Posted by : Pena Biru Senin, Maret 14, 2016


Beriringanlah bintang-bintang itu dalam satu takdir waktu. Bertemu kembali setelah jutaan tahun cahaya mengorbit semesta. Menciptakan percakapan yang abadi. Menorehkan senyum simpul pada masing-masing cahaya yang berkilau.

Semburat senja yang sama. Ada warna yang membinarkan mata. Jingga itu hadir di pinggir langit yang mulai kelabu. Mengais waktu yang hampir berada di akhir dengan keindahan yang istimewa. Aku melihatnya, bintang-bintang itu. Bintang yang sebenarnya aku tak pernah tau apakah ia masih utuh dan bersinar sekarang. Ya, sekarang. Cahaya memang sampai ke bumi dan ditangkap mata manusia. Tapi manusia belum tau apakah bintang itu masih ada atau sudah hancur lenyap.
Ada jarak yang sangat jauh. Trilunan hingga sekian tahun cahaya. Yang bahkan tidak bisa di bayangkan seperti apa pangkat jarak jauhnya. Bintang-bintang yang terlihat setiap malamnya, hanyalah cahayanya saja. Wujudnya, entahlah. Jika bintang-bintang itu jutaan tahun cahaya jaraknya dari bumi, maka boleh jadi cahaya yang terekam sekarang di mata manusia adalah cahaya jutaan tahun lalu. Sedangkan cahaya bintang itu saat ini baru sampai ke bumi jutaan yang akan datang.
Malam ini, aku hanya menangkap beberapa saja yang masih bisa menembus gumpalan awan hitam. Satu dua bersinar redup. Berapa usiamu, hei cahaya? Seribu tahunkah? Jutaan tahunkah? Lelah kah hei cahaya karena bertahun-tahun melintas ruang hampa udara, menyisir gelapnya semesta, melewati meteor dan komet, bertemu planet-planet lain, hingga sampailah ke bumi? Mengapa ada jarak yang jauh sekali hanya untuk setitik tampak di bumi?
Meski hanya titik-titik dalam kanvas langit hitam. Tidak ada yang cacat dari langit malam yang penuh bintang-bintang sebagai penghias. Ada yang membentuk rasi. Penunjuk arah ketika tersesat dalam perjalanan. Penghilang rasa penat saat kesusahan. Pembuka jalan tentang pengetahuan sekian tahun cahaya.
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.”
(Al-Mulk; 5).

“Dan Dia ciptakan tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapatkan petunjuk.” (An-Nahl; 16).
Bintang dalam pandangan satu dimensi mata manusia begitu tampak indah serta pengetahuan tentang sekian tahun cahaya adalah rahasia indah yang terungkap selanjutnya. Siapa yang bisa membayangkan melewati sekian juta tahun dalam sebuah perjalanan menuju tempat tujuan? Maka betapa hebat dan besarnya penciptaan bintang bercahaya itu. Yang terserak dalam orbitnya di antara semesta. Yang terus berputar sebagai kepatuhan terhadap pencipta-Nya. Lalu seberapa luasnya alam semesta? Jawabannya pasti luas sekali.  Tengok saja kata para ilmuan tentang begitu jauhnya tempat tinggal kita di antara banyaknya bintang dan benda angkasa lainnya. Bumi hanyalah seperti satu nano butiran debu. Atau entahlah aku tak bisa menggambarkan seberapa kecilnya bumi di antara semesta.
Dan manusia harusnya mengambil pelajaran.  Tentang sekian tahun cahaya itu. Bahkan manusia pun menempuh perjalannya sendiri, di bumi ini, meskipun tidak selama cahaya. Singkat perjalanan, orbit kita yang di bumi, sudah digariskan, terkadang menyenangkan tetapi banyak yang melelahkan. Tapi jangan lupa kita bisa membuat perjalanan kita begitu bercahaya sama seperti bintang. Bagaimana? Salah satunya adalah menjadi seseorang yang bermanfaat dan menginspirasi yang lain. Senyum kita, kata-kata kita, dan perilaku kita, jadikan semua itu bersinar. Terima kasih bintang, terima kasih Allah.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pena Biru - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -