak terhitung untukku. Bagiku, bagi kakek itu, bagi anak kecil
itu, dan bagi ibu itu, aku tahu Engkau memberi kami porsi masing-masing,
segelas penuh air yang pahit dan segelas penuh air putih sebagai penawarnya. Karena
Engkau selalu menciptakan masalah beserta solusinya. Maka segala sesuatunya menjadi
berimbang. Aku yakini semua bagian dan
sekecil-kecilnya urusan telah Engkau atur, termasuk jalan-jalanku hari ini. Teruntuk
diriku dan engkau yang seringkali menangis karena hidup, maka ingatlah bahwa
Allah selalu ada dan tidak pernah tidur. Tak akan pernah ada yang tercecer dari
rencana-Nya.
Selamat
sore mentari yang telah sayup, bagaimana kabar cahayamu? Apakah masih sehangat
pagi tadi? Semoga kau tetap menjadi saksi perjalanan dan perjuangan manusia
hari ini.
