- Back to Home »
- Tentang malam »
- Senyummu, di Bukit Batu
Posted by : Pena Biru
Sabtu, Juni 07, 2014
Senyummu malam itu adalah salah satu
yang indah. Satu yang kan kuingat. Pun satu yang hanya satu kali bertatap menjumpaiku pada waktu yang sangat tepat, dalam
sebuah perjalananku menjenguk semesta-Nya.
Semesta, kupikir bahkan takkan pernah terjangkau oleh batasan
milyar cahaya. Tapi semesta dapat terwakilkan oleh sebagian penciptaan sang
Maha Karya. Seperti di bukit ini, kunamakan bukit batu, dalam waktuku untuk
menimba ilmu, kan kurekam secuil semesta dihadapanku. Di bukit ini, betapa
langkah kaki yang terayun terasa begitu tak berdaya. Kaki yang tak seharusnya
angkuh, karena sekali terpeleset maka kerasnya batu adalah benturannya. Maka,
perlahan, pada batu yang tertutup tanah yang basah, dengan pegangan pohon-pohon
sekitar, kaki ini melangkah mendaki.
Utara, selatan, barat, timur, adalah sama saja bagiku yang buta
arah. Begitu inginnya hanya mengikuti angin yang berhembus. Memotret dan
mengambil secuil benda-benda yang kutemui. Entah setangkai bunga, segulung
pelepah kulit kayu, ataupun selembar daun. Lalu akan kurangkai sebagai buah
tanganku untuk orang-orang terkasih. Begitu alaminya sisi bukit yang kuraba.
Meskipun langsung berbatasan dengan jurang, betapa adrenalin ini semakin
tertantang mendaki bukit batu.
Setengah hari terlewati di secuil semesta ini.
Siang roboh menjadi malam. Menyisakan butiran peluh pada lelahnya
tulang-tulang raga. Pun meninggalkan bekas yang terasa menyentuh dinding jiwa.
Pada kesempatan perjalanan ini, aku merasakan semesta begitu agung luar biasa.
Pada tengah perjalananku, senyummu tampak tertapak di langit, sangat
mempesonaku. Membuatku menyimpulkan senyum ke arahmu. Hai bulan sabit, betapa
engkau tahu aku sangat membutuhkan suntikan amunisi darimu, dari senyummu pada semesta.
Di bukit batu ini, didekat tembok pagar pinggiran sawah yang hitam
tak terlihat karena gelap, aku berdiri, menikmati indah senyummu. Sejenak,
sebelum kumandang adzan penutup hari menggema, kubiarkan diriku hanyut dalam
diam, sendiri, menggugurkan peluh setengah hari ini. Sejenak, kukokohkan kembali
penyangga tubuh ini untuk esok hari. Seraut wajah sendu segera kusimpan dan
kupasang seraut wajah cerah secerah cahayamu.
Posisi bukit ini adalah lebih tinggi dari daratanku berdiri
sehari-hari hingga aku merasa lebih dekat denganmu. Mencapai bukit batu ini
bukan hanya soal berjalan ke tempat tinggi tanpa aral yang berarti. Begitu waktu
yang ditempuh sangat lama dengan medan yang begitu tak biasa. Perjalanan yang
berat adalah masa sekarang yang mungkin membuahkan keluhan tapi bermakna untuk kenangan
di masa depan. Sama seperti hidup, jika ingin meraih mimpi di tempat yang
tinggi maka bukan dengan cara dan waktu yang singkat. Peluh, pengorbanan, ada
dimana saja ketika kita berjalan semakin ke atas. Senyum indah sang dewi malam
hingga kelipnya bintang gemintang adalah seperti cerahnya mimpi yang teraih,
begitu nyata begitu dekat.
Aku melalui malam tanpa setetes penyesalan. Meskipun setiap rencana
tak pernah berjalan sempurna, termasuk setengah perjalananku pada secuil
semesta-Nya setengah hari ini. Aku tak pernah menyangka akan mendapati senyum
indah malam ini, tepat ketika nadiku mengalir lemah. Terima kasih, Allah.
Engkau selalu romantis dengan menyajikan malam seperti ini. ; )
