- Back to Home »
- Coretanku »
- Melangkah dan Berubah
Posted by : Pena Biru
Senin, November 30, 2015
Menuju
pagi yang dingin, banyak sekali asa yang teruntai. Satu per satu menanti di
depan pintu langit. Berjajar rapi di samping kejora yang kali ini muncul di
pagi buta dan absen waktu senja. Kadang kala pula berpapasan dengan
burung-burung surga. Sedikit cemas mengamati bulatan merah beranjak naik.
Sekali lagi, aku ragu untuk memasang kuda-kuda kembali dan bersiap mengejar
matahari.
Aku
hanya di sini. Belum pergi ke mana pun bahkan ketika matahari terlalu silau
untuk kulirik. Aku masih di sini. Tidak punya apapun kecuali mimpi. Tidak
berbuat apapun kecuali bernafas dan berdetak. Merasa malu pada matahari yang
setiap waktu bergerak untuk menepati janji. Merasa ingin menjadi sedikit saja
seperti matahari yang selalu dirindukan dan diperlukan. Sekali lagi, hanya
banyak mengumbar harapan yang tak pasti.
Aku
pernah melangkah dengan sangat tangguh. Melangkah bersama yang lain dalam
balutan awan siang dan dinginnya angin malam. Di bawah bintang, belajar dan
belajar. Maka, bukan hanya merasa sebal, kantuk, atau lelah, tapi lebih nikmat
dan lebih dari itu. Melangkah menyusuri setiap intisari ilmu dan cerita hangat
yang kadangkala mengharukan. Melangkah lagi, aku belum ingin berhenti.
Aku
hanya ingin melangkah lagi. Melangkah menyebrangi setiap mimpi yang sudah
mengantri untuk dikabulkan. Tapi rencana yang tersusun rapi kadangkala hanya
menjadi barisan angan yang terkaburkan. Hambatan, jurang, jalan terjal, bukan
apa-apa dibanding dengan kedangkalan usaha. Betapa menyenangkannya melihat
orang lain melewati apa yang sudah menjadi bagian dari rencanaku pula. Lalu
satu per satu menjadi lebih jelas. Teliti melewati dengan hati-hati agar bukan
kecewa tapi pemahaman tentang mengapa bukan berada pada jalan yang diinginkan. Bukan
dengan mimpi ini, tapi dengan yang lain.
Aku
rasa bukan hanya dengan satu cerita tentang mimpi, tapi juga bagian cerita
tentang kehidupan. Tentang orang-orang yang melangkah masuk dan pergi dalam
hidup. Tentang diri yang juga melangkah sejengkal demi sejengkal di tepian yang
curam. Sungguh menyenangkan melewati setiap perputaran musim dengan orang-orang
yang selalu tersenyum dan siaga di samping kita. Langkah yang serasi.
Kadangkala itu hanya berlabel masa lalu. Karena jika jalanan mimpi berubah,
maka langkah kaki orang-orang juga tak kalah hebat bisa berubah.
Aku
hanya merasa banyak sekali yang berubah. Tapi bukankah memang kehidupan tidak
pernah berhenti hanya dalam satu fase? Memangnya kenapa jika ada yang berubah?
Bukankah akal dan perasaan manusia tidak pernah selalu baik dan tulus untuk
setiap waktu dan kesempatan? Apa salahnya dengan perubahan? Bukankah tidak ada
yang melarang untuk menangis jika memang perubahan itu menyakitkan? Sekali
lagi, aku selalu menjawab sendiri segala pertanyaan yang kuutarakan.
Aku
hanya terlalu takut untuk melihat segalanya berubah. Menggerus segalanya yang
pernah ada. Menggantinya dengan luka yang menganga. Membiarkan debu jalanan
mengusamkannya. Menanti hujan untuk membasahi segala kering yang mengikis.
Menjadikan diri ini sama sekali susah beranjak pergi. Membiarkan fase-fase yang
sudah habis terlewati selalu tergambar setiap saat, tepat ketika segalanya
seperti menghilang. Sebenarnya. Apalah aku, aku adalah bagian dari perubahan
itu. Aku yang pernah berubah. Menjadi seseorang yang tidak diinginkan di suatu
waktu. Menjadi seseorang yang membiarkan orang lain menangis tersedu. Menjadi
seseorang yang tidak jelas tujuan hidupnya. Menjadi seseorang yang sama sekali
tidak menyenangkan.
Aku
akan tetap melangkah dan berubah. Bukan melangkah meninggalkan mimpi tapi
melangkah dengan membawa mimpi. Menuju masa depan untuk mewujudkan mimpi itu.
Bukan berubah menjadi orang lain dan hanya larut dalam setiap perubahan, tapi
berubah dalam garisan takdir yang sudah terpilihkan. Apapun hasil akhirnya,
kita manusia tak kuasa menentukan dan meyakini segalanya sudah terpola dan
tercap yang terbaik adalah yang hal terbaik yang bisa dilakukan. Do the best
and change for ourbest.
