- Back to Home »
- Tentang malam »
- Saat Bulan Menggantung di Malam Hari
Posted by : Pena Biru
Minggu, Juli 05, 2015
Tidak
ada yang paham kecuali aku dan Tuhanku. Mengecup syahdu angin dingin yang
berhembus. Memeluk gelap yang selalu diam. Menenggelamkan angan ke tempat
terindah. Hingga tak ingin pagi cepat datang menjelang.
Selamat datang pada fase waktu yang banyak orang
menyebutnya waktu beristirahat. Sebagian besar orang tidur waktu malam. Tentu
syukur adalah kunci memasuki malam, mengapa? Karena penerimaan atas segala
keadaan yang telah terjadi adalah dengan menyerahkan segalanya kembali kepada
Allah. Atas waktu yang telah kita lalui, atas nafas yang masih mengalir, atas
energi yang masih belum mati, atas segala cerita ini, bukankah malam adalah
saat yang tepat untuk memanggil nurani kita? Maka, seberapa jauh kita berjalan?
Seberapa banyak kita memetik buah manis hasil perjuangan kita? Seberapa sering
kita berhenti dan memaknai kehidupan ini?
Malam bisa jadi waktu terpanjang untuk melakukan apa yang
kita inginkan. Jika itu tentang keinginan kita, maka apa yang bisa kita
bayangan? Sejuta hal bisa kita lakukan, maka mengapa hanya terpaku melihat
bintang? Senyum indah selalu bisa kita sunggingkan, maka mengapa harus galau
dan bersedih saat awan-awan hitam menutupi hatimu saat malam? Teman-teman yang
hampir hanya menjadi nama dikontak hape kita, mengapa tidak kita ucapkan salam
dan bertanya apa kabar? Bukankah malam itu indah, lebih indah jika kita punya
banyak waktu untuk melakukan sesuatu disamping kebutuhan kita untuk sekedar
beristirahat.
Malam juga bisa jadi saat-saat romantis, tergantung
bagaimana kita menjalaninya. Saat dia berputar-putar dipikiran kita, mengapa
tak coba kita titipkan salam lewat angin malam yang menerobos jendela kamar?
Atau bertanya kepada bulan tentang puisi terindah yang bisa diciptakan malam
ini? Atau meminta bantuan bintang-bintang untuk menggugus cinta dan berkelip
mesra untuknya? Jika tidak kuasa,maka simpan saja, sendiri saja, bukankah malam
adalah teman yang menyenangkan?
Malam juga bisa menyedihkan. Saat kita hanya meratapi
masa lalu yang kelam. Bukankah kita dan masa lalu adalah sama? Maka mengapa
berpayah-payah ingin menghilangkan masa lalu untuk terlihat baik di masa
sekarang? Tidak ada masa yang sempurna, bahkan masa sekarang yang kita anggap
sebagai yang lebih baik dari masa lalu belum tentu baik juga setelah masa
sekarang menjadi masa lalu. Maka, mengapa tidak kita coba menerima diri kita,
apapun masa lalu kita, bukan mengutuki diri dan menjadi menyedihkan. Lalu, saat
orang lain datang pada kita, tengoklah dirinya bukan pada masa lalunya, hanya
terima dia seperti kita belajar menerima diri kita sendiri.
Akh,abstrak kah dan sulitkah dipahami tulisan ini? Ke
sana ke mari, ndak jelas jalannya. Baiklah kita tutup saja dengan sedikit deskripsi
tentang mimpiku. Aku bermimpi punya rumah dengan atap yang bisa kusinggahi
setiap malam. Mengerjakan laporan tanpa lampu penerang jika rembulan tengah
bersinar megah. Berharap banyak kunang-kunang yang mengelilingiku. Suara
jangkrik dan hewan malam sebagai musik pengiring belajarku. Ditemani sepiring
keripik kentang kesukaanku dan teh anget buatan adikku. Meninggalkan hape di
kamar, aku tak ingin diganggu oleh hasrat membuka aplikasi medsos. Tiap kali
menengok ke atas ada banyak teman kecil. Yah, begitulah kiranya...

mantap .. (y)
BalasHapusTerima kasih sekali lagi untuk foto bulannya khid, wkwk...
Hapus