- Back to Home »
- Special Thing »
- Mimpi yang Sempurna
Posted by : Pena Biru
Selasa, Mei 05, 2015
Nyalakan mimpi. Tuliskan mimpi. Ucapkan mimpi. Wujudkan
mimpi.
“No
matter what, no matter how, mimpi harus dituliskan di manapun, diucapkan kepada
siapapun, dan diusahakan semaksimal mungkin, karena sungguh if there is a will,
there is a way.” Seseorang yang sejam lalu ditunggu-tunggu berhasil meraih
tepuk tangan meriah dari para ibu yang memenuhi ruangan berkarpet merah ini.
Ini tentang cerita orang yang ingin pergi ke Jepang. Ia menceritakan mimpinya
kepada teman-temannya. Alhasil, teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan tidak
percaya tentang apa yang menjadi mimpinya. Ia yang juara tiga (dari belakang)
tentu dipandang rendah dan sebelah mata jika mengandaikan dirinya melanglang
buana ke luar negeri. Namun, ia belajar dari kadal yang tuli ketika panjat
pinang yang diiringi olok-olok yang tak pernah menurunkan niatnya. Ia selalu
mengatakannya, ia ingin pergi ke Jepang. Ia menuliskannya di selembar kertas
putih. Ia menguntai permintaannya dalam doa.
Apa
yang terjadi? Jalan tidak selalu hanya satu arah. Jepang bukan hanya untuk
orang-orang pintar. Jepang tidak pernah menuntut siapa saja yang ke sana harus
punya otak encer. Ia yang juara tiga (dari belakang) mengecup mimpi itu dari
kompetisi kekuatan jasmani. Yang terkuatlah yang memenangkan kesempatan ke
Jepang, dan ia membuktikannya kepada siapa saja yang meremehkannya. Ia
mendapatkan pekerjaan di Jepang. Ia benar-benar mewujudkan mimpinya. Bukankah
mimpi lah yang akan lebih menghidupkan hidup kita? Orang lain hanya
memperlihatkan satu sudut pandang jalan untuk keberhasilan pada umumnya, tapi
kita menciptakan jalan alternatif lain untuk keberhasilan yang mampu kita raih.
Menyalakan
mimpi adalah galian pertama untuk menemukan mimpi. Bagaimana bentuk mimpi?
Jawabannya bisa beraneka ragam tapi asal muasalnya dari sebuah keinginan. Jika
kita melihat lautan, maka apa yang bisa kita inginkan selain mengarungi
dalamnya samudera yang penuh dengan terumbu karang cantik nan elok? Jika kita
mengamati pegunungan, maka apa yang bisa kita inginkan selain mendaki gagahnya
jalanan terjal untuk sampai puncak dan menyentuh lembutnya awan? Jika kita
memandang hidup kita, maka apa yang bisa kita inginkan selain meraih yang
menyenangkan untuk kita nikmati. Maka, menyalakan mimpi itu membayangkan hal
terindah sebagai fokus. Mimpi bukan hanya cita-cita seperti profesi apa yang
kita inginkan, tapi hal-hal kecil seperti keinginan untuk membeli sesuatu atau
pergi ke tempat tertentu juga bagian dari keinginan, bagian dari mimpi. Seperti
mesin, nyalanya tergantung dari bahan bakar, maka bahan bakar mimpi adalah
pemantapan diri. Jadi, sudah kau nyalakan mimpimu?
Menulis
mimpi menjadi langkah untuk meraup banyak dukungan dan doa dengan bonus
segudang ejekan. Kadang kita nggak PeDe dengan mimpi yang kita miliki. Hei, ayolah...bermimpi
itu kan gratis, tidak ada kan peraturan di muka bumi ini yang melarang orang
untuk bermimpi, so mengapa harus takut dan malu menulis mimpi? Seseorang terus
menerus mengatakan bahwa menulis mimpi itu membuka kesempatan bagi siapa saja
yang membaca tulisan itu hingga jika para malaikat tengah mampir lewat maka
ucapan orang yang membaca tulisan itu bisa jadi doa bagi penulis mimpi. Sama
halnya ketika kita menulis status di BBM, WA, twitter, facebook, atau medsos
lainnya, bukankah ada banyak orang yang membacanya? Maka, cewek-cewek jangan
hanya berbagi perasaannya saja dan berkeluh kesah, tuliskan positive word atau
mimpi. Bagi cowok juga jangan Cuma menshare games dan tidak peduli, kadang
tuliskan keinginan itu, mimpi itu. Jadi, sudah kau tuliskan mimpimu?
Mengucapkan
mimpi lewat untaian doa adalah yang paling disukai Rabb kita. Bukan Cuma nulis
di status, tapi kita perlu menengadahkan tangan ke arah langit dan meminta.
Allah saja dengan hanya “jadilah” maka sudah bisa menciptakan semesta, maka apa
yang tidak bisa dilakukan Allah untuk mewujudkan mimpi kita? Bukankah kita
dilimpahkan banyak waktu istimewa untuk mengharapkan perwujudan dari mimpi
kita? Mulai dari setiap kali langit mencurahkan bulir-bulir airnya ke tanah,
saat interval antara jeda adzan dan iqomah, bahkan saat berkumpul dalam
majelis, setiap saat, selama kita mau menghamba, maka yakini saja mimpi itu
dapat terwujud. Bahkan kita bisa menyampaikannya kepada siapa saja. Seperti
pengelaman seseorang yang ingin pergi naik haji tetapi tertunda karena uang
yang dikumpulkannya dipinjamkan kepada teman yang lebih membutuhkan. Katanya,
uang itu untuk DP kepada Allah, semoga Allah memudahkan perjalanannya ke tanah
suci. Benar saja, tiga hari sebelum pendafataran ditutup untuk tahun tersebut,
ada orang yang menawari seseorang itu pergi haji gratis. Jadi, sudah kau
ucapkan mimpimu?
Mewujudkan
mimpi adalah fase terberat seseorang yang ingin benar-benar menikmati jerih
payah usahanya. Tidak hanya tulisan, tidak ada hanya kata, tapi tindakan. Berdoa
dan berusaha adalah satu paket. Seseorang itu memberikan contoh lagi, contoh
tentang perwujudan doa. Pertama, ada seseorang yang sangat menginginkan mobil,
maka ia mendatangi sorum mobil, membaca sholawat, sholat di dekat mobil yang ia
inginkan, dan dalam waktu terbaik, ia mendapatkannya. Kedua, ada seseorang yang
mengingkan memiliki rumah di perumahan elite, maka setiap sore, dengan
menggunakan training, ia jogging di kompleks itu sembari bersholawat, dan dalam
waktu terbaik, ia mendapatkannya. Sesimple itu kah? Tentu jawabannya tidak, itu
hanya contoh yang disederhanakan sebagai pembangkit semangat orang lain agar
mau menanam dan menuai mimpi dengan kerja keras. Jadi, sudah kau wujudkan
mimpimu?
Mimpi
yang sempurna lahir dari keinginan mulia dengan tujuan perwujudan yang positif.
Orang-orang yang berani bermimpi artinya mereka antusias menyambung harapan, mereka
tidak pernah lelah merangkai episode hidup hingga tamat, mereka menemukan
gairah diri untuk bertahan hidup. Selamat bermimpi, selamat menjadi pemimpi J
Inspirated by someone who talked about dream (Ustadz Yusuf
Mansyur) and his wife when me, my beloved sister (Kharis), and my nice friend
(Risna) stand for dreaming.
