Posted by : Pena Biru Senin, November 30, 2015


Satu langkah kaki. Dua langkah kaki. Seratus langkah kaki. Menapak. Menjejak. Memberi arti. Meninggalkan tempat masa kini. Menuju masa depan.

Masa depan adalah satu detik setelah satu detik yang baru saja kita lewati. Tidak jauh. Lihat saja doraemon yang hanya beberapa detik saja bisa ke masa depan lewat pintu ajaibnya. Masing-masing kita tanpa kita sadari memiliki pintu ajaib sendiri. “Nggak terasa ya udah......” Pintu ajaib itu adalah tentang tahun-tahun yang kita pikir cepat sekali terjelang di depan kita sehingga ketika kita tiba di satu titik kita merasa tidak percaya sudah melewati banyak hal. Itulah pintu menuju masa depan, dekat sekali bukan rasanya?
Banyak sekali yang bermimpi untuk menjadi orang sukses di masa depan. Tapi ada juga yang “madesu” karena tidak punya mimpi dan hanya berjalan tanpa arah. Lalu, dari mana kita mendapatkan mimpi? Jawabnya tentu berbeda untuk setiap orang. Apa yang paling kita inginkan bisa jadi mimpi kita. Bermimpi lah besar. Bermimpi untuk diri dan orang lain. Bermimpi yang banyak. Dan bagaimana caranya menjadi orang sukses di masa depan? Jawabnya mungkin adalah dengan belajar. Belajar tidak melulu soal membaca buku. Ya, kita tau membaca buku adalah hal penting untuk kita mendapatkan pengetahuan. Tapi yang tidak kalah penting adalah belajar tentang orang-orang di sekitar kita, tentang cerita kesuksesan mereka, tentang perjuangan besar, tentang rasa pantang menyerah.
Berbicara tentang sukses, cerita datang dari berbagai kalangan dan profesi, baik zaman dahulu hingga zaman sekarang. Semuanya hadir dengan cerita bervariasi yang memberikan pelajaran kepada kita. Kalau di zaman dahulu ada RA Kartini yang sukses mengumpulkan surat yang menginspirasi banyak wanita, ada juga cerita tentang Soe Hoek Gi yang sukses menginspirasi lewat idealismenya, pun cerita tentang Tan Malaka, Soekarno, dan tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya, bukankah hebat kesuksesan mereka? Di zaman sekarang sukses adalah seperti pemilik Apple, penulis J.K.Rowling, produser film Titanic, mereka yang terlibat dalam produksi drama korea.  Yang faktanya mereka meraih sekian juta dollar atas karya mereka. Apa yang berubah?
Tentu jawabannya adalah dunia yang berubah. Dunia melabel sukses adalah tentang seberapa besar materi yang bisa diperoleh atau seberapa tinggi posisi seseorang. Bukankah seperti itu sukses menurut sebagian besar orang saat ini? Memang tidak salah karena era selalu berganti. Mengganti persepsi, sudut pandang, dan fokus utama. Yang terpenting adalah tetap mengambil pelajaran dan tidak serakah untuk selalu mengutamakan materi dan posisi. Masa depan bukan hanya tentang menjadi orang kaya, tapi juga menjadi orang yang bermanfaat.  Seperti mereka yang bisa mendapatkan jutaan dollar atas karyanya, mengapa tidak kita ciptakan karya kita sendiri?
Karya yang kita nantinya ciptakan tentunya adalah karya yang datang dari kreativitas kita. Ciri orang kreatif (Tere Liye, 2015) adalah mereka yang tidak malas, tahan banting, pelopor (bukan follower), dan pastinya konkret. Jarak antara orang-orang hebat dengan kita adalah lima huruf. Jarak orang-orang sukses dengan kita adalah lima huruf. Yaitu m-a-l-a-s. Malas memang sifat wajar manusia tetapi kita bisa mengontrolnya. Bukankah kita cukup punya banyak waktu untuk update status di facebook, bbm, bahkan selfie ria di berbagai tempat, upload foto di path,line, instagram, tapi apa yang bisa kita benar-benar ciptakan untuk waktu yang banyak di samping kita? Segalanya sudah dipermudah dengan banyaknya teknologi tapi tidak serta merta membuat waktu kita lebih berkualitas.
Kedua adalah tahan banting. Masa depan yang sukses adalah milik mereka yang tidak pernah lelah memperjuangkan karyanya, untuk bangun dan bangun lagi ketika ada batu besar yang menyandungnya. Ketiga adalah pelopor (bukan follower), artinya adalah karya yang asli, bukan hanya ikut-ikut karena sedang trend bahkan jangan sampai plagiat. Terakhir adalah konkret, artinya konkret itu jelas. Jelas mau dibawa ke mana karya kita. Bagian terpenting yang membungkus ciri-ciri orang kreatif adalah fokus. Nama lain fokus adalah konsistensi. Seberapa setianya kita pada genre karya yang kita ciptakan dari waktu ke waktu, semakin banyak, semakin berkembang, semakin bermanfaat, adalah yang terhebat untuk menjadi cerita di masa depan. Karya yang bermanfaat adalah yang bisa dinikmati orang lain dan bisa menginspirasi. Caranya adalah dengan memperbanyak link. Ya, memperbanyak teman yang bisa kita mintai bantuan untuk mempublikasikan, hingga intansi-intansi penting sebagai backing yang akan membuat karya kita menjadi lebih mudah terpublikasikan.
Katanya mumpung masih muda. Bergegaslah merumuskan tujuan, memimpin diri menuju perubahan, lalu menciptakan karya. Bergegaslah bergerak untuk mengarungi aral rintangan menuju kesuksesan. Jika terlalu berat perjalanannya, maka jangan lupa menyalakan lampu di hati kita, yang memberi kita petunjuk tentang motivasi yang mendasari kita mengapa kita perlu repot-repot berada di jalan ini. Motivasi diri sendiri, adalah yang terkuat untuk tetap tangguh dan tidak menyerah. Bukankah karya adalah hasil dari apa yang kita sukai (lahir dari hobi) yang kita ciptakan untuk dibanggakan? Maka, sepertinya tidak susah untuk terus melahirkan karya meski perjalanannya berliku-liku.'




Catatan (29/11/2015).
Tidak jauh-jauh, hanya di kota tetangga. Jogja. Tapi selalu terasa special ceritanya. Tempat yang tidak sering aku kunjungi ini memang begitu menarik untuk diceritakan. Ada hal-hal baru, pengalaman seru, dan cerita yang tidak biasa. Seperti menikmati detik demi detik yang tidak ingin terlewatkan. Jogja kali ini membawa pesan tentang masa depan. Menuju masa depan yang sukses memang bukan proses yang mudah tetapi bukan pula tidak mungkin. Good luck. Thanks for inspiring people (Darwis Tere Liye, Nova Suparmanto, Garuda Racing Team) in UNY Fair 2015.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -