- Back to Home »
- Islamic Center »
- Reflection
Posted by : Pena Biru
Minggu, September 27, 2015
Taukah
kau bahwa Allah sungguh sangat mencintaimu? Lebih dari yang manusia bisa
lakukan, Allah melakukan banyak hal luar biasa dalam hidupmu. Yang tak pernah
disangka-sangka. Yang bahkan belum kau pahami mengapa sebuah peristiwa kau
alami. Satu hal yang kita harus diyakini, Allah bersama dan mencintai kita,
orang-orang yang sabar untuk meminta pertongan-Nya.
Roda bumi yang berporos
membuat manusia tidak pernah diam di suatu tempat. Angin yang bergerak,
menandakan perubahan alam yang sebanding dengan seringai manusia. Sesaknya
dunia bukan karena penuhnya populasi. Tapi karena sempitnya akal perasaan yang
ada di dalam dada manusia itu sendiri. Yang selalu terjatuh ketika roda
berguling menjadikan tempatnya berdiri berada di bawah. Yang tidak bahagia
meskipun langit sudah dijunjungnya.
Jalanan yang kita temui
memang selalu menawarkan berbagai macam persimpangan. Musim yang berhembus
membawa aneka rona yang selalu berwarna. Harum bunga yang berbeda di tepian
jalan diselingi bongkahan batu bisa menyandung kapanpun. Tidak sesempurna yang
dibayangkan. Tidak seperti yang direncanakan matang-matang. Setiap kejadian
memang bercabang. Penuh pilihan, penuh liku. Maka, jalan kehidupan sama
ceritanya dengan jalanan di bumi.
Jika suatu saat kaki
ini terjerembab ke suatu lubang. Membuat kita menangis tak karuan. Berpikir
bisa mengundo beberapa hari saja, bahkan jam hingga detik hingga peristiwa
menyakitkan tidak terjadi. Membayangkan masa depan yang terlalu samar karena
hari ini kita masih terperosok. Benar-benar seperti tak berdaya. Ya, karena
kita manusia. Yang memiliki ujian. Yang memang ditakdirkan hidup
berpayah-payah.
Bukan selalu buruk
setiap ujian yang sudah ataupun tengah kita hadapi. Bukankah sekarang bukan
yang pertama kali kita diuji? Dan bukankah ujian yang pernah terjadi telah
terlalui dan telah menepi? Menghasilkan diri kita yang harusnya lebih kuat dan
mampu membuka hati untuk memahami dengan bijak. Mengapa kita harus berpikir
ujian yang menimpa kita karena kesalahan kita dan adzab yang diberlakukan Allah
untuk menghukum kita? Tak melulu seperti itu. Kita bisa melapangkan hati kita
untuk memahami bahwa ujian datang karena Allah mencintai kita, Allah ingin tahu
seberapa besar usaha kita, apa yang akan kita lakukan atas ujian itu, hingga
mengkualifikasikan kita atas keimanan kita.
“Dan sesungguhnya Kami
benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad
dan bersabar di antara kamu dan agar Kami menyatakan baik buruknya hal ihwalmu
(Muhammad-31) Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas (Az-Zumar-10).”
Mendekatlah, angkat
tanganmu, ucapkan keinginan atas ujian yang tengah melanda kehidupanmu.
Ingatlah bahwa kita manusia ciptaan-Nya. Sampaikan saja, menangis pun tak apa,
beritahu bahwa kau akan menjadi lebih baik setelah ini, kau bersyukur atas
keadaanmu yang sebelumnya tidak pernah kau sadari bahwa keadaanmu adalah nikmat
yang tak terlihat oleh matamu, bahwa kau terlalu mengejar kesempurnaan yang
semu. Maka, Allah-lah pengabul doa-doamu melalui beragam peristiwa untuk
menjawab keinginanmu.
Allah benar-benar
mencintaimu, wahai manusia yang sabar. Mengapa tak kita pikirkan anugerah yang
telah diberikan Allah pada kita? Tentang apa yang sudah kita miliki, bukan apa
yang tidak kita punya. Ada banyak contoh jika kau ingin tahu bahwa Allah
benar-benar mencintaimu. Indonesia misalnya, negeri yang indah dengan plasma
nutfahnya, desa/kotamu misalnya, tempat yang damai sejahtera, keluargamu
misalnya, bapak ibu yang menyanyangimu, agamamu misalnya, sempurnanya Islam, bakatmu
misalnya, tidak semua orang bisa sepertimu, parasmu misalnya, ada saja orang
yang iri melihatmu, hatimu misalnya, peka akan peristiwa-peristiwa sekitar yang
belum tentu orang lain merasa. Tanamkan saja hal-hal positif, pikiran dan
perasaanmu bukan hanya ruang untuk sisi negatif dan buruk saja.
Atau pernahkah kau
merasa Allah menyelamatkanmu dari suatu kejadian buruk? Mengabulkan keinginan
yang sudah jungkir balik kau panjatkan ratusan kali? Atau memberimu hadiah dari
seseorang yang tidak pernah kau sangka-sangka? Atau haruskah aku bertanya,
apakah kau masih bisa bernapas dengan lancar saat ini? Masih bisakah kau tidur
nyenyak diambenmu yang empuk? Masih
bisakah kau makan dan merasa lezat maupun kenyang? Masih bisakah kau menyapa
orang-orang yang menyayangimu? Lalu, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Jika benar-benar
seperti musim semi yang datang, yang kau tunggu-tunggu, yang menyunggingkan
senyummu, maka semua itu dari Allah. Bahagia itu, nikmat luar bisa yang Allah
berikan khusus untuk hamba yang dicintai-Nya. Yang rela sujud di sepertiga
malam. Yang tak lelah berdoa seusai sholat. Yang selalu sedekah bahkan jika
hanya seuntai senyuman. Yang tentunya bersabar untuk menolong diri sendiri dari
jerat gerutu yang menyesakkan. Kedamaian hati, kita sendiri yang menciptakan.
Ketenangan hidup, kita sendiri yang mengupayakannya.
Anyway, setiap peristiwa yang terjadi adalah istimewa. Saatnya menatap bintang gumintang dengan senyuman. Saatnya mulai menyapa mentari yang baru muncul dari peraduan. Saatnya memahami betapa hebatnya setiap penciptaan alam semesta. Saatnya menyadari bahwa kita manusia yang dicintai sang Maha Cinta. Saatnya mengikrarkan diri untuk lebih baik, sedikit demi sedikit, hari demi hari, hingga kita benar-benar meraih cinta yang hakiki.
Anyway, setiap peristiwa yang terjadi adalah istimewa. Saatnya menatap bintang gumintang dengan senyuman. Saatnya mulai menyapa mentari yang baru muncul dari peraduan. Saatnya memahami betapa hebatnya setiap penciptaan alam semesta. Saatnya menyadari bahwa kita manusia yang dicintai sang Maha Cinta. Saatnya mengikrarkan diri untuk lebih baik, sedikit demi sedikit, hari demi hari, hingga kita benar-benar meraih cinta yang hakiki.
