- Back to Home »
- Biologi »
- Alam pun Menangis
Posted by : Pena Biru
Selasa, Oktober 06, 2015
Para malaikat berdiri
di tepian cakrawala, tengah bekerja menjinggakan langit. Matahari menjajari dua
gunung barat, menggelayut manja sebelum kembali ke peraduannya. Lambat laun kejora
bersinar dengan terang disusul teman-teman kelip lainnya. Hingga hening datang
menyelimuti. Siklus senja tak pernah berhenti terjelang dengan indahnya. Tetap
begitu meskipun alam semesta kian tua, kian berlubang, dan kian miskin.
Kejora meninggalkanku
pada malam dengan segudang kekalutan. Seperti tanah-tanah di musim kemarau yang
berkepanjangan, aku kekurangan kesejukan dan merindukan akar-akar segar.
Seperti sulur yang kehilangan pagar hidup untuk tumbuh, aku membutuhkan banyak
penyokong agar tidak roboh karena angin. Kesedihan yang dalam ini karena mataku
selalu nanar melihat segalanya memburuk, hingga ketika malam banyak muncul
pertanyaan tentang mengapa banyak manusia yang berbuat kerusakan di alam
semesta? Mengapa manusia tak perna jera menyakiti sesama manusia, makhluk lain,
menghancurkan segalanya, lalu tanpa dosa masih tertawa dan makan dengan puas?
Aku juga manusia.
Manusia yang ber-Tuhan. “Manusia yang tahu bahwa alam adalah anugerah Tuhan yang
harus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.” Tapi itu benar-benar
hanya sebuah omongan saja karena apa yang bisa kuperbuat kini? Aku hanya banyak
mengamati setumpuk sampah di pinggir jalan, risih mendengar berita
penyelundupan nuri lewat botol air mineral, miris melihat katak bersemedi di
bawah keran air, dengki menonton video pertunjukan beruang madu yang dikuliti, memandang
sebal semen-semen tol yang diangkut truk-truk besar, mendengus kesal mengamati
aliran biru dari pabrik yang meracuni ekosistem sungai, membenci mereka yang
memotong dan membakar batang-batang di hutan untuk perkebunan, dan menyalahkan
diri sendiri karena belum mampu berbuat apapun.
Mengapa harus membuat
kebijakan untuk menambah jalan tol dengan memangkas sekian hektar ekosistem
sawah guna lintasan mobil pribadi, bukankah membatasi dengan memberi fasilitas
angkutan umum yang lebih layak adalah lebih baik? Mengapa harus ada izin
perusahaan-perusahaan jahanam yang menyedot tambang dan hutan hingga meyatimpiatukan
flora dan fauna, bukankah mengelola dengan teknik ramah lingkungan sudah
tersedia di zaman yang teknologinya sangat canggih ini? Mengapa harus meminta
bantuan luar negeri untuk menyedot minyak dan gas bumi, bukankah seharusnya
meminta orang-orang cerdas Indonesia untuk membuat segalanya menjadi hak kita? Mengapa
harus ada iklan tentang cara yang benar meremas botol air mineral jika kita
bisa tidak menggunakannya, bukankah menyosialisasikan dan memberikan bantuan
untuk para peneliti atas jasanya membuat sebuah wadah yang bisa didaur ulang
adalah lebih utama? Mengapa banyak orang membuang sampah di tempat yang
bertuliskan “dilarang buang sampah di sini”, bukankah mereka bisa membaca,
sungguh bukan mata mereka yang buta, tapi hatinya?
Jika alam bisa merasa,
pastilah ia menangis sejadi-jadinya, mengetahui ozonnya yang berlubang, udara
yang tidak lagi bebas dari radikal bebas, gunung-gunung sampah di dasar lautan,
pucatnya barier karang, punahnya berbagai macam satwa, matinya pohon-pohon, pun
air yang banyak teracuni. Lalu, bisa kah kita, yang mengaku manusia ber-Tuhan
akan tetap hidup dalam detik-detik menuju kehancuran alam ini? Tengoklah hati
ini, apakah benar-benar tidak peka terhadap isu lingkungan yang sedang terjadi?
Tengoklah kanan kiri, adakah yang bisa dilakukan untuk menolong alam kembali
kepada tatanan yang seharusnya?
Apa yang kuharapkan dari
sebuah pertolongan untuk alam adalah tentang lebih menghargai hidup kita
sendiri dengan berusaha meminimalkan tindakan mencemari alam. Baiklah, memang
tidak mudah mendetailkan segala usahanya, tapi kita bisa setidaknya mencegah
hal-hal sepele yang bahkan kita tidak menyangka akan terjadi hal buruk dari apa
yang kita lakukan. Misalnya, berusahalah bertanya kemana sampah plastik yang
kita buang berakhir? Bertanya, apa jadinya jika kita hanya menjadi penonton
setia punahnya hewan dan hutan? Hei, setelah bertanya, mari kita sadari bahwa
kita punya media sosial yang amazing bingit, mengapa tak kita menggunakannya
untuk mengajak yang lain peduli? Peduli kepada alam yang telah banyak
bersedekah untuk manusia.
Alam sekarang hanya
bisa menikmati kehidupan lewat sebaris embun. Ya, yang membasuh luka dan
perihnya derita yang tak pernah tau di mana ujungnya. Yang bernafas dengan
berharga mesti hanya dalam waktu sementara. Membiarkan matahari terbit dengan
anggun dan meneteskan kesegaran embun pada pori-pori epidermis daun dan batang,
pada retakan-retakan tanah kering, pun pada bangkai-bangkai yang tak lagi
bernyawa.
Saatnya menghentikan
tangisan alam. Save the earth.
