Posted by : Pena Biru Senin, Juli 06, 2015


Kasih sayang yang abadi adalah yang diingat di setiap memori. Kasih sayang tidak seperti roh yang bisa pergi, ia menetap dan berkembang untuk setiap manusia lain yang merasakannya.

Pagi hari yang cerah. Belum terlalu panas seperti kemarin. Sebuah kendaraan menepi di sudut tembok putih yang sudah mulai mengelupas catnya. Dua orang. Satu pengemudi normal dan satu lagi harus menopang tubuhnya yang tidak bisa berdiri sempurna hingga ia harus selalu membawa krek bersamanya. Kakek bersarung itu turun dari kendaraan dibantu beberapa orang di dekatnya, berjalan tertatih dengan krek, tampak hanya satu kaki yang benar-benar menapak di tanah. Ia kemudian duduk.

Satu meter dari tempat duduk kakek bersarung tadi, ada kakek lain yang sedari tadi malam duduk di tempat itu. Pakaiannya rapi berpeci dengan sepatu karet bak anak muda. Tampak binar mata yang jelas bagi tiap-tiap yang melihatnya. Ia terus saja mengamati lalu lalang orang di depannya dengan tenang. Sesekali menegur sapa dengan yang lain dan ia selalu ramah mengatakan bahwa ia datang dari tempat yang jauh untuk bisa sekali ini saja duduk di sini. Ia duduk di deretan terdepan.

Satu motor lagi menderu mendekat, seseorang dengan berbatik dengan celana pendek di atas dengkul datang dari sisi yang berbeda. Kakinya penuh dengan bercak tanah cokelat. Beberapa menit berbincang dengan salah seorang anggota keluarga. Ia sempat bercerita tentang sahabatnya yang masih ke masjid tadi pagi untuk menunaikan sholat Shubuh, bercerita tentang “sehatnya orang tua ini”, dan sedikit menitikkan air mata atas rasa tidak percaya akan kehilangan sahabatnya itu. Dia berlalu dan kembali dengan pakaian rapi. Memberi salam dan duduk di kursi paling samping.

Akh, ini bukan tulisan cerpen. Ini benar-benar terjadi. Ketiga kakek itu benar-benar nyata. Ketiga kakek itu benar-benar datang satu minggu sebelum Ramadhan. Lalu, aku baru kuat untuk menuliskan di sini beberapa hari ini karena ketika mengingat wajah kakek saja dalam memori ini, akh masih rapuh, masih menangis. Lihatlah judulnya, jika itu tentang terakhir, maka apa yang bisa diharapkan dari tulisan ini selain kesedihan dan kenangan? Hari itu, hari pemakaman kakek, mbah kakung.

Achmadi, pahlawan veteran ini, ialah seorang yang punya banyak sahabat yang mengunjunginya di akhir hidup. Yang datang dari yang paling dekat rumahnya, yang berbincang setiap lima kali sehari di masjid, yang bertukar ilmu sebulan sekali di acara kajian, yang hanya bertegur sapa di jalanan setiap kali melihatnya bersepeda pelan, yang tak pernah lagi bekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir karena jauhnya jarak rumah, mereka berduka. Yang hanya masih menyesal hingga saat ini, cucu pertamanya, aku yang selalu menunda-nunda untuk main ke rumahnya, niat untuk menyapa minggu terakhir ternyata benar-benar terwujud tapi dengan tidak adanya lagi kakek.

Benarkah? Benarkah kakek meninggalkan kami? Mbah kakung yang sudah delapan puluh tahun itu benar-benar telah dipanggil Allah? Benarkah Ramadhan terakhir bersamanya adalah tahun lalu? Benarkah tidak akan ada lagi seseorang yang bersepeda ke rumahku dan mengajakku untuk ke kantor pos? Benarkah tidak ada lagi yang akan membawa padinya untuk dipeme di halaman rumahku? Benarkah, ya Rabb? Bahkan ketika keranda itu diangkat dan dibawa pergi, tidak ada cucunya yang tidak menangis. Saat ini, entah sampai kapan, tiap kali melihat kakek renta dengan sepeda tua, aku mungkin tidak sekuat bapak yang bisa baik-baik saja dan menahannya hanya di dalam hatinya.

Maka di sini, izinkan aku mengenang sedikit rekaman yang bisa kupanggil dari simpanan memori otakku. Mulai dari sawah, ya, mbah kakung yang kutahu adalah petani yang rajin. Tak pernah ketinggalan menyemai biji-biji dan berharap berkembang dan masak. Aku ingat sering diminta mengirim satu cattle es teh dan beberapa kacang tanah godok ke sawah, melihatnya menginjak beceknya sawah, senang bermain di tepian sawah yang kemudian dimarahi bapak dan disuruh balik pulang. Bapak bercerita tentangnya yang dulu mengajak ketiga anak dan satu istrinya (mbah putri) pergi bekerja dengan satu kendaraan, susahnya waktu lampau, jauhnya jarak yang harus ditempuh, adalah cerita sebelum moderinisasi. Bukan hanya dari Bapak, mbah kakung selalu bercerita tentang banyaknya teman di berbagai tempat, berjuang bersama, dari zaman dulu hingga sekarang. Tak pernah sepi ketika malam takbiran selalu keluarga kami berkumpul di rumahnya, membuat masakan, hingga berbuka dan paginya lebaran bersama. Fitrahmu, aku selalu senang menerimanya. Aku juga selalu senang mengantarkanmu ke kantor pos, mengambil gaji veteran tiap bulan, mengantarkanmu ke masjid yang jauh untuk kajian, dan mendengar ceritamu sepanjang perjalanan.

Mbah kakung, Maafkan kami (cucu-cucumu) yang belum bisa melepas sepenuhnya, yang masih nakal, yang belum bisa membahagiakanmu, yang masih menangis tiap kali mengingatmu, tapi kami janji perlahan kami pasti bisa untuk bisa setegar mbah putri yang sudah ikhlas ditinggalkan satu-satunya temannya. Semoga Allah memberikan ampunan dan tempat terbaik untukmu, menjauhkan siksa kubur dan memberikanmu teman terbaik di sana. Semoga juga kita dipertemukan kembali sekeluarga. Terima kasih karena telah mbah kakung adalah bapak untuk bapakku yang paling jempolan. Terima kasih sudah menjadi kakek yang hebat untuk kami. Selamat jalan, mbah kakung.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -